Photobucket

Thursday, May 30, 2013

Medical Check Up di Klinik Assa'adah


Bismillah walhamdulillah...

Setelah memegang kwitansi 'sakti' dari GAMCA di keluarga besar fushtun-fushtun itu, saya mengucapkan terima kasih kepada petugas yang bertubuh gemuk tadi, :-) karena "BB udah dicharge, 10% terisi, lumayan...." :-D

Saya bilang, "Nanti saya review langkah-langkah saya dalam prosedur ke Kuwait~yang sederhana tapi ternyata ribet ini, Pak..." ;-)).

*Halooo, Pak! Sekarang lagi baca blog ane, gak nih?*

Lanjut mobil meluncur ke Klinik Assa'adah. Kenapa bukan klinik An-Nuur (yang sebelumnya kami datangi)? Hal ini karena dua alasan. Pertama, saya ogah berjumpa mbak Judes yang tadi itu, alasan kedua karena pas sopir lihat alamat klinik Assa'adah, ini arah jalannya lebih minim macet dibandingkan kalau kami ke arah An-Nuur lagi.

Dua kali salah belokan, rupanya klinik ini lumayan jauh (kalau naik angkutan umum, gak ngerti deh bisa naik apa, stop dimana... khusus buat kami yang 'biasa ngorbit' di Tangerang, dan Jakarta-nya Rw Mangun doang, hehehe....)

Pukul lima kurang beberapa menit, saya langsung berbicara dengan kedua mbak yang duduk di bagian penerima tamu, mereka mempersilakan anak-anak dan adikku istirahat di ruang kecil buat tamu menunggu karena ketiga bocah tidur semua (kami sibuk menggendong...).

Kusebut nama mereka Mbak Mawar dan Mbak Melati saja, keduanya lumayan ramah. Semua berkas penting ada dalam folder dokument di tanganku, "Assalamu'alaykum... Mbak, memang belum tutup yah kliniknya?" ujarku.

"Belum, mbak.... Masih bisa check up, oooh, ini mbak yang nelepon kan yah, yang mau ke Kuwait ?" kata Mbak Mawar.

"Iya, saya yang beberapa kali menelepon, sudah saya turuti nih surat dari GAMCA-nya, hehehehe.... Mbak liat saja tuh kan, anak saya tiga, yang dua balita. Makanya sampai nguber cepat-cepat, kalau bisa sore ini kelar check up, nanti kan result-nya tidak harus saya yang ambil?" masih ngos-ngosan, kemudian saya tunjukkan dokumen yang diperlukan ; copy passpor, buku imunisasi anak-anakku, KK, dll yang memang sudah lengkap disiapkan oleh suamiku, bersamaan dengan ori-fam-visa. Bahkan saya membawa surat keterangan dari bidan dan dokter yang memeriksa anak-anak lagi di Palembang (tapi ini tidak terpakai.)

"Ya, kasian yah mbaknya, repot jauh-jauh datang dengan anak-anak, duh pasti capek anak-anak.... Tapi memang sekarang semuanya di GAMCA, kami cuma pas check up-nya aja, mbak..." Mbak Melati bicara sambil membaca dan memeriksa berkas-berkas. "Komplet sudah, mbak.... ini yang fam-visa-nya tidak usah, nanti ditunjukkan saja pas ambil hasilnya, yah..." sambung Mbak Mawar.

Kemudian keduanya bergumam, "Oooooh, asyik yah mbak, hmmm.... pindah dari Polandia ke Kuwait, hmmm...enak yah, jalan-jalan terus ke luar negeri?" komentar yang sering kudengar sebagaimana biasanya, karena mereka melihat akta kelahiran si kecil yang di Palembang, si adeknya di KL, dan si bayi mungil akta kelahiran dari Poland.

Saya tersenyum dan menjawab singkat, "Semua asyik mbak, namanya hidup, asyik dan enak kalau disyukuri..."

