Photobucket

Thursday, December 29, 2011

Berani Memaksa Allah ?






Assalamu'alaykumwrwb...

Tadinya merasa amat tak nyaman dengan kondisi para suami-istri muda (ada pula sih para nenek dan kakek) yang sering mengomentari kelahiran bayi teman-temannya dengan kalimat yang menyiratkan makna kurang bersyukur, misalnya saat saya melahirkan mujahid ketiga kami, komentar yang langsung kuhapus itu adalah, "Whats?!!! cowok lagi? ckckck.... hayoo... tambah lagi, siapa tau ntar dapetnya cewek..." (*gubraks!* Kalau bayiku udah gede dan membaca komentar itu, bisa saja sakit hatinya. Dan memangnya kalau punya anak cewek itu sudah ada jaminan surga-kah? apa ada riwayat dan dalil yang menyuruh kita untuk harus punya anak cewek atau harus punya anak cowok, misalnya? Waduh, mentang-mentang Allah ta'ala Maha Pemurah, Maha Pemberi, kita sering memaksa-maksa untuk memperoleh sesuatu sesuai keinginan kita). Juga tatkala sahabatku lainnya yang melahirkan kembali, dan anaknya malah cewek semua, "Selamat yah.... gak apa-apa, cewek lagi, ntar kalau hamil lagi, mungkin dapet cowok deh...hehehehe", atau kalimat, "Wow! ayahnya belum ada saingan!", padahal bisa saja diubah dengan kalimat yang lebih baik, "Wah...ayahnya paling ganteng di rumah dan dikelilingi para bidadari...hehehehe, semoga selalu berkah dan solid, amiin".

Menjaga anak-anak adalah tugas berat, mendekap & merawat anak cowok atau cewek itu sama berat, amanah-Nya...

Tak menyangka akan dimaknai berbeda bagi beberapa pembaca, namun tentu diriku amat bersyukur, Alhamdulillah menerima saran dan kritikan, sebab dengan hal itu merupakan bukti cinta sebagai saudara dalam ikatan ukhuwah di jalan-Nya, :-) tulisanku tentang "Berani Memaksa Allah?" ini dapat dibaca langsung di Oase Iman Eramuslim yah... :-)

Sependek pengalaman hidup dengan menemui ragam peristiwa didikan-Nya, saya amat sering berdo'a, "Ya Allah, limpahkanlah segala yang terbaik buat diri hamba, yang menjadikan hamba makin dekat dengan-Mu, makin mencintai-Mu dan tetap taat pada-Mu...". Amiin.

Wassalamu'alaykumwrb, Salam Ukhuwah dari Krakow! (^-^)

Wednesday, December 7, 2011

Saat Refreshingku Adalah... ^-^ ❤






Ketika dering alarm subuh berbunyi, menuju kompor dan memasak air berikutnya langsung ke WC, bersih-bersih muka dan badan, segar! Lalu kulantunkan do'a, betapa indahnya anugerah hari-Mu, Bismillah...

Ketika batal menikmati segelas teh hangat, karena bayiku sudah harus ganti popok, pas banget dia 'pup', bunyinya seru, ;-P hehehe.... (teh bisa dihangatkan, gampaaang... namun kalo' nyebokin yang ditunda-tunda, fatal dampaknya, bo'!)

Saat refreshingku adalah ketika melihat si abang dan si adek tertawa bersama gara-gara mobilan bebeknya itu berjalan... dan si emaknya juga 'dituntut' bergaya seperti mobilan bebek tersebut... :-D

Saat refreshingku adalah ketika bang Sayyif memohon dengan mata sayunya supaya masih bisa nenen bareng adeknya, terus pada saat mereka nenen bareng, si adek udah bisa menjambak rambut bang Sayyif, lalu si abang ini malah tertawa menggoda, dan 'ngikut' nenen makin lama... hehehe

Saat refreshingku adalah ketika dua bayi ini mengobrol dengan bahasa bayi, seru banget deh obrolannya! Dan kadang-kadang kejedot barengan, trus pelukan erat barengan dengan emaknya, sambil main 'klitikan' tentu! hehehe.

Saat refreshingku adalah ketika baju mereka kotor karena gumoh atau abang makan sendiri, mereka bermain bungkus tisu basah, sementara aku mengelapi muka dan badan mungil mereka, seraya menyiapkan baju ganti, hati ini berkata, "Waah, badan kalian makin besar... cepat sekali waktu berlalu... [mellow dah]"

Saat refreshingku adalah ketika membantu si kecil mencuci tangan atau menggunakan tisu usai makan, atau membongkar lemari dapur---mencari biskuit dan camilan lainnya, mereka tiap detik pun menyodorkan pipi dan kening---minta diciumi! aku malah menciumi leher atau perutnya, hehehe.

Saat refreshingku adalah ketika menunda makan siang karena jagoan kecilku minta dikeloni emaknya, kalau belum nyenyak tidurnya, minta didekap erat, belum mau ditinggal... :-D

Saat refreshingku adalah beberapa menit on-line, trus membaca 'status' aneh teman-teman, ada kalanya status tuh lucu banget, misalnya "Bolehkah aku mencintaimu?", atau "Mau minum apa yah enaknya?", atau "Koq bisa?", atau "OMG, anakku kejedot!" (?) atau, "marah mode ON", atau "Jangan menyumbangkan lagu, karena lagu yang sumbang kan jelek...", dll. Sumpah, ngakak kadang-kadang... atau senyam-senyum saja, soalnya ada yang lucu beneran, ada pula yang bikin pikiran berkelana, "koq sempat nulis status?", hihihi....

Saat refreshingku adalah tatkala membalas email-email dan sms satu persatu atas kiriman pesan saudara-saudariku di berbagai area, :-) anak-anakku menemani juga lho di depan kompi ini :-P

Saat refreshingku adalah mengulang hafalan meski masih yang itu-itu saja... (tersimpan do'a mudah-mudahan gak lupa...), di tengah keseriusan dan ayat nan terbata-bata, seringnya harus mondar-mandir ke dapur, kran air, gantiin popok, atau mengambilkan minum si abang kecil... jadi benar-benar senyum sendiri, "Oh, it's refreshing!"

Saat refreshingku adalah berempil-empilan di bus ketika menjemput abang Azzam sekolah, mengejar-ngejar selimut bayi yang diterbangkan angin, atau menahan nafas ketika banyak anjing yang menumpangi kereta api, duuuh, anjing-anjing orang Krakow ada yang segede kungfu Panda! (bayangkanlah....:-D), si emak anak-anak ini amat sangat berefreshing-ria!

Saat refreshingku adalah mengelus dada ketika ada bibir sinis mencerca, bahkan disangka orang gila gara-gara 'kain lilitan di kepala', atau dikira pengungsi tatkala bayiku rewel di tengah ramai seraya menarik-narik hijab emaknya, :-D hehehe.

Saat refreshingku adalah menikmati banyak peristiwa, syukur-syukur masih bisa meluapkannya dalam tulisan... yah, refreshing itu indah...

Saat refreshingku adalah mendengar teriakan ceria Zuhud dan Sayyif ketika sang ayah dan abang pulang ke rumah, hehehe, benar-benar mengesankan, suara-suara bayi tuh bagaikan musik merdu buatku!

Saat refreshingku adalah ketika duduk sesaat dan memperoleh 'kritikan si abang', bunyinya : "Ajarin dong mi.... nih bahasa Polish nih, abang gak ngerti...", meski jawabku : "Google translate aja...", katanya : "Translate-in dong mii....", aiiih.... :-D

Saat refreshingku adalah mencicipi roti bakar dan nasi goreng buatan kekasih jiwa, seraya berbaring di kasur lantai, sebelah kanan ada bang Azzam, memijat lenganku. Sebelah kiri ada bang Sayyif memijat lengan pula. Di atas dada ada Dek Zuhud yang berceloteh gembira, sesekali bersendawa, aiiih senengnya! ^-^ ❤ Tambah senandung tilawah dan muroja'ah... Oh, Cinta...

^-^ ❤ Saat Refreshingku Adalah... senyap diguyur wudhu dalam kamar mandiku, basahi wajah dan hati dengan cahya-Mu, lalu bersujud bersama---sholat berjama'ah, jelang malam, persiapan kalau-kalau tidur dengan menutup mata selamanya...

Bersyukurlah teman-teman, dalam desahan nafas kita ketika hari ini (keadaan single-kah kamu, double, triple atau quarto, hehehe), masih bisa refreshing euy, ;-))


Syukron Jazzakumulloh khoiru jazza buat yang sudah berbagi do'a, yang sudah membaca dan mengiringi salam cinta... Semoga Allah meridhoi segala amalan kita buat perbekalan di yaumil hisab... :-)

Barokalloh!

Belajar Hikmah dari Roti





Bismillahirrohmaanirrohiim...
^-^ ❤ Sebenarnya ini adalah artikel lamaku sewaktu baru-baru belajar membuat roti, hehehe...

Kuperhatikan sosok bulat itu, Roti. Lega dan puas saat menyaksikan Suami dan Anak-anak menyantap roti daging sapi itu. Enam bulan lebih kami tidak menikmati daging, sebab di Krakow tak ada daging yang dipotong secara syar’i.


Alhamdulillah, seminggu lalu Allah SWT mempertemukanku dengan Muslimah yang Suaminya pengusaha daging halal~daging yang dijualnya adalah daging Sapi halal, yang disembelih sesuai syariah Islam di Warszawa, lalu dikirimi ke kedai-kedai Kebab berbagai Kota di Poland ini. Sungguh luar biasa, hikmah-NYA selalu indah. Kini kutatap dengan bahagia piring-piring yang telah kosong~roti daging sudah habis disantap “para pelanggan setiaku”. Alhamdulillah…

Masih kuingat “alam pikiranku” bermain-main saat membuat roti tadi. Dengan basmalah kumulai membuatnya, di dapur miniku yang sangat menyenangkan. Ada rasa tak tega saat mengocok-ngocok telur, mengaduk-aduk tepung dan mentega, lalu mencampur dengan ragi, gula, garam, dan bahan-bahan lain…

Lalu saat adonan telah tercampur, bahan roti itu harus kuuleni hingga kalis, kutekan-tekan, kupukulkan pada telenan, lalu diuleni lagi, lalu dipukul-pukulkan lagi, uleni lagi, dan terus diuleni hingga kalis. Dalam hatiku, kalau roti ini bisa bicara, pasti dia menjerit, “Awww, sakiiit!”

Apalagi saat telah kalis, harus ditutup di baskom atau wadah yang rapat (sambil ditutupi handuk/serbet), aku masih sibuk berpikir, kalau saja dia bisa bicara, pasti dia menangis, “Duh, huaaa…huaaa… gelapnya…!”

