Photobucket

Tuesday, March 13, 2012

Sekuntum Rasa Ikhlas

foto : menu sederhana di atas meja makan sewaktu kami baru tiba di Jakarta, hehehe, banyakan sambalnya...


Bismillahi walhamdulillah.La ilaha illallahu Muhammadur-Rasulullah. Sabar ketika melihat kemaksiatan atau tatkala menjadi korban dalam suatu kemaksiatan adalah suatu sikap yang tak mudah dilakukan, kecuali bagi hamba-hamba-Nya nan terus-menerus dilimpahkan pertolongan serta derasnya energi positif beriring kata ikhlas.

Akhir tahun 2005 saya pernah mengorder teralis (untuk pintu& jendela) yang sederhana, Mang Adit yang punya usaha pemesanan teralis itu langsung menentukan harga, dan meminta uang panjar dua pertiga dari total harga pemesanan. Pembuatan teralis itu amat molor dari jadwal, dan ketika sudah jadi pun, hasilnya tak sesuai dengan yang dibayangkan atau contoh gambar teralis sewaktu proses pemesanan. Mang Adit dan satu pegawainya memasang teralis dengan tak rapi pula. Sempat ia tampak cemberut karena ditolak permintaannya yang ke sekian kali, yaitu minta uang rokok dan tambahan ongkos bensin, jelas sudah pelanggaran janjinya.

Dana pembayaran teralis itu tetap kami lunasi meskipun harus memanggil tenaga upah lain agar merapikan posisinya. Mang Adit yang tokonya berada dekat dengan komplek perumahan kami, ternyata memang berada dalam penghujung nasib menuju kebangkrutan. Dana hasil pembayaran terakhir itu justru dipergunakannya untuk balik kampung, menyisakan utang urusan operasional kedai tersebut dan janji kepada konsumen lain pun terabaikan.


Para konsumen Mang Adit yang tadinya merasa sebal, jengkel dan bersumpah serapah, mau mengkritisi ulah Mang Adit tetapi si pelaku sudah kabur ke kampungnya, kalau mau lapor polisi malah akan keluar tambahan dana, pada titik tertentu berjalannya waktu, akhirnya berkata, “Yaaah, kita memang harus ikhlas. Rezeki kan sudah diatur Allah, pasti nanti banyak ganti rezeki lainnya, insya Allah….”. Tak mudah mengaliri hati dengan rasa ikhlas nan tulus jika kita masih menghitung sekian remuk redam capek raga bekerja keras kala memperoleh lembaran rupiah buat nafkah keluarga. Maka tak heran jika banyak peristiwa penyimpangan amanat seperti di atas menyebabkan renggang bahkan putusnya sebuah ikatan pertemanan. Naudzubillahi minzaliik.

Contoh lebih mengangetkan lagi hal yang dialami Mbak Bening, ia mengorder kue kecil alias ‘jajanan pasar’ kepada ibu senior tetangganya sendiri, Jeng Tati. Kue muih itu rencananya akan disajikan pada acara majelis taklim sore di rumahnya. Sebut saja orderan kue hanya membayarkan uang sejumlah tiga ratus lima puluh ribu rupiah.

Lanjutkan bacanya di link Oase Iman-Eramuslim yah :-)

Penyimpangan amanat hampir selalunya dikarenakan urusan perut....naudzubillahiminzaliik...

Barokalloh.... Salam ukhuwah dari Krakow ^^

2 comments:

Anggana said...

subhanalloh!

Ari said...

manusia memang besar hawa nafsunya.. :(
jika tak mampu mengekang, maka kita yang merugi :(