Yang harus anda persiapkan di klinik buat MCU (spesial buat anak di bawah 17 tahun) :

Pas Foto ukuran 4 x 6 sejumlah 4 lembar, copy Akta kelahiran, memperlihatkan riwayat imunisasi dan foto copy paspor. (Saya sudah nyuci foto sampai 20 lembar buat persiapan, hehehe) Pas foto adalah berlatar biru muda, serta buat anak dikenakan bayaran 150 ribu rupiah (^_^)


Dua orang yang tidak ramah di Assa'adah adalah kasir (yang berada di ruang kecil lainnya) dan bapak bermata sipit di ruang X-Ray. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang menyakitkan hati.

Langkah-langkah usai dari meja informasi tadi :

1. Mbak Mawar dan Mbak Melati mengisi form dengan melihat data-data saya dan anak-anak, kemudian salah satunya memotret dan mengambil sidik jari (kanan dan kiri), anak-anak tidak perlu.

2. Anak-anak dibuatkan surat keterangan imunisasi apa saja yang sudah dilakukan sejak lahir,

3. Saya menuju ruang kecil tempat kasir dan membayar keperluan surat anak-anak

4. Saya menunggu dua menit (saat itu hanya tinggal empat pasien lagi, semua wanita) kemudian diambil darah. (Sebagaimana di Poland ketika hamil baby Zuhud, setiap bulan saya melakukan check-up 'MCU wajib di Poland saat hamil memang monthly'. Biasanya meliputi morfology darah, HIV, Lever, dan penyakit berbahaya lainnya...)

5. Setelah ambil darah, saya numpang ngecas BB yang sudah kehabisan batere, di ruang perawat yang ambil darah tadi. Kemudian saya disuruh ke WC dan diberi botol buat tes urine.

6. Setelah tes urine, ternyata menuju ruang X-Ray dan tidak disediakan petugas perempuan. Saya di Eropa saja petugas-petugasnya perempuan, lho... Kalau RS yang ternyata bagian scan, USG atau X-Ray adalah lelaki, kita bisa minta petugas perempuan, ini adalah hak kita! Saya berkata dengan sopan, "Maaf, Pak.... Saya minta tolong, yang X-Ray boleh mbak perawat yang itu saja ya, Pak?" (sambil menunjuk mbak perawat di ruang tadi)

Raut muka bapak itu sudah langsung berubah, emosi, terlihat jelas kerutan kesal disana. "Gak ada lagi, yang X-Ray cuma saya!" katanya.

"Tapi mohon maaf pak, Saya sudah bayar untuk medical check up. Dan suami saya tidak ridho kalau petugasnya laki-laki...maaf yah pak, saya minta tolong, yang perempuan saja..." kalimat saya pelan tapi tegas.

Waduuuuh, pas ke Kuwait-nya, malah semua RS dan klinik-klinik WAJIB menyediakan dua ruang semua, yang meriksa laki-laki~ yah harus laki-laki, yang meriksa perempuan~ semua tim medisnya perempuan pula. Apa pernah tim dinas kesehatan GCC country sidak langsung ke klinik-klinik 'NAUNGAN GAMCA-nya' yang ada di Indonesia ini?! :-D Mana kepedulian pemerintah?!

Si bapak teriak manggil Mbak Mawar dan petugas berbaju bebas, "Sudah...kita janjian dulu yah, saya tidak menjamin hasil X-Ray nya bagus yah?! Kalau hasilnya jelek, kamu harus ulang lagi dan ulang lagi X-Ray nya, bersedia?" ujar si bapak.