Terima kasih Eramuslim, kami mau melanjutkan bacanya di Oase Iman-Eramuslim, sip deh... ;-)

Salam Ukhuwah dari Krakow! Barokalloh selalu...

Monday, December 5, 2011

Kabar Si Dua Bayi.... :-D




Alhamdulillah 'ala kulli hal!

Bang Sayyif pas udah masuk pre-skul sejak oktober lalu, eh langsung jadi tertib, cara makan-minumnya tambah rapi, lho.... (^-^) Banyak prakaryanya, lucu-lucu dan unik, bang Sayyif suka banget main alat-alat pertukangan & mobil traktor di sekolah. Tapi kalau weekend, ia jauh lebih manja, mau nempel-nempeli ummi-abi dan bang Azzam, serta adeknya, bergulung-gulung di selimut, minta diciumi ribuan kali, ciumnya pake' bunyi, mmmuach, mmmuach gitu... Hehehehe. Trus, kalau ada tamu/teman-teman kita, pas say bye-bye tamunya mau pulang, dia bantuin tamu tersebut mengambil jaket, sepatu atau tas si tamu. :-) Dan dia minta dipeluk dan dicium serta kisses-bye-nya gak ketinggalan... Dan gak puas cuma sekali-dua kali, pokoknya berkali-kali big-hugs sama dia, jelas aja semua orang makin gemesss sama bang Sayyif...

Dan si Dedek Zuhud, Oalaaah, baru 5 bulan usianya tempo hari, sudah bisa merayap dan ngamuk kalau 'mainannya' diambil... Tapi mainannya bukan si busa jamur, bantal boneka, bola monyet atau krincingan, :-( kayaknya gak level deh... Zuhud ngincer plastik bungkus tisu basah (kan ada bagian yang tajam pinggirannya! :-( hu hu hu....), trus kertas (senang dirobek-robek, hiks...makanya harus diawasi melulu, takut kemakan serpihan kertas...), Al-Qur'an...(Wuaaaargh.... sedihnya kalau sampai robek---kudu extra diawasi makanya sering cepetan diumpetin biar si dedek gak lihat, qur'an terjemahan yang kita punya kan ada risleting kayak dompet gitu, itu sangat menarik hatinya...), kadang-kadang ia mainin kaos kakinya (yang dilepas sendiri atau dia tarik-tarik selimut dan digigitin...). Bravo Baby Zuhud, Alhamdulillah...sekarang Lulus ASIxnya, pas 6 bulan, :-)

Meskipun nih bayi berdua nenennya barengan sampe' emaknya tepar... karena kudu kesana-kemari (jemput abang sekolah dan jadwal lainnya, pulangnya kan ke dapur-masak dan makan lagi, nenenin lagi... terus masak lagi dan ngemil lagi...) hehehe, tapi aq tetap senang, apalagi kalau udah menjelang malam, suasananya jadi romantis. Sebab di lengan kananku, ada tangan bang Azzam yang mijitin, di lengan kiriku---ada tangan mungil Sayyif yang juga mijitin (suer! enak juga lho pijatannya! :-P, di atas dadaku ada tubuh mungil the baby Zuhud (ini terapi sehat alami, suara jantungnya terdengar merdu...), dan si Abu Azzam sedang gantian di dapur, bantuin menyiapkan teh serta nasi goreng... ❤(^-^) Memang asyik banget kalau kompak! Semoga Allah ta'ala mengekalkan kekompakan kami hingga akhirat, amiin....

O-iya... ternyata pangeranku mengirimkan hadiah tulisan ini... Buat Bidadariku, Makasih yah kakanda sayang, ;-) *sebentar....eits jangan sampai melayang-layang nih*, ;-P karena ternyata tulisan tersebut malah bikin tambah cembokur bagi si-ex-ex zaman dulu, :-)) (yeeeh, Abu Azzam sih banyak penggemar, hehehe). Ehem, ❤(^-^) namun kuakui, sosok imam disisiku merupakan sahabat yang amat penyabar, dialah yang menularkan kesabaran padaku, yang mengingatkan kalau-kalau suatu waktu aku masih mengeluh, yang memberikan pelukan tulus kalau daku lagi 'ngamuk-ngambek atau kesal', dan dari dialah daku belajar lebih mandiri, lebih dewasa dan lebih rajin menata aktivitas sehari-hari serta mawas diri ketika menata emosi.

Ingat-ingat selalu sabda rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, “Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta benda. Tetapi, kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati).”


Kapan-kapan sambung lagi deh... (serius! masih belum bisa komitment kalau disuruh menyusun buku buat diterbitkan, jadi mohon banyak-banyak dido'ain saja....) Barokalloh, Salam Ukhuwah... ❤(^-^)

Ummi, Duitnya Cukup Gak?



Pertanyaan itu muncul dengan spontan, “Temanku bilang, Mamanya harus kerja siang dan malam karena duit Papanya tak cukup buat beli makanan dan keperluan yang banyak. Kalau Ummi, duitnya cukup gak?” ada-ada saja Si Lucu yang satu itu, jawabanku juga sambil bercanda, “Alhamdulillah cukup, memangnya Abang mau nambahin duit belanja Ummi?”

Sambungnya, “Iya, nanti kalau sudah besar, aku kerja lap-top-an kayak Abi. Trus kan nanti ada duit buat nambahin duit Ummi, hehehe”, “Gak usah, duit Ummi cukup, Ummi gak mau tuh minta duitnya Abang…” kataku. Sulungku kaget, “Lhooo, kenapa Mi? kan enak kalau banyak tabungan di bank? Tabungan Ummi udah banyak yah…bilang dong sama Abang?” Kalau diladeni, pertanyaan ini akan panjang kayak gerbong kereta api.

“Ummi cuma minta supaya anak Ummi jadi anak sholeh, disayang Allah. Gak perlu ngasih Ummi duit, Ummi nanti dikasih Allah hadiah yang lebih besaaar…” kukedipkan mata seraya kembali ke dapur, sebab kemarin sulungku itu memang mengembalikan uang jajannya buat tambahan duit belanjaku! (Jadi uang itu dipakai buat membayar jajan rotinya sendiri) Ia amat peduli, katanya temannya bilang, “Kamu beruntung, gak diasuh oleh Nanny (pengasuh anak), karena Mama kamu kan kerjanya di rumah saja. Tapi kalau mama kamu kekurangan duit kayak Mamaku, bisa juga sih kamu juga dititipkan pada pengasuh kalau usai jam sekolah…” masya Allah anak-anak zaman sekarang tambah cepat saja menularkan pemikiran. Pernah Saya memberinya uang beberapa zloty Poland sekedar untuk membeli air putih kalau bekal air minumnya habis. Ternyata uang itu tak dibawanya. “Kalau gak penting, gak usah bawa duit Mi… kemarin duitku jatuh 1 zloty karena mainnya lompat-lompat, hilang deh…” ujarnya.


“Jadi, Abang simpan di laci Abang yah?” ujarku. “Iya, Abang kumpulin aja, nanti buat beliin Ummi bunga. Di sekolah kan udah bawa makanan dan minuman dari rumah. Kalau air putih habis, kan ada di dapur Bu Guru. Ada gelas air putih dan buat teh Abang di kelas…” katanya. Hehehe, benar juga, memang di sekolahnya, tidak perlu jajan.

Duit bagi sebagian besar manusia, bagaikan pemegang kekuasaan tertinggi (di-Tuhan-kan). Semua urusan lancar, prosedur yang berbelit bisa mulus dan licin, kesulitan dan ganjalan bisa berjalan mudah karena perkara duit yang biasa disebut ‘kemenyan tambahan’. Duit bisa dikejar-kejar, dijadikan impian. Kalaulah nurani kita masih sesuci anak-anak seperti Bang Azzam, mungkin masih selalu berkata, “Lhoo, duit ini buat apa?” (dengan muka polosnya), jika ada yang ujug-ujug ngasih duit.


:-D Seperti biasanya, lanjutannya sambung baca di link Oase Iman Eramuslim yah :-)

Barokalloh ^-^

Wednesday, November 23, 2011

Akhirnya “Ketahuan” (2)




Lanjutan yang kemarin, lho, friends...

Tak peduli setinggi apa nilai akademik yang telah diraih, sebanyak apa pun bintang penghargaan yang tertempel di badan, seberapa kali pun berhaji, umroh dan berkurban, sepanjang apa pun gelar sarjana, master dan professor pun, kita tetap manusia yang merupakan hamba-Nya nan lemah. Tanpa iman, kita terhina, tiada arah tujuan hidup. Tanpa saling menasehati, hati hampa dan amat mudah terjerumus ke lembah neraka.

Silakan baca di link Oase Iman-Eramuslim ini yah :-)

Semoga kita terjauh dari hal sedemikian, amiin...

Semua kita bisa lupa, bisa lalai, kejadian seperti mereka bisa saja menimpa semua insan. Namun, tentunya kita harus optimis, harus mengokohkan kekuatan hati bahwa Allah ta’ala senantiasa melimpahkan perlindungan terbaik-Nya. Hamba-Nya yang terbaik bukanlah yang tiada berdosa, bukan yang tidak pernah salah, melainkan hamba yang senantiasa bertaubat. Semoga kita merupakan golongan hamba-Nya yang selalu bertaubat, yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, aamiiin, yaa Robbi.

Dan menapaki hari harus tetap bersabar, banyak ujian, godaan, silih berganti celaan, dan juga hiburan. Semua itu dapat kita lalui dengan kesabaran. Allah SWT memang selalu mengingatkan kita untuk bersabar, “Dan bersabarlah dirimu untuk selalu bersama orang-orang yang menyeru kepada Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (Karena) mengharap perhiasan dunia...” (QS. Al-Kahfi [18] : 28)

Wallahu’alam bisshowab.


Salam Ukhuwah (^-^)

Tuesday, November 22, 2011

Akhirnya “Ketahuan” (1)


Di sebuah desa, sudut pulau Jawa, daerah asal salah seorang temanku, ada sebuah aturan yang disepakati para penduduknya, dipatuhi bagaikan Undang-Undang resmi, yaitu “Jika ada masyarakat desa tersebut yang berzina, harus bayar denda sekian, dan sekian”, jumlahnya tergantung ‘pengadilan masyarakat tersebut’. Dan hasil denda itu akan dipergunakan untuk merenovasi segala fasilitas publik di desa itu, misalkan untuk membangun jembatan, merenovasi sistem irigasi, dan lain-lain.

Banyak cerita pilu di desa itu, terutama efek dari penilaian harta benda memang masih dijadikan indikator kesuksesan seseorang, maka segala cara dihalalkan demi memperoleh nominal rupiah sebanyak-banyaknya.

Salah satu kisah Pak Fulan, dia menjadi karyawan sebuah perusahaan yang kantor pusatnya di Jakarta, Istrinya yang masih belum hamil sejak pernikahan mereka menginjak tahun ke-3, akhirnya sering ditinggal oleh Pak Fulan saat dia harus banyak dinas di Jakarta.

