Photobucket

Friday, February 11, 2011

Renunganku : Tari Dan Emak Salamah

“Saya sudah sangat kesal dengan dik Tari ini, mbak… gimana dong mbak? Mbak kebayang khan perasaanku ?”, keluh Kak Sari padaku.

Saya tertunduk lesu, rasanya Saya masih memiliki iman yang rapuh, tak punya kekuasaan apa-apa untuk mengubah prilaku Tari, seorang saudari yang hingga usianya sudah 22 tahun, tingkah lakunya masih seperti anak Es-Em-Pe. Cara bermanjaannya sudah berlebihan, dibangunkan subuh untuk sholat begitu sulit. Saat dinasehati baik-baik oleh orang tua dan saudara-saudaranya, ia dengan mudah melempar jawaban sesuka hati, yang terkadang sangat menyakitkan pendengarnya. Sudah setahun lebih bekerja di tempat yang baru, sebuah café&restoran besar di kota metropolitan, namun tetap tak bisa mengatur waktu dengan baik, orang tua berharap ia bisa seperti kakak-kakaknya yang belajar mengelola jadwal harian, memiliki manajement waktu dengan baik, tidak asal “hilang dan muncul” di rumah tanpa diketahui keluar “maennya” dimana. Dan di off-day kerja, ia pergunakan untuk “pacaran time”, bukannya membantu Sang Emak di tokonya, atau merapikan rumah, atau membantu bapak membersihkan motor yang tiap hari bertugas mengantarnya ke tempat kerja.

Dan Sang Emak makin mengelus dada, “pacaran timenya” bisa berlanjut mengobrol di rumah hingga larut malam, padahal anak-anaknya yang lain tak ada kamus “pacaran” dalam hidup mereka. Semua menikah dengan perkenalan singkat dan tidak memiliki sejarah “pacaran ala Tari”, apakah ciri modernisasi itu begini yah, pikir Emak. Makanya Emak lebih banyak diam dan mengalah kepada si bungsu Tari, takut kalau malah dik Tari sakit hati dan tersinggung dengan perkataan emak yang sebegitu sering diulang-ulang. Lantas Saya berpikir, apakah sudah semakin dekat kiamat, nih yah, kok sekarang malah ortu jadi “berasa takut” menasehati anaknya. Astaghfirrulloh… :-((


Lanjutannya baca di oase iman-eramuslim sini yah sobat-sobat... :-)

pic : anak-anak sholeh sedang bermain, ntar kalo' udah gede, jangan seperti Tari yah sayang... amiin.

Salam Ukhuwah dari Krakow, Barokalloh with family :-)

5 comments:

Abi Sabila said...

Permasalahan seperti ini dapat dengan mudah dijumpai di masyarakat ( astaghfirulloh ! ). banyak " Tari-Tari" lain yang sungguh memprihatinkan. Mereka berpendidikan, tapi kebodohannya terlihat nyata. Mereka modern, tapi jahiliyahnya menonjol. Mereka beragama, tapi sekedar label saja. Astaghfirulloh, tanda-tanda akhir jaman semakin terlihat di mana-mana, semoga kita dan keluarga kita termasuk yang diselamatkan dari 'gonjang-ganjing' akhir jaman. amin.

Edo said...

Ini cerpen ya...??
n.nv

bidadari_Azzam said...

Astaghfirrulloh, iya abi Sabila, shadaqta. Sungguh miris dan sakit rasanya menyaksikan ortu-ortu yang di"siksa" oleh Tari-Tari seperti ini. Apalagi jika kita telah melihat bahwa selama ini para ortu tsb adalah orang yang sholeh dan berusaha menanamkan pendidikan terbaik buat anak-anak mereka.

Semoga Allah SWT mengaliri hidayah-NYA selalu, Tari segera memperbaiki diri, dan buat kita---Semoga istiqomah memeluk hidayahNYA, amiin...

@ dik Edo, bukan cerpen. :-) Semua tulisan artikel Saya tidak ada yang fiktif seperti cerpen. Semuanya Saya tulis dengan sepenuh hati, melalui ragam pengalaman dan kisah nyata untuk dipetik hikmahNYA buat kita semua. Wallohu 'alam bisshowab.

Syukron jazzakumulloh khoir atas kunjungannya...

Hamba Allah said...

Mudah-mudahan masih sempat penyesalannya datang dan bertaubat sebelum terlambat, muda-mudi zaman sekarang banyak salah mengartikan cinta, sist.

Anonymous said...

Bagusnya sih Tari-Tari kayak begitu, cepetan mati aja kena kanker kek, kena HIV kek, kena samber gledek kek.... kan oke tuh... :-)