Photobucket

Sunday, November 14, 2010

Menata Emosi : Tetap Penuh Kasih



Assalamu'alaykumwrwb...

Beberapa tahun lalu, Saya melihat seorang ibu tengah mengomeli anaknya, “nih nyebelin banget! Makan mulu gak brenti-brenti… kalo minum, airnya tumpah mulu… emaknya gak bisa istirahat…”, bla..bla, dan seterusnya.

Sang ibu memang sering “blak-blakan” bahwa pusing menghadapi situasi ekonomi, uang belanja yang setiap hari terasa makin tidak mencukupi sebab kebutuhan yang kian meningkat, padahal konsumsi anak-anak cukup banyak, terutama di masa pertumbuhan.

Belum lagi biaya listrik, air, dan kebutuhan lain yang terus menjulang. Hal tersebut ternyata bisa meningkatkan emosi, mengurangi ungkapan dan kata-kata sayang kepada keluarga.

Di lain masa, ada ibu yang mudah sekali menjadi beringas dengan (menampar) memukul pipi, menarik telinga atau menjambak anak di saat emosi meninggi, latar belakang masalah tentu berbeda, emosi bisa naik gara-gara hari itu belum gajian, tidak dapat diskon belanja di pasar, atau bahan masakan sudah habis namun kantong menipis, ada pula gara-gara ibu sibuk mengurus skripsi karena masih kuliah, dll (seperti pengalaman pribadiku tentunya), astaghfirrulloh…

Suatu ketika di lain waktu, Saya mengunjungi rumah seorang ustadzah di dekat kampusku, selama beberapa jam bercakap-cakap disana, diskusi dan mendengarkan tausiyah beliau, dua anaknya sedang pergi bersekolah, tiga anak kecil di dekat tempat kami duduk yang ternyata anak-anak beliau sedang konsentrasi menyusun puzzle, permainan yang sangat disukai anak-anak.

Ada saatnya bosan, salah satu anak menuju dapur, mengambil segelas air, lalu meminumnya, namun tertumpah di baju dan lantai. Segera sang bunda mendekat seraya berkata, “wah pintarnya…mengambil minuman sendiri, hebat anak bunda!”, lalu dengan cekatan mengelap air di lantai dan membuka baju si anak yang basah, anaknya berlari ke arah kamar, mengambil baju ganti, saat keluar ruangan, telah berpakaian rapi kembali.

Sedangkan dua anak lain, ikut menuju dapur, sibuk mencari makanan lalu bersuapan gorengan dan buah yang mereka temukan di atas meja. Kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu rumah, ternyata seorang petugas yang biasanya menagih iuran listrik dan air, sang ustadzah pamit sebentar dari hadapan kami, lalu membayar iuran tersebut, ia lebihkan dananya seraya berkata perlahan, “kembaliannya buat bapak yah…”, pak tua penagih iuran itu mengucap terima kasih.

Saat duduk bersama kami kembali, sang ustadzah berkata, “bulan ini iuran listrik dan air naik lagi lho…”, seraya tersenyum. Saya teringat bahwa banyak ibu-ibu yang saling curhat mengenai sekelumit dana rumah tangga, apalagi inflasi yang begitu cepat. Sehingga tergelitik untuk bertanya, “tapi koq tenang-tenang aja yah,ummu? Padahal banyak orang yang ngedumel, kesal, apalagi Saya lihat ummu tenang dan nyantai aja sikapnya, sama anak-anak pun tetap penuh kasih sayang, di tengah kepenatan dan kondisi finansial yang juga membuat kepala pusing…”.

“Saya juga punya masalah, neng…pusing juga urusan dana keluarga yang harus diatur dengan baik, kebutuhan terus bertambah, sedangkan pemasukan tetap gak jauh berbeda…”, beliau menjawab jujur.

...kelanjutannya baca di link Oase Iman Eramuslim ini saja yah...
:-)

salam ukhuwah, semoga Allah SWT senantiasa memberkahi langkah kita, amiin...

3 comments:

IbuDzakyFai said...

segera meluncur....

Zulfadhli's Family said...

jadi malu Mba gw kadang kalo udah ga sabar sama Zahia (secara Zahia susah banget makannya), gw suka uring2an ga jelas.

Thanks yah mba tulisannya, jadi pengingat buat gw bahwa apapun yang gw lakukan pasti akan Zahia lihat & tiru

aina said...

salam kenal ukhti, dan salam ukhuwah...artikel2nya menggelitik hati dan menyentuh perasaan. like it...