Karena sang Istri (meskipun tak ikut ke tempat tugas) ‘dititipkan’ ke saudara-saudara Pak Fulan yang memang ‘wong kampung asli’, Pak Fulan merasa hubungan mereka aman-tentram saja. Meskipun beberapa bulan sejak ia dinas di Jakarta, banyak tetangga berdesas-desus bahwa sang Istri berselingkuh dengan salah satu ketua RT—mereka, yang mana tentunya miris, sebab ketua RT itu kan juga merupakan salah satu orang yang disegani di desa itu, sekaligus salah satu pembuat Undang-Undang unik mereka.

Setiap pulang kampung, Istrinya tetap bersikap manis, keluarga Pak Fulan pun ‘percaya-gak percaya’, belum bisa membuktikan desas-desus yang beredar, khawatir malah jadi fitnah, maka kabar perselingkuhan itu diabaikan saja.

Suatu hari, Pak Fulan ‘mudiknya’ dadakan. Malam minggu, ia tiba di rumah. Dengan sisa kantuk, Istrinya menyiapkan teh panas, lalu sang Istri tidur kembali. Pak Fulan sholat Isya’ usai menghabiskan minumannya, kemudian ia tidur di atas tikar, di samping ranjang Istrinya. Semua lampu dimatikan, hemat energi.

Malam itu, seseorang mengendap-endap ke arah rumah Pak Fulan, tampaknya orang itu sudah terbiasa melihat dalam gelap. Orang itu membuka pintu rumah yang memang ia punyai kunci serepnya! Ketika orang itu masuk kamar Pak Fulan, kakinya terinjak tubuh Pak Fulan yang terbaring di atas tikar. Adegan jadi seru. Otomatis Pak Fulan menjerit, orang itu pun jejeritan, “Awwwww!”. “Siapa itu, maling?!” Secepatnya Pak Fulan menghidupkan lampu, dan orang itu lari terbirit-birit. Sekejap saja Pak Fulan sudah melihat wajahnya meskipun tak mengejar orang tersebut.

Si Istri terbangun dengan mimik wajah malu, tampaknya ‘malu’ yang terlambat, wajahnya penuh penyesalan, ia menangisi perselingkuhan yang selama ini terjadi, Pak Fulan tak menyangka, ternyata desas-desus itu tak hanya kabar angin, Pak RT—alias tetangga dekatnya memang sudah terbiasa memasuki kamar Istrinya, bahkan hanya berkain sarung, sungguh keluarga Pak Fulan berduka, bagaikan dilanda ombak tsunami.


Hffffiuh, Astaghfirrulloh, smoga kita terjauh dari hal seperti kisah pasangan tersebut, amiin... Lanjutkan bacanya di link Oase Iman Eramuslim, seperti biasa :-)

Semoga selalu bersyukur, Salam Ukhuwah!

Monday, October 31, 2011

Cara Islam Adalah Cara Alami Dalam Mendidik Buah Hati


muslim kids, subhanalloh...


Segala puji bagi Allah ta’ala yang senantiasa melimpahkan penjagaan terbaik-Nya kepada kita, membimbing kita dalam menunaikan amanah-amanah sepanjang waktu, selalu mencurahkan kasih sayang setiap detik nan terlewati.

Buah hati yang merupakan permata dunia selalu dirindukan oleh semua orang tua di dunia. Bahkan di Eropa tatkala para wanitanya mengalami ketakutan melahirkan atau tidak ingin hamil serta melahirkan, tetaplah mereka merindukan buah hati, lantas jalan ‘pintas’ diambil, yaitu mengadopsi, yang mana anak yang diadopsi benar-benar secara sah (di mata hukum negeri tersebut) merupakan anak ‘hak milik’ keluarga yang mengadopsinya, tak boleh diganggu gugat oleh orang tua kandung si anak sampai kapan pun. Meskipun di mata Allah SWT, hal itu tidak sah, yah karena sifat ‘mau enaknya doang’ adalah sifat kebanyakan manusia, maka budaya adopsi masih terus terjadi.

Padahal anak-anak yang ‘merasa dimiliki’ tersebut, biasanya diletakkan di tempat penitipan bayi jika kedua orang tua bekerja. Sedari kanak-kanak, diarahkan untuk memiliki beragam atraksi dan ragam keahlian yang gunanya untuk ‘membanggakan orang tua’.

Dalam momen “Friday Nasiha”, brother Abdul Wahid Hamid mengingatkan kaum ibu sholihat agar tidak terwarnai budaya ‘trend-trend-an’ ketika mendidik anak. Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam telah menjadi teladan sepanjang zaman, termasuk cara bersikap yang dicontohkan beliau dalam mendidik anak-anak. Cara islam merupakan cara alami, dan tetap yang terbaik.

Dalam tarbiyyah anak-anak, “Duhai ibu dan bapak, kita harus ingat bahwa anak-anak sering belajar dari contoh. Perilaku yang tepat dan contoh dari orang tua sangat penting dalam membesarkan anak-anak”. Orang tua yang mengharapkan anak-anak mereka untuk berdisiplin dan bekerja keras, yang harus terlebih dahulu disiplin & bekerja keras adalah sang orang tua. Orang tua yang mengharapkan anak-anak mereka untuk jujur, maka kita sebagai orang tua berupaya menerapkan kejujuran diri dan memperhatikan pengaruh pertemanan yang terbiasa jujur.

Dulu saya pernah mencetuskan omongan, “Saya ingin anakku ini cerdas dan nantinya khatam al-qur’an…” Lantas adik juniorku masa kuliah pun mengingatkan, “Naaah, Ummi… Kalau mau anaknya khatam qur’an, ayah ibunya juga khatam qur’an duluan donk…hehehehe”, Subhanalloh, benar juga, alangkah egoisnya diri ini kalau mau ‘nitipin anak’ ke pesantren demi khatam qur’an, tapi ayah ibunya masih punya hafalan qur’an yang itu-itu saja. Astaghfirulloh…

... lanjutannya seperti biasa disini yah : Link Oase Iman-Eramuslim, :-)

Di tengah hiruk pikuknya ragam metode pendidikan anak, tarbiyyah yang tepat adalah bahwa anak-anak harus selalu mencintai Islam, cinta kepada Allah ta’ala dan Nabi-Nya (sallallahu ‘alayhi wasallam) dan bahwa mereka dapat mengembangkan rasa bangga menjadi Muslim dan kemauan untuk berjuang, sebab hidup merupakan jalan perjuangan.


Blog ini sedang jarang di-update sebab Saya memang harus mengenyampingkannya akibat tambahan jadwal harian lainnya. Syukron jazzakumulloh khoiru jazza atas email, sms, serta kunjungan online ini dan untaian do'a kalian selalu... Selamat berjuang! Barokalloh...
Salam ukhuwah dari Krakow... (^-^)

Tuesday, October 11, 2011

10 “Limbah” Diri


Assalamu'alaykumwrwb...

Sebagai pengingat diri yang banyak khilaf ini, saya ambil artikel muhasabah dari Oase Iman-Eramuslim link ini, :-)

Segala puji bagi Allah ta’ala, Rabb seru sekalian alam. Shalawat serta salam tercurah kepada baginda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, para sahabat serta pengikut beliau hingga akhir zaman.

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, lebih populer berupa limbah padat, disebut sampah. Selain mengingatkan tentang memahat rasa malu dalam jiwa serta senantiasa cinta kepada Allah ta’ala sebagai ‘tameng’ untuk menjaga diri agar terhindar dari maksiat, Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah menasehati murid-muridnya untuk menghindari “Limbah diri”.

Berdasarkan pelajaran dari Ibnu Qayyim al-Jawziyyah itu, ada sepuluh hal yang terbuang alias menjadi limbah dari sosok-sosok hamba-Nya yang lemah, sebagaimana diri pribadi kita, yaitu:

1. Pengetahuan, Terbuang percuma ketika hanya sebatas ‘tahu’, tidak memperdalam agar menjadi lebih paham, tidak pula bertindak, tidak mengamalkan pengetahuan tersebut, bahkan tidak peduli pada orang lain yang belum berpengetahuan.

2. Amalan kita, Ternyata bisa ‘terbuang’ jika dilakukan dengan ‘harap-harap pamrih’ alias tidak tulus ikhlas.

3. Harta Kekayaan, memang sudah pasti ‘terbuang’, tak dapat dibawa mati. Namun bila uang, status kedudukan dan memiliki kekuasaan lalu dipergunakan untuk kemuliaan Islam dan ummat, dibelanjakan dengan penuh manfaat, dan beragam ‘tabungan akhirat’, insya Allah akan ‘bebas limbah’, yang didapat adalah perbekalan buat kehidupan akhirat.

4. Hati, hati kita terbuang karena kosong, menjadi limbah ketika jauh dari kasih sayang Allah ta’ala. Seharusnya perasaan kerinduan untuk senantiasa pergi kepada-Nya, berada di jalan-Nya dan perasaan damai serta kepuasan, penuh kesyukuran atas segala peristiwa skenario-Nya. Astaghfirrulloh, hati kita dipenuhi kebimbangan, kerinduan dengan sesuatu atau orang lain.

5. Tubuh ini, jasad terbuang sebelum ‘benar-benar terkubur’ karena kita tidak menggunakannya untuk beribadah, padahal semua aktivitas si tubuh harus diniatkan karena-Nya, sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

6. Cinta, jangan sembarang melukiskan maknanya, cinta emosional kita seringnya salah arah dan menjadi limbah, bukan cinta kepada Allah SWT, tetapi cinta terhadap sesuatu, impian nan berlebihan atau kepada orang lain. Padahal duhai diri, seharusnya cinta kepada-Mu selalu diutamakan, cinta kepada hal lain hanyalah nomor urut sekian dan sekian, sebagai sarana meningkatkan kualitas kecintaan kepada Sang Maha Cinta.

7. Waktu, ia termahal, dan paling sering terbuang, tidak digunakan dengan benar, lalu berteriak, “Oh, bagaimana ini? Adakah kompensasi untuk penggantian waktu itu?
Bagaimana mengulang yang telah berlalu?”. Duhai diri, tiada hal yang bisa mengulangi waktu—detik terus berdetak, mari jalankan amanah, dengan melakukan apa yang benar, memperbaiki diri terus-menerus untuk menebus perbuatan masa lalu, kelamnya hal buruk semoga tak terulang.

8. Akal kita, bisa jadi tiada guna alias terbuang pada hal-hal yang tidak bermanfaat, yang merugikan masyarakat dan individu, mencomot harta rakyat ketika ‘berkolusi dan memperkuat sindikat’, bukan mengasah kecerdasan agar membawa manfaat untuk izzah ummat, bukan menjadikannya sebagai sumber renungan dan peningkatan kualitas diri.

9. Pelayanan atau service, terbuang percuma ketika kita melayani keluarga, teman-teman, kerabat, dan sesama manusia namun ternyata hal tersebut tidak membawa kita makin dekat dengan Allah, atau hanya manfaat dunia ‘yang diimpikan’, padahal kita adalah ‘pelayan’ Allah, hamba-Nya, yang keseluruhan jiwa raga ini adalah milik-Nya. Seringkali kita lupa, merasa ‘sok hebat’ dengan memerintahkan Allah untuk selalu mengabulkan apa-apa yang kita mau, Allah limpahkan segala anugerah-Nya dari sejak kita berada dalam kandungan bunda, kalau banyak kesulitan ‘mengadu dan bersimpuh’ untuk minta dimudahkan-Nya, sedangkan kalau sedang gembira, bersuka cita dalam gelimang tawa tanpa mengingat-Nya, dan kita makin besar kepala, Astaghfirrullohal’adzim…

10. Dzikir, yang kita ‘dzikir’-kan itu terbuang kalau bukan dzikrulloh, karena tidak mempengaruhi kita, tak ada efek buat jiwa kita. Padahal seharusnya tatkala melihat kebesaran-Nya, memandang semua sudut alam-Nya, merasakan angin sejuk dan mentari nan hangat, dan mempergunakan indera lainnya, saat itu selalu ada dzikrulloh, dzikir kepada Sang Maha Kuasa tentu menentramkan jiwa, membuahkan kedamaian.
"Allah mempersiapkan pengampunan dosa dan ganjaran yang mulia bagi kaum muslimin dan muslimat yang berdzikir." (QS. Al-Ahzab [33] : 35)


Ampuni kami Ya Allah, kami tentunya tak ingin membawa limbah saat hari perhitungan kelak, bimbinglah diri ini Duhai Ilahi, hanya kepada-Mu kami memohon ampunan, dan perlindungan sepanjang masa.

Tatkala Allah ta’ala mengingatkan kita pada ayat-Nya,

(Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji." (QS. Ali-‘Imran [3] : 8-9)


Semoga kita dapat membenahi diri agar bekal buat akhirat senantiasa bersih dari limbah diri, saya ungkapkan pada diri sendiri, “tetaplah optimis sesulit apapun tugas yang dijalani, karena upah-Nya adalah cinta…”, wallahu’alam bisshowab.


Salam ukhuwah dan maaf lahir batin :-)

Friday, October 7, 2011

Zuhud-today, 4 months!




Alhamdulillah...
hari ini Baby Yazzuhud 4 bulan,
udah bisa merayap maju, sebab di usia hampir 3 bulan--ia bisa bolak-balik tengkurap,
sekarang sudah bisa 'ngamuk kencang' kalau gak diajak na spacer (na spacer itu jalan-jalan, kebiasaan disini, bayi harus diajak na spacer pagi dan sore supaya menghirup udara segar, euy...)

Alhamdulillah... tetap sehat-sehat yah mujahid kecilku, semoga Allah ta'ala membimbingmu slalu... (amiin ^-^ )

Wednesday, October 5, 2011

Dunia Begitu Menggoda




Masih ingat sepak terjang MD yang membobol dana nasabah bank? Ternyata, MD yang lain sebenarnya banyak lho, hanya saja korupsinya ‘secuil-an’ doang, dan bank tempat bekerja biasanya ‘menutupi aib karyawan’, jadi berita tentang mereka tidak sampai diumbar-umbar melulu oleh media.

Apalagi masalah akan membesar jika terkait merosotnya ‘kepercayaan publik’ terhadap bank tersebut. Di antara MD lain itu adalah O’on dan O’ot, dua teman lama semasa sekolah dari seorang teman dekatku.

O’on tadinya merupakan wanita karir yang cukup baik, bisa mengatur waktunya dengan bagus, waktu bersama keluarga dan waktu kerja di bank (yang jauh dari rumah) meskipun cukup melelahkan. Ia merintis jenjang karir itu dari bawah usai lulus sarjana ekonomi di perguruan tinggi yang keren.

Tatkala bersuami adalah “awal kehancuran” O’on, padahal seharusnya menjadi momen bahagia. Diawali prilaku ‘glamour dan bermewah-mewahan’ mengatur resepsi pernikahan mereka, tabungan ludes ditambah utang yang besar lantaran dana yang dipakai menjulang tinggi nominalnya, hampir 1 M rupiah. O’on dan suaminya memang amat mengejar popularitas, sehingga kalkulasi dana menjadi ‘error’ perhitungannya.


Setiap bulan, gajian selalu dipotong buat membayar utang tersebut sekaligus bunganya, padahal level di kantor tidak terlalu tinggi, sisa gaji hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Akibatnya, budaya ‘gali lobang-tutup lobang’ pun dilakoni, pinjam sana-sini, demi tercukupinya segala kebutuhan sehari-hari.

Temanku yang cukup dekat dengan O’on pun ‘ikut menguatkan’, mengirimi beberapa ratus ribu perak jika O’on benar-benar buntu. Sampai memiliki dua anak, situasi rumah tangga tak berubah, aneh, inilah penampakan manusia yang tidak belajar dari pengalaman sehari-hari.

Sungguh tragis, ketika kehamilan kedua, sang suami malah dipecat, pesangonnya pun masih belum cukup buat melunasi utang. O’on terbilang masih beruntung, karirnya menanjak, sedikit demi sedikit, utang mereka bisa berkurang. Tapi kondisi itu tak lama, dunia begitu menggoda baginya, apalagi ketika ia bertemu sobat lamanya, si O’ot. Keduanya jadi akrab kembali di tengah keramaian ibu kota, jalan ke mal barengan, menikmati hiburan di malam hari, mengejar ‘sale-sale’ di berbagai plaza, dll, sedangkan anak-anak diasuh oleh neneknya.

Lanjutannya tetap seru dibaca di Oase Iman-Eramuslim berikut yah :-)

Beli kornet + beli kedondong, biar pun jarang up-date + tetap dido'ain dong
(^-^)

Barokalloh, salam ukhuwah!

Tuesday, September 13, 2011

Abang Azzam (^-^) sudah 8 tahun githu lhooo...

pic : long time ago, Bang Azzam ^^, semasa masih ikut aq kuliah di kelas...



pic : Western day, Poland



;-) ia suka biola...


cieeee, :-)



pic : Jagain adek...


Gak terasa udah beberapa tahun terlewati 'nge-blog' :-D, udah lima tahun-an kami berada di luar wilayah nusantara, dan tentunya pengalaman Bang Azzam kecil sebagai anak pertama merupakan pengalaman hebat baginya. Ia mengawali sekolah 'TK pertama' di Bangkok, melanjutkan Taman kanak-kanak lagi dua kali (berpindah lokasi TK) dengan dua bahasa berbeda di Kuala Lumpur, kemudian melalui sekolah dasar di Krakow, Poland. Dan sekarang masuk Klasa II. Di Poland, 'SD'nya dimulai dari kelas 0 (Zero) lho, :-) jadi SD disini adalah 7 tahun (7 grade).

Congratulations, abang Azzam! (^-^)
Bang Azzam ini jago Matematika dan English, :-) Tapiii, karena dia gak ikut religia "misa-katholik" di sekolah (karena kan hanya abang yang muslim di sekolahnya) maka abang Azzam biasanya 'hanya meraih' juara 2 di kelas (raportnya). Khusus nilai 'religia' itu yang didispensasi, :-)

Saya dan suami tidak menuntut apa-apa dalam hal pendidikan anak, kami mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaannya, mengarahkannya jika ia mengajak diskusi, memfasilitasi minat dan bakatnya, serta memberikan motivasi jika dia merasa sedih atau kesal terhadap suatu materi pelajaran di sekolah. Pokoknya mah, kita ini ortu yang 'sohib-an' banget sama anak-anak. Bagaimanapun anak kita (apalagi anak-anak kami trio mujahid lhoo..., jagoan-jagoan yang super aktif,hehehe), dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kami masih berusaha "mencintai tanpa syarat". :-) Duluuuu banget kan ada kata-kata, 'Harus jadi anak sholeh yah, harus gak boleh nakal yah, harus rapi yah...', dsb... Lantas ternyata anak-anak bisa saja berpikir, "Memangnya kalau lagi gak rapi, gak disayang yah...?", [Saya pernah menjawab, "Kalo' jadi anak sholeh, kan lebih disayang oleh Allah, oleh ummi, abi, dan semuanya...". Tapi itu dulu, sekarang Saya berusaha bersikap yah itu tadi, 'mencintai tanpa syarat'. Karena setelah Saya bercermin lagi, bukankah anak-anak juga "udah nasibnya" ketemu ummi begini (alias saya, yg cerewet, hehehehe). Maksudnya posisi hati, keikhlasan selalu diuji, Saya tidak ingin mengatur-atur anak : kudu begini-begitu, tapi Saya hanya bersikap sebagaimana memberitahukan bahwa "Terima kasih anak-anakku, sudah jadi anak-anakku dengan ikhlas...Jadilah anak-anak yang mencintai Allah, sebab kita semua selalu dicintai-Nya,.... " dan seterusnya.]

Udah dulu, kapan-kapan sambung lagi, moms... Happy schooling again buat anak-anak.... (^-^)

Sunday, September 11, 2011

Tetap Bernuansa Ramadhan

“Balik lagi ke habitat asli, nih yeee…” sindir Dinda kepada saudarinya yang ‘ngartis’, pas lagi ramadhan, job bertaburan terutama sesi pemotretan model sebuah busana muslimah yang ‘trendy’. Saudarinya tertawa kecil, “Yeeee, namanya juga permintaan pasar dan sesuai keinginan produser, hehehe, nyantai aje…” jawabnya sambil segera berlalu.

‘Sama habitat asli’ pula kumpulan ibu-ibu atau para prt di kompleks perumahan sudut ibu kota itu, pagi-pagi ketika suami sudah berangkat kerja dan anak-anak bersekolah, ‘acara ngerumpi’ di tukang sayur kembali digelar, kan Ramadhan sudah selesai, di sela kesibukan sebelum memasak makan siang, kegiatan rutin yang biasanya ‘absen’ saat Ramadhan adalah ngobrol-ngobrol, yang tadinya bisa saja membawa manfaat semisal saling tanya resep masakan atau tentang tips merawat anak yang sakit, namun selanjutnya bisa menjadi panjang lebar dan amat luas, pembicaraan menjadi ghibah, bergosip sana-sini sampai memfitnah tetangga lain, naudzubillahi min dzaliik.

Apakah kita termasuk finalis-finalis Ramadhan 1432 Hijriyyah? Jawabnya ada dalam diri masing-masing, kita bisa memberikan perkiraan penilaian peningkatan kualitas pribadi ketika mengintrospeksi diri sendiri, atau juga menanyakan kepada kekasih hati (suami atau istri) yang merupakan teman seatap, melihat dengan jelas bagaimana keadaan amalan sholih kita sebelum dan sesudah ramadhan. Idealnya setiap bulan penempaan nan mulia tersebut usai, maka pribadi insan yang menjalaninya makin baik, kualitas iman bertambah, ada banyak kebiasaan buruk yang sudah hilang, dan bertambah banyak kebiasaan baik yang rutin dilakukan.




...Lanjutan artikelnya baca di TKP langsung, berikut link Oase Iman-Eramuslim, semoga bermanfaat :-), Semoga nuansa Ramadhan menghiasi jiwa kita hingga akhir desahan nafas... Allahumma amiin.
Salam Ukhuwah ya!(^-^)

Wednesday, September 7, 2011

Masih Suasana Syawal, 1432 Hijriyyah :-)





Foto-foto suasana berbuka puasa bersama di Islamic-Centre, Krakow


Assalamu'alaykumwrwb...

Sanubari berucap, Ramadhan, Janganlah Cepat Berlalu...
Namun mahalnya sang waktu, Ramadhan bahkan makin berlari...
Duhai jiwa-jiwa yang senantiasa menjaga rasa malu,
Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya nan meraih fitri...

Taqobalallohu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum...


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam bersabda,

"Umatku diberi lima keistimewaan pada bulan Ramadhan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka : Bau mulutnya orang-orang puasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau minyak kasturi, setiap hari malaikat memintakan ampunan bagi mereka saat berpuasa sampai berbuka, Allah menghiasi surga untuk mereka kemudian berfirman, "Hamba-hamba-Ku yang saleh tengah melepaskan beban dan kesulitan maka berhiaslah”, setan-setan dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda dan orang-orang puasa diampuni dosa-dosa mereka pada malam terakhir bulan Ramadhan." (HR. Ahmad, al-Bazzar, al-Baihaqi)

Subhanalloh...
Duhai Robbi, semoga kami mampu menghadapi segala cabaran usai bulan mulia saat penempaan diri ini, kuatkanlah kami, pertemukanlah kami kembali pada ramadhan-Mu selanjutnya, amiin, Allahumma amiin.

Salam ukhuwah dari Krakow (^-^)

Thursday, August 25, 2011

Hati-Hati Tentang Si Hati ❤

Sebagaimana wasiat baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “…Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari dan Muslim)




Ketika membaca artikel hikmah : LIMA CARA MEMPERLAKUKAN HATI (Oleh: Drs.H. Ahmad Yani),
[yaitu 1. hati harus dibuka, 2. dibersihkan, 3. dilembutkan, 4. disehatkan, 5. ditajamkan... Ketajaman hati dapat membedakan mana haq dan mana yang bathil, subahanalloh!] Saya juga jadi teringat tentang catatan sang hati... ❤


“Ada secuil catatan tentang si hati…
Bilangan tahun adalah seperti pohon, bulan adalah dahannya,
Hari-hari merupakan cabang-cabangnya, jam adalah daunnya,
Dan nafas ibarat buahnya

Siapa pun yang nafasnya digunakan untuk taat kepada Allah,
Maka buah pohon itu akan baik, lezat dan murni manisnya
Siapa pun yang nafasnya digunakan untuk mendurhakai Allah,
Tentu buahnya akan jahat, busuk dan jelek

Waktu panen adalah pada hari kiamat
Yang pada saat itu buah akan ditampilkan,
Apakah itu manis atau asam

Ketulusan dan Tauhid adalah pohon dalam hati
Cabang-cabangnya adalah perbuatan
Dan buahnya adalah kenikmatan hidup selama ini
Kehidupan duniawi dan kebahagiaan abadi di akhirat

Buah tauhid dan ketulusan dalam kehidupan dunia adalah sama
Allah limpahkan berkah kepada hamba –Nya nan ikhlas
Balasan kebaikan berlipat ganda

Kemusyrikan, berbohong, dan kemunafikan juga pohon dalam hati
Buahnya adalah selama hidup tak tentram
Diliputi rasa takut, tertekan, kesedihan, dan sesak dalam dada
Kegelapan hati, dan di akhirat menelan az-zaqqum jua siksaan permanen

Allah ta’ala menyebutkan dua pohon tersebut dalam ayat-ayat cinta-Nya Surah Ibrahim."



Artikel lengkapnya bisa di baca di rubrik Kisah-Link Eramuslim berikut yah :-)

“Ya Allah, yang selalu membolak-balikkan hati, mantapkanlah hati kami dalam agama-Mu dan dalam ketaatan pada-Mu, amiin”.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Salam Ukhuwah dari Krakow , Barokalloh always!^^

Monday, August 22, 2011

Ranjau Di Balik Kenikmatan




Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ta’ala, yang telah menganugerahkan keimanan nan teguh serta keislaman syamil, kesabaran yang berkesinambungan, keistiqamahan dalam menjalankan agama kita yang mulia, atas nikmat-Nya pula terdapat persaudaraan di jalan Allah, yang dengan ikatan itulah kita berjumpa dan berpisah, saling merindukan, saling membantu laiknya satu tubuh yang cedera, maka bagian lain ikut merasakan, saling mendoakan dalam setiap waktu, ketika tangan-tangan kita menengadah saat bermunajat menembus langit dunia, mengetuk pintu harap dan raja’ kita kepada-Nya, segala problema dalam perjalanan dunia tentulah ada solusinya, terlebih lagi kita punya kekokohan ukhuwah islamiyah bertangkai kekuatan do’a.


Namun saudara-saudariku, terkadang kita silap mata atau tersandung dalam pergaulan, sehingga kita bisa lupa bahwa ada banyak ranjau dan jurang yang berbalut kenikmatan, ditawarkan oleh orang-orang bersenyum manis membawa ikatan cinta palsu atau disebabkan bisikan setan yang kian menerobos hawa nafsu. Simaklah beberapa pengalaman berikut, kita petik hikmah-Nya bersama.

Ibu Syam dulu merasa terdesak, keperluan anak-anak sekolah di tahun ajaran baru makin menggunung, kebutuhan sehari-hari kian bertambah, dana pemasukan dan tabungan keluarganya tak mencukupi, apalagi ada anaknya yang harus segera masuk kuliah di kota lain, maka ia memutuskan untuk meminjam dana kepada Wak Nenet. Ketika itu, keadaan keuangan keluarganya benar-benar memerlukan bantuan. Setiap bulan ia membayar sejumlah uang kepada Wak Nenet. Lama, berbulan-bulan, masih saja belum lunas, kadang-kadang bila Wak Nenet menagih ke rumah di saat bu Syam sedang pergi, dana bayaran ke Wak Nenet tersebut dititipkan ke anak bu Syam. Jadi, si anak remajanya yang penasaran akhirnya bertanya, “Bunda, kok utang di Wak Nenet gak selesai-selesai, sih? Kan Bunda membayar terus setiap bulan ?”

Bu Syam akhirnya menjelaskan bahwa yang dibayar setiap bulan itu bukan jumlah utangnya, melainkan bunga-nya. “Otomatis utang ibu memang belum dibayar sama sekali, nak…tiap bulan itu cuma bayar bunga. Nanti kalau bapakmu dapat bonus tahunan dan dana lembur yang besar, barulah bisa melunasi utang di Wak Nenet”, penjelasan Bu Syam.

Setelah mengetahui hal itu, si anak menjadi kesal terhadap Wak Nenet, “Berarti Wak Nenet itu rentenir dong! Jahat sekali…”, keluhnya dalam hati. Ia hitung-hitung dengan sebal, permisalan jika orang tuanya meminjam 3 juta rupiah dengan bunga 10%. Jadi sepuluh persennya itulah yang dibayar ibunya setiap bulan. Uang sepuluh persen itu bahkan bisa mencukupi untuk membeli lauk-pauk keluarga besarnya selama satu minggu-an.

Anak ibu syam suatu hari memenangkan sebuah perlombaan tingkat provinsi, mendapatkan hadiah televisi baru selain piala dan piagam. Teringat utang orang tuanya yang belum juga lunas, ia berkata, “Bunda, televisi baru itu dijual saja. Tolong bunda bayarkan ke Wak Nenet, …bla bla…bla…”, bu Syam terkejut mendengar perkataan anaknya, bangga dan salut, namun sekaligus sedih karena anaknya jadi ikutan tahu keadaan keuangan orang tua. Anaknya mungkin ikut berpikir-pikir akan beratnya beban orang tua, sehingga merasa harus membantu meringankan beban itu. Ibu Syam memberikan nasehat agar anaknya tak lagi memikirkan Wak Nenet. Televisi baru itu malah dijual langsung ke Wak Nenet, namun hanya cukup melunasi sepertiga dari jumlah utang. Dan sejak itu, jika membayarkan bunga pinjaman per-bulannya atas sisa utang, Ibu Syam sembunyi-sembunyi dari sang anak, agar anaknya tak lagi ikut terpikir masalah tersebut.

Selanjutnya, ke TKP- Kisah Eramuslim link berikut yah :-)

Salam Ukhuwah dari Krakow, Ramadhan Mubarak! (^-^)


Saturday, August 20, 2011

Kematian Adalah Pasti

gambar kuburan diambil dari gulungan si google

Dia telah mengingatkan kita dalam kitab-Nya yang sempurna bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, bila ayat tersebut terdengar di telinga atau dibaca oleh lidah kita sendiri, hati nan tunduk pada-Nya pasti merasa bergetar hebat.

Ramadhan awal tahun ini diiringi berita indah akan kelahiran bayi-bayi lucu para sahabatku. Semoga keberkahan Allah ta’ala mengiringi para bayi suci tersebut, amiin.

Dan hentakan di dada begitu kerasnya tatkala kubaca berita tentang kematian seorang teman, sangat muda usianya, beserta meninggalnya dua orang bapak yang merupakan orang tua dari sahabat nun jauh di negera lain. Padahal, kontak dengan teman itu hanya via email karena satu komunitas wanita Indonesia di luar negeri, dan bapak-bapak yang telah pergi jauh ke alam lain tersebut memang belum pernah bertatap muka langsung denganku, paling-paling anaknya menunjukkan “Ini fotoku bersama ayah…”, sebatas itu.

Namun tatkala kematian, berita bahwa mereka sudah ‘duluan singgah’ ke alam barzah, sontak mendebarkan dan membuat air mataku bercucuran, Innalillahi wa inna ‘ilaihi roji’uun… Sangat mungkin hal ini disebabkan hamba yang penuh dosa ini sudah menyadari akan ‘antrian panjang’ yang makin dekat.

Ketika ‘stress’ melanda jiwa Peter, sebut saja begitu, selalu dia bilang, “Papaku meninggal tiba-tiba… Aku tidak tau harus ngapain di dunia ini…”, gara-gara Peter memang cuma tinggal berduaan dengan papanya seusai nenek mendahului mereka. Papanya yang (dikira) selalu sehat, mendadak memperoleh serangan semacam sempitnya pembuluh darah dan jalan edar saluran pernafasan, hanya lima menit peristiwa terjadi usai meeting dengan relasi bisnisnya.

Peter bahkan sedang bertugas di tempat lain ketika papanya menghembuskan nafas terakhir. Dan sang papa meninggalkan seabrek-abrek urusan perusahaannya yang mana hanya beliau saja yang tau seluk beluk bisnis tersebut, begitu beratnya hari-hari dirasakan Peter, sampai suasana berkabungnya memakan waktu dua tahun lebih.

Lain lagi seorang sohib masa kecilku, ia berucap, “Sejak kepergian mamaku itu, aku menyadari bahwa kematian bisa saja terjadi mendadak, bayangkan, mama dan aku sedang nonton televisi bareng-bareng. Lalu ketika aku ke dapur untuk minum air putih, sekembalinya ke ruang televisi, mamaku sudah tergeletak, tak ada nafasnya dan aku berteriak-teriak sampai tetangga menelepon pihak rumah sakit. Ternyata mamaku meninggal ketika detik itu aku sedang minum di dapur….”, sohibku ini sempat bertahun-tahun lamanya menjadi amat pendiam setelah peristiwa itu.

Hanya Allah SWT yang memiliki kuasa penuh untuk memberikan nafas bagi kehidupan (kejadian pertama kali kita menghirup udara di dunia, siapakah yang bisa mengira-ngira tanggal-jam-menit dan detiknya, kecuali Allah?) atau untuk mengambilnya kembali (siapakah yang dapat menduga tanggal-menit-detiknya kita ‘kehabisan stok rezeki nafas’ alias tutup usia, kecuali hanya Allah ta’ala?).

Peter yang nonmuslim memang benar-benar tidak tahu akan kepastian hari kiamat, akan yaumil hisab kelak. Selama ini, entahlah kenapa ia tidak pernah terpikir bahwa si papa akan meninggal dunia. Setidaknya mungkin ia pikir, meninggalnya masih lama, ‘nunggu punya cucu dan cicit’, setelah pensiun, atau nungguin Peter menikah. Sampai-sampai jenazah si papa diletakkan di rumah selama seminggu lebih sebelum dimakamkan. Sangat berbeda dengan sahabatku Zaynab, ketika papanya meninggal di tanah sunda sedangkan Zaynab tengah melanjutkan kuliah di eropa, ia begitu tabah dan ikhlas. Ia beritahu hal itu kepada teman-temannya agar teman-teman turut mendo’akan keluarganya. Zaynab berurai air mata dalam sujud kepada-Nya, sangat manusiawi, ia bersedih, namun ikhlas menerima ketetapan-Nya. Papanya sesegera mungkin dimakamkan pada hari itu juga.

... Selanjutnya baca di link Oase Iman-Eramuslim sebagaimana biasanya yah :-)


Barokalloh always... Selamat meningkatkan perbekalan, Ramadhan Mubarak! (^-^)

Thursday, August 11, 2011

Baby Zuhud udah 2 bulan usianya... :-)

Usia dua minggu, Menghadiri konser biola Bang Azzam...



Alhamdulillah 'ala kulli hal...
Anggota baru keluarga kami mau kenalan... :-)

one week old, 'oeeeek...oeeek...'

Yaz (Turkish) means 'Summer', Polish people sometime use this name too (Lato in Polish),
Zuhud (Arabic) means 'Love akhirat',


pesan indah Rasulullah SAW, “Idzaa ra-aitumurrajula qad uutiya zuhdan fiddunya wamunthiqan faqtaribuu minhu fa-innahuu yulaqqanul hikmah” yang artinya, “Jika kamu sekalian melihat seseorang yang dianugerahi zuhud terhadap dunia, dan berbicara benar, maka dekatilah dia, sesungguhnya dia adalah orang yang mengajarkan kebijaksanaan”.

ZUHUD. (Salam Kenal buat om dan tante dari Zuhud) (^-*)
Ia adalah anak muslim Indonesia pertama yang lahir di sudut Krakow, manakala saat dalam kandungan, si ummi telah lalai-terpeleset melulu 3 kali, juga sulitnya mengontrol diri ketika mendengar ombay-akas gantian opname di Indonesia... plus emosi-an juga melihat kesibukan sang abi yang akhirnya membuat kami batal 'mudik'...:-P

Lalu di penghujung kehamilan, harta deposit appartement telah dirampok oleh keluarga laknatulloh (baca : Betapa Dekatnya pertolongan Allah), jika ingin menikmati makanan Indonesia---harus ditahan rindu (setengah idup :-D), terutama pempek+cuko (Palembang banget). dll... Sangat pantas, nama "Zuhud" disandang... apalagi di tengah kehamilan, ghirah jihad dan inspirasi ummi-abinya sungguh makin mengaliri jiwa raga ini...sebab dgn segala kepahitan dan kelemahan yang dihadapi ummi selama kehamilan, ternyata Zuhud begitu tegar, kuat, gerakan dalam perut tetap lincah... bahkan sepertinya ia tak mau menyakiti ummi sedikit pun, hingga "bukaan 7,8 cm...tetap gak terasa sakit banget"... hingga tak ketahuan kalau lehernya lecet terlilit tali pusar...Ampuni hamba, Duhai Robbi ❤

Ya Allah, tsumma sabila yassaroh, semoga ia senantiasa Engkau mudahkan dalam menjalani perjuangan hidup hingga selamat di kampung akhirat...amiin Ya Robbi...


Syukron jazzakumulloh khoiru jazza, all of my sisters and brothers, thanks friends... :-)

Wednesday, August 10, 2011

Ramadhan Selalu Dirindukan❤




Bergulirnya waktu, tamu yang dirindukan itu hadir kembali, bulan suci ramadhan, yang bagi setiap orang beriman selalu menjadi penge-charge diri. Cita-cita mencapai target-target di bulan penempaan itu selalu hadir dalam pribadi-pribadi manusia yang menginginkan kecintaan-Nya, ramadhan dihadirkan untuk membentuk manusia yang bertaqwa (sebagaimana yang kita hayati dalam QS.Al-Baqarah [2]: 183).

Ramadhan bulan pembinaan, bulan peningkatan kesabaran, bulan penuh momen indah sebagai kenangan, bulan panen berlipat ganda amalan kebaikan, bulan berbonus-bonus reward-Nya, dan berbagai sebutan hebat lainnya bagi hamba-Nya yang ingat akan akhirat.


Sempat seorang Maimunah bertanya kepada ketua komunitasnya saat rapat penutupan acara bakti sosial ramadhan, “Kak, sebagaimana yang diutarakan Ananda Hasan, Sholeh, dan teman-temannya, mereka merasa ramadhan adalah bulan dambaan, mereka dikirimi makanan, dikasih uang buat beli buku, diajak belajar bersama, mereka senang sekali, namun mereka bertanya ‘cuma bulan ramadhan aja yah, acara bakti sosial buat anak jalanan semacam kami, kak?’, Duh, saya juga ikut sedih mendengarnya. Bisakah saya usulkan agar kita adakan pula acara semacam ini seusai ramadhan, meskipun tidak sering, setidaknya di jadwal liburan sekolah atau beberapa bulan sekali, kita pun punya waktu luang, kan?”, harapan yang sungguh besar, Maimunah menyayangi adik-adik asuhnya,jua para jompo yang mereka santuni, juga sekumpulan eks-TKW, dll, tapi Maimunah juga memahami kesibukan yang luar biasa, aktivitas padat rekan-rekan dan kakak-kakak seniornya membuat mereka ‘hanya’ leluasa berkiprah di bulan ramadhan.

Beberapa seniornya menjawab ide Maimunah dengan jawaban klise, “Inginnya sih begitu, dik. Tapi kita belum bisa melakukan kegiatannya seusai ramadhan, dan memang donatur hanya ramai di bulan ramadhan. Mungkin nanti suatu saat, ide itu bisa kesampaian…”.

Selanjutnya baca di link Oase iman-Eramuslim yah, ;-)
Semoga bermanfaat, Happy Ramadhan (^-^). Selamat mengoptimalkan amalan ibadah di bulan mulia ini, barokalloh always, amiin...

Monday, August 1, 2011

Di Ujung Senja Menyapa Ramadhan

Subhanalloh...


Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh


Tahmid wa sholawat...



1 Ramadhan kali ini, bertepatan dengan milad seorang mujahid, 29 tahun ;-)... Barokalloh kangmas, Abu Azzam (^-^)

Jua bertepatan dengan milad pernikahan kami yang ke-9 tahun. (sssst... nantikan buku kita terbit yah ;-))...
Happy Wedding anniversary yah Kakanda... Semoga Allah ta'ala melimpahkan kemudahan bagimu dalam memimpin keluarga, mendidik istri&anak-anak serta memberikan kekuatan untuk selalu istiqomah di jalan keridhoan-Nya, amiin... syukron jazzakumulloh khoiru jazza buat sohib-sohib yg senantiasa mendo'akan... :-)

Kami sekeluarga di Krakow mengucapkan Marhaban Yaa Ramadhan...
Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan, semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik, amiin...
Semoga saudara-saudariku dilimpahkan-Nya kebahagiaan yang lebih baik daripada yang saya rasakan, amiin, I am a happy daughter, a happy kid, a happy student, a happy friend, a happy wife, a happy sister, a happy mom, a happy mosleemah... (^-*) Allah always give me everythings I need...


Di Ujung Senja Menyapa Ramadhan

Dari link Eramuslim ini yah... :-)

Oleh bidadari_Azzam

Di ujung senja
Dahulu tampak keramaian di pesisir pantai
Menanti mentari tenggelam tanda sya’ban usai
Berbondong-bondong menyambut tarawih pertama nan syahdu

Episode berlalu
Kelopak mataku masih mengenang sapaan senja
Tatkala bersorak-sorai bersama teman-teman
Berlomba merapikan sajadah seraya sibuk berceloteh
Tentang menu sahur yang diimpikan
Tentang tugas catatan ceramah dari pak guru
Tentang cita-cita ‘Pol puasa sebulan’
Tentang mukena baru atau baju lebaran

Di ujung senja
Awal bulan mulia memang selalu syahdu
Lambaian nyiur serta sepoi angin
Menambah getar-getar rindu

Episode bersama sosok sahabat sejati
Memanggul tas usang penuh buku
Antrian panjang untuk segelas sup buah segar
Menu berbuka andalan selain nasi pecel sepiring berdua
Usai tarawih lanjutkan tugas skripsi
Tidur malam sekejap saja
Tilawah bersama menanti adzan subuh
Lalu berkutat kembali pada jadwal anak kampus

Di ujung senja
Berbeda masa nan tetap indah
Bocah tampan penambah erat cinta
Ingatkan diri telah menjadi sosok orang tua

Episode merangkul para jundi
Berpuasa penuh dan bangga memiliki ramadhan
Makin bahagia ketika tangan tak lagi di bawah
Tak ada baju baru lebaran ataupun menu istimewa
Kecuali memperbarui hati dan introspeksi diri
Tetangga nun jauh tetap didekap
Sekumpulan yatim yang ayahnya ditembak mati atau diculik lalu disiksa
Dengan label ‘teroris’ penuh cacian

Terkuak berita ‘kecil’ dari sosok rakyat jelata nan kehilangan nyawa
Serangan fitnah (lagi-lagi) atas label teroris
Sementara para penguasa makin sewenang-wenang
Bermain ‘catur’ skenario tipuan buat riuhnya pertiwi

Episode memuakkan ketika harus menjadi penonton
Para ‘teroris’ terus-terusan difitnah dan dipendam dalam tanah
Dikubur hidup-hidup dengan siasat adu domba antar-saudara
Sedangkan para pembunuh berantai alias koruptor terlaknat tetap bebas
Para perampok rakyat alias srigala berbulu kambing makin bermegah-megahan
Tertawa dengan topeng bopengnya
Jua terbahak saja dengan nasib pewaris negeri
Termasuk tawa ejekan pada para ‘teroris’ yang telah jadi tumbal

Di ujung senja
Episode senja pasti berakhir
Terkenang selalu bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam berwasiat,
Ambillah lima perkara sebelum lima perkara
Waktu muda sebelum tua, sehat sebelum sakit,
Masa kaya sebelum fakir, masa luang sebelum sibuk,
Masa hidup sebelum datang kematian
Segala episode harus berbalut manfaat

Sambutan penghujung senja masing-masing kalbu adalah berbeda
Gembira karena curahan hidayah-Nya
Ataukah penuh gerutu dan penyesalan atas terbuangnya masa
Senyum cerah atas genggaman bekal perjalanan dunia
Ataukah hanya tersisa kerutan dahi jua bibir cemberut nan keriput
Tanyakan kejujuran nurani
Cinta akhirat ataukah takut mati
Menapaki episode senja bahagia ataukah galau diri

Duhai Sang Maha Pemilik Jiwa
Curahilah hidayah di segala masa dalam perjalanan kami
Berkahilah episode senja mulia awal ramadhan ini
Berharap kualitas pribadi kian bermakna


Setiap ramadhan terkenang akan kata-kata sang bapak kepada putrinya, suatu senja, “Tamu agung telah datang lagi. Tidak terlupakan semua kenangan. Seindah tahun sembilan belas delapan tiga usai gerhana, bulan berkah berbonus anakku yang baru dilahirkan ibunya.”

Sang anak bertanya, “Siapa tamu agung itu, pak? Dan siapa itu yang jadi bonusnya?” Bapak tersenyum, “Tamu agung itu adalah si bulan mulia, dirindukan seluruh insan, Ramadhan Mubarak! Dan kamulah bonusnya, kamu lahir di bulan mulia itu, sungguh membawa berkah…subhanalloh!”

Seraya memeluk sang bapak, si anak berucap, “Duhai bapak, kehadiran bapak dan ibuku lah yang merupakan nikmat dan keberkahan yang besar buatku…”, sungguh indah kasih sayang-Mu.

(bidadari_Azzam @Krakow, jelang subuh 27 juli 2011)


"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka". (QS. Ali Imran : 191)

salam ukhuwah, ya... Barokalloh... (^-^)

Thursday, July 28, 2011

Budi Baik Mang Ujang

eh, dulu gak sempat jepretin kamera ke becak Mang Ujang, sementara ini nampangin pic bang Sayyif dulu deh, hehehe ^^


Lama ingin kuceritakan tentang beliau, namun kesempatan untuk mengenangnya melalui tulisan barulah hadir saat ini. Sosok bernama pendek Ujang ini adalah mantan supir di kantor tempat bapakku bekerja dahulu, beliau bertugas khusus buat mengendarai mobil dinas tim atau shift kelompok bapak.


Karena telah tiga kali kecelakaan kerja, Mang Ujang pun menjalani pemeriksaan kesehatan, ternyata ia sudah mengalami kemerosotan indera pendengaran. Pantas saja, kita harus berteriak kalau ngomong dengannya, harus kencang dan kadang diulang-ulang, beliau lebih mengerti gerakan mulut lawan bicara, suara kita tak terdengar jelas di telinganya. Maka ia berhenti bekerja namun tetap “orbit edarnya” di wilayah kompleks perumahan kami, menjadi seorang pengayuh becak.


Beliau termasuk pengayuh becak unik, lho, “jam kerja bebas”, lebih sering “nongkrong” di rumah kami atau di beberapa rumah tetangga yang paling akrab dengannya. Pokoknya, tidak mengejar setoran, selalu ramah, ‘nyantai’ beraktivitas. Saya dan kakak-kakakku sering saling menggoda, “hayooo…. Kenapa Mang Ujang selalu nongkrong paling lama di rumah kita?”, Jawaban yang serius adalah ‘karena bapak dan ibu kita sering meminta pertolongan tenaganya’.
Tapi kakakku yang usil sering menjawab (sambil pura-pura serius), “Karena… eng ing eng! Karena sebenarnya ada satu anaknya di antara kita, yang dititipkan di rumah ini!”, terang saja kami bisa saling lempar bantal atau handuk mendengar jawaban tersebut, (hehe, canda yang agak menyebalkan) apalagi mata kakakku itu ‘menuduh’ salah satu di antara kami, yang jelas-jelas tuduhan palsu, semuanya tak ada yang mirip Mang Ujang kok, dan secara fakta sudah jelas anak kandung bapak ibuku adalah kami berenam.

Tapi seringkali Mang Ujang jadi ikutan meladeni candaan itu, saat kakakku bertanya, “Mang Ujang kesini mau jenguk anaknya yah…?”, seraya melirik adik dengan goyangan bola mata yang usil. “iya…iya, dong…hehehe”, seloroh Mang Ujang. Wuaaargh, mulai deh rumah kayak panggung sandiwara, ada yang menangis, karena ‘gak rela’ menukar bapaknya jadi Mang Ujang.

Dalam kesehariannya saat tak mengayuh becak, beliau sering dimintai tolong oleh kami atau para penghuni kompleks lainnya, misalnya mengecat rumah, memperbaiki pagar, menata kebun/halaman, memotong rumput, menguras kolam ikan atau bak mandi besar, membetulkan atap rumah, ikut kerja bakti lingkungan RW atau menemani mudik ke desa. Sesekali beliau membantuku di halaman rumah, memunguti jambu, alias saya yang memanjat pohonnya, lalu dia yang memunguti buah jambu ketika keranjang yang kusodorkan dari atas telah penuh, sekaligus dialah yang menyapu dedaunan jambu tersebut.

Mang Ujang hanya menerima dengan ikhlas, berapa pun honor yang diberikan orang-orang atas pekerjaan ‘serba-bisa’-nya itu. Kalau ada yang bertanya blak-blakan, “Berapa yah yang harus saya bayar, Mang?” Beliau ini tetap hanya menjawab, “Seikhlasnya aja bu…”. Demikianlah akhirnya para tetangga sering saling tanya terlebih dahulu mengenai honor buat Mang Ujang agar ‘sama-sama enak’, maklumlah, tak sedikit pula yang kurang puas akan hasil pekerjaannya karena permasalahan pendengaran beliau, contohnya kalau disebutkan harus begini-begitu, bagian ‘ini-itu’, mungkin yang ia kerjakan hanya begini, trus tersisa pekerjaan bagian lainnya itu.


.....Lanjutin baca di TKP Oase iman-Eramuslim yah, ;-)

Barokalloh with family, Selamat bersiap-siap ramadhan yah... :-) salam ukhuwah!

Monday, July 18, 2011

Terpeleset Makna



Sudah sepuluh tahun lebih, usia sudah bertambah, tapi soal “memelestkan makna kata” masih tak berubah juga, itulah ciri khas teman SMU-ku, sebut saja Fulanah. Sebenarnya ia ramah, pandai bergaul dengan siapa saja. Namun pelesetan katanya sering berbau pornoaksi, membuat banyak teman ‘gak enakan’, tak nyaman di dekatnya.

Ada beberapa kalimat yang terdengar islami, tapi dia pergunakan di saat yang tidak tepat. Contohnya saja ketika teman kami kehilangan sandal di kala tarawih di masjid, “Waduh, ikhlaskan aja, yah teman…Innalillahi…”, bisik salah satu teman lainnya, menghibur.

Tapi sahutan si Fulanah lain lagi, “Kamu juga sih, sandal baru koq dipake’ ke sini…? Kan kamu tau bahwa kata pak ustadz ‘tinggalkanlah yang buruk, pertahankan yang bagus…’, jadi pasti ada orang yang ninggalin sandal bututnya nih, dan menukar dengan sandal baru kamu…hehehe”.

Lalu pada saat Fulanah naik motor pakai rok pendek, tiba-tiba roknya tersingkap, dan ada teman yang mengingatkannya, “Kamu jangan doyan nambahin dosa kayak githu donk… panjangin dikit kek kalo’ pake rok, atau pakai celana panjang aja kalau bermotor…”.
Si Fulanah dengan lancar menjawab, “Sapa yang nambah dosa, neng..? Gue malah dapat pahala, yaaah sedekah lah sekali-sekali ini biar orang yang melihat kan cuci mata, segeran dikit githu…”, Astaghfirrulloh…


Sama halnya suatu hari ketika ada ujian di sekolah, pengumuman ujian dadakan, Fulanah dengan entengnya mengatakan kepada teman yang pintar, “Kasihanilah saya… gak belajar nih di bab itu, siapa yang mau nambah pahala dengan menconteki saya jawabannya…?”, idih, aneh tapi nyata, kadang-kadang merinding juga mendengar celotehan Fulanah, banyak kalimatnya harus disensor. Kalau “sukses” menggoda lawan jenis, Fulanah akan bilang “saya harus bersyukur atas karunia cowok ganteng…”, ckckckck.

Di saat ada yang bercanda dengannya, bercakap tentang neraka, “Ih Fulanah… ngomong kok gak hati-hati sih…? Mau tenggelam di neraka yah…?”, si A nyeletuk.

Dilanjutkan si B ikutan menyindir Fulanah, “Mungkin dia akan jawab begini, ‘gak apa-apa, asyik di Neraka dong, kan ketemu aktor dan artis favourite gue di sana, gak usah capek-capek minta tanda tangan’, hehehe”, hmmm, menohok banget deh sindiran si B, si Fulanah malah membalas ejekan itu dengan menjulurkan lidah dan menjambak rambut si B.

Silakan lanjutkan di link Oase Iman-Eramuslim berikut yah, :-)
Waspadai terpeleset makna, duhai teman-teman...
Salam ukhuwah...

Tuesday, July 5, 2011

Pelindung Terbaik Adalah Allah SWT

parents day 2011




Dari tempatku berdiri ketika membersihkan peralatan makan di dapur, selalu ada pemandangan menarik di luar jendela.

Kadang-kadang ada bapak berseragam petugas keamanan yang berpatroli dan menempelkan cap di salah satu tiang sebagai tanda bahwa trotoar di depan appartemen kami sudah dilewatinya.

Jika pagi hari sekitar pukul delapan, kerap kali terlihat seorang ibu yang saling melambai tangan dengan dua balitanya, si ibu akan berangkat kerja, sementara dua balitanya dititipkan pada pengasuh.

Ada kalanya pengasuh bayi merupakan tetangga sendiri, namun kebanyakan disini para manula (yang sudah pensiun) memiliki profesi sebagai pengasuh balita jika mereka tak mengasuh cucu sendiri.

Tentu saja anak-anak yang diasuh biasanya senang dengan para nenek/kakek pengasuh mereka karena merasa seperti bersama nenek/kakek sendiri. Cuma sedikit miris hati ini, tak semua anak tersebut bergembira, terlihat dari sorot mata jujur mereka. Kadang-kadang dramatis, si anak menangis atau meronta, memeluk kaki ibunya yang akan berangkat kerja.

Saya yang setiap hari bersua mereka, terkadang melihat para pengasuh tersebut sibuk mengobrol beberapa lama, membiarkan anak-anak sibuk dengan mainan di taman. Padahal, dalam hatiku merasa was-was, anak anak balita masih harus didampingi memainkan perosotan apalagi ayunan dan kursi putar, bahaya dong.

Di lain waktu, nenek pengasuh itu sibuk bercakap di ponselnya selagi si balita asuhannya digoyang-goyangkan di kereta bayi. Lain waktu pula, si nenek sedang mewarnai kukunya sambil selonjoran di kursi taman! Dan yang lebih parah, saat kulihat nenek-nenek itu dengan asyiknya merokok di tengah anak-anak yang ceria bermain.

Saya rasa para mama-papa muda itu lupa, menitipkan anak-anak mereka pada manula disini, berarti menitipkan pada sosok-sosok yang ‘malas baca berita’.
Jelas saja mereka tidak tau bahwa terjadi peningkatan jumlah balita meninggal dunia karena resiko sebagai perokok pasif (akibat orang tua atau pengasuhnya merokok) selain karena kelalaian dalam beraktivitas.


Tapi untuk menitipkan di “rumah asuhan”, selain harus menerima kenyataan pengawasan balita tak bisa se-intensif di rumah sendiri (karena pengasuhnya tak banyak), juga harus antrian panjang saat mendaftar rumah asuhan.

Jadi misalkan anda akan menitipkan anak di rumah asuhan untuk periode 2011, maka anda harus mendaftarkan anak anda di tahun 2009. Saking banyaknya peminat yang ingin menitipkan anaknya, kalau kata teman-teman lokal, banyak wanita eropa memang lebih memilih karirnya di luar rumah dari pada stress mengasuh anak-anak di rumah.

“Anak-anak tuh tingkahnya banyak kan, seharian bisa mondar-mandir seluruh ruang, main di taman sampai baju kotor, mandi sambil ciprat-ciprat air, makan sambil belepotan, minum bisa tumpah-tumpah, lemari baju diacak-acak, ruangan bisa dibikin jadi kayak kapal pecah, dan lain sebagainya…”, rasanya kalimat itu memang sering membuat kita mengangguk-angguk. Dan memang cara itulah sebagai bentuk kreativitas anak-anak, toh...

...
Hmmm, lanjutkan bacanya di link Oase Iman -Eramuslim berikut yah... :-), salam ukhuwah dari Krakow, teman-teman, syukron jazzakumulloh khoiru jazza atas kunjungannya (^-^)

Thursday, June 23, 2011

Si Aci Dan Si Uci




Adalah Aci, anak ‘orang gedongan’ ibu kota, bukan anak tunggal tapi punya orang tua yang banyak uang, sehingga Aci dan ketiga saudara kandungnya sangat berkecukupan. Mama mereka tidak bekerja di kantor seperti sang papa yang pengusaha, namun mama super sibuk karena bisnisnya milyaran, ada bisnis berlian juga, lho…Sejak bayi, Aci dan ketiga saudaranya dibelikan banyak sekali mainan ‘branded’, mulai kasur yang goyang-goyang, baby-carriage, stroller yang satu setnya ada 5 tempat duduk, instrument-set, botol-botol susu sekian lusin yang BPA-free, bedding set dengan seprai dan bantal keren nan empuk, kolam renang bayi, kursi+meja makan set buat bayi, mainan olahraga basket dan volley buat bayi, dan setumpuk fasilitas lainnya yang ditempatkan di ruang penyimpan khusus mainan mereka, ruangan itu bahkan lebih besar dari kamar tidur Aci sendiri.


Saat berusia sekolah, Aci berkenalan dengan anak Mbah Jah, pembantu part-time di rumahnya. Mereka memiliki beberapa pembantu di dalam rumah, kebetulan Mbah Jah diberi tugas khusus memasak dan merapikan kamar-kamar tidur. Sebut saja Uci, anak mbah Jah ini sebaya dengan Aci. Baju-baju bekas yang tak lagi dipakai Aci, sering diberikan kepada Uci oleh mama Aci. Demikian pula sepatu bekas, mainan-mainan lama, semuanya masih layak pakai, Uci pun senang sekali dan sangat berterima kasih. Namun Aci merasa sedikit heran tatkala melihat Uci lebih menyukai mainan-mainan sederhana kepunyaannya. Uci punya bantal bola dengan sulaman yang lucu, ada mobilan terbuat dari sisa potongan kayu dihias cat sederhana, ada koleksi buku bergambar dan kliping koran bergambar macam-macam mainan, serta beberapa benda unik lainnya, origami, dll yang tidak dimiliki Aci.

Ternyata semua keunikan mainan Uci dikarenakan benda-benda itu adalah kerajinan tangan sendiri, ‘hand-made’ yang dibuat oleh Uci dan ayah ibunya bersama-sama. Dan di suatu hari, Uci pun menghadiahkan Aci sebuah pigura sederhana dengan gambar pemandangan indah serta terpajang foto ukuran kecil-wajah Aci yang imut. Aci sangat gembira, meskipun pigura lain dalam rumahnya merupakan benda-benda mahal berukir berbagai hiasan. Dalam hati Aci, pigura sederhana buatan Uci adalah hadiah terindah yang terpajang di ruang belajarnya.

Semakin bertambah usia, Aci mulai memahami bahwa semua harta benda pemberian orang tuanya “bukanlah kebahagiaannya”. Ketika masing-masing anak memiliki komputer dan fasilitas lengkap nan tertata di ruang tidur pribadi, ternyata menyebabkan kakak-beradik kurang akrab, sibuk sendiri-sendiri. Istilah ‘berbagi’ kurang dikenal oleh mereka. Tatkala ajang liburan keluarga, kakak-adiknya ramai-ramai ke villa mewah mereka berteman sopir dan pembantu.
Saat lain berwisata, di pusat-pusat mainan anak, semua begitu membosankan karena tiada mama-papanya yang mendampingi, bahkan semua jenis mainan tak menarik lagi, sebab Aci punya beragam mainan yang jauh lebih canggih di rumahnya. Usai pembagian raport pun, sikap mama-papa terbiasa cuek, tak ada motivasi atau nasehat apa pun, tak masalah anak-anaknya mau berprestasi akademik atau tidak, yang penting ‘naik kelas’ lurus-lurus saja alias tidak bandel. Padahal dalam hatinya, Aci mau juga dipeluk-peluk dan di-sun sayang berlama-lama oleh mama-papanya di berbagai kesempatan.

Sekelumit problema masa remaja kakak-beradiknya, serta beragam konflik pun merupakan tambahan pengalaman hidup bagi Aci. Tak mudah mengajak mama-papa mereka bercengkrama, berdiskusi apalagi berbagi cerita dan gundah, karena waktu luang tak pernah tersisa---syukur masih bisa menyempatkan semenit dua menit sarapan bersama.

Baca lanjutannya di link Oase Iman-Eramuslim ❤ saja, yah... :-)

Semoga bermanfaat... Salam ukhuwah dari Krakow (^-^)

Monday, June 20, 2011

Tegarlah Duhai Bunda

pic : kenangan di KL, :-)

^-^ ❤



Tak layak kukeluhkan sejumput problema saat pertama kalinya, seminggu lalu, melalui persalinan di sudut eropa timur ini tanpa bantuan mamanda sebagaimana biasanya, tanpa sanak keluarga dekat, dan komunikasi yang terjalin dengan orang sekitar tak semudah biasanya di negeri sendiri.

Tak patut kubicarakan permasalahan yang sepele itu terlebih lagi buah hati tercinta telah terlahir dengan selamat, sehat dan bugar setelah melalui beberapa jam kesulitan bernafas akibat terlilit tali pusar. Kukatakan, alangkah bahagia diri ini tengah berada di antara pangeran-pangeran mungilku yang menentramkan nurani, Alhamdulillah, puji syukur pada-Mu, Yaa Allah…


Kami yang tengah bahagia insya Allah tak ingin lalai akan mengingat-Nya, jua mengingat saudara-saudari lain yang menjalani hari berbeda warna di berbagai area, turut berduka cita pada kabar-kabar dari para bunda. Saudariku, Bunda Han, beliau baru saja ‘kehilangan’ buah cinta dari rahim sucinya. Dan harus menghadapi terapi-terapi penyembuhan dari tumor yang dideritanya. Bunda, kami turut merasakan perihnya ‘peristiwa kehilangan’ itu, dan yang kami yakini bahwa bunda Han pasti mampu melewati hari dengan kuat dan tegar.

Begitu pula Bunda ‘Aina, tetap bersabar meniti hari meski ‘aina kecil harus mondar-mandir diopname, rumah sakit menjadi rumah kedua bagi keluarga mereka karena ‘aina mengalami gangguan kesehatan sejak lahir. Duhai Bunda ‘Aina, maafkan kami yang hanya bisa menguntai do’a, sungguh rindu ingin memeluk ragamu yang tegar itu, saudariku.

Dan terdengar pula berita dari Bunda Shinta, saudariku nan sholihat di Bangkok, sesosok guru cantik yang tak pernah kehilangan senyum di hadapan siapa saja, dahulu pangeran kecilnya telah berhasil melewati masa kritis akibat serangan virus Kawasaki yang langka itu.

....baca lanjutannya di Oase Iman-Eramuslim yah, sobats...

Barokalloh always, salam ukhuwah dari Krakow (^-^)