Saya mengangguk, "Tidak apa-apa..." ujarku. Kemudian mbakku menemani masuk di ruang X-Ray dan harus mengganti baju khusus disitu. Bapak itu belum juga keluar dari ruangan, dia bilang, "Nanti saya keluarnya yah, masih dua pasien lagi yang X-Ray..." dan saya harus memaklumi itu. :'(

Sampai dua pasien tadi selesai, saya tidak keluar dari bilik ganti baju :'( dan si Mbak Mawar serta petugas satu lagi tertawa bersama bapak itu karena si bapak (mungkin bagi dia bercanda) mengeluarkan kalimat hinaan begini, "Ya hebatlah! Bertahun-tahun saya kerja disini, belum pernah ada yang kayak gini... Katanya 'suami tidak ridho kalau petugas laki-laki', hahahahaha, ya sudahlah, memang silakan jadi wanita solehaaaaaaaah (nada 'solehahnya' ditekankan, dan teriakan itu terdengar jelas olehku...), nanti masuk surga, hahahahahahaha...." ketiga orang itu terbahak-bahak.

Kalau tidak ingat Allah ta'ala, saya bisa melampiaskan rasa lelah dan penat ini dengan merobek mulutnya, :-), tetapi walhamdulillah saya masih berpikir positif, saya amin-kan saja do'anya, "Aaamiin.... semoga Allah ridho, suami dan orang tua ridho, serta semua sahabat saya ridho dan ikhlas sehingga melancarkan perjalanan saya sampai akhirat, aamiin..." tenang qolbu dalam dzikrulloh.

Ternyata bapak ini tidak keluar dari ruangan, 'dia hanya duduk di dekat pintu' dan tetap memperhatikan alat X-Ray-nya ketika saya keluar bilik dan X-Ray. :-( Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun, saya sudah berusaha maksimal, Ya Allah... Saya serahkan padaMu, hanya Engkau sebaik-baik pemberi adzab setimpal, aamiin.

X-Ray yang agak lama itu tetap dibumbui 'humor sadis' si bapak yang masih terdengar pada saat saya berganti baju kembali.

7. Kemudian di depan ruangan lain (ruang dokter), ada mbak gemuk berbaju coklat (kaos biasa, bukan baju perawat), ia memeriksa tekanan darah, berat badan dan tinggi badan. Lalu ia menyuruh masuk ke ruang dokter...

8. Dan (saya melihat CTKI yang diperiksa sebelumnya disuruh telanjang!) mbak gemuk itu menyuruh buka baju juga, tetapi saya menolak disuruh telanjang (Lhoooo..... what's a hell that time!). Saya melepas hijab di situ, dia mengomentari alergi-an di sekitar kening dan telingaku. Sebenarnya tidak perlu saya jawab, (karena lagi-lagi) saya bukan CTKI! Namanya 'ikut suami', yah meskipun (misalnya) tidak punya tangan, tidak punya kaki, buat apa anda komentari, toh tetap saja saya harus 'ikut suami', alias tetap jadi istrinya kangmasku dan tetap berangkat juga ke Kuwait, ya toh?!

Namun untuk mengobati penasarannya, saya jawab jujur bahwa kulit sekitar kening dan telinga kan 'baru merasakan panasnya Jakarta-ibu kota', "Saya terbiasa di suhu dingin, mbak.... dari Poland, dekat Jerman, dekat Austria... disini panas, lagi pula hormonal juga, sudah tiga bulan merasakan berat berjauhan dengan suami, apalagi menanggapi complain dan ulah anak-anak yang kangen abinya..." si mbak cuma bengong ber-oooh panjang, sambil tetap menyuruh melepas bra! *Ggggggrh!!!*

Lalu mengecek mata, *tes huruf-huruf*

9. Dan datanglah dokter berjilbab lebar nan ramah, mengucapkan salam, dokter ini usianya kira-kira lebih tua sedikit dari ibuku, dokter memasang mimik muka bingung, "Lhooo, mbak ke Kuwait ikut suami?", ujar dokter. "Iya, dok... insya Allah, sama anak-anak, memang kita baru pindah dari Poland..." kataku. Dokter mengecek detak jantung, seraya bilang, "Anak saya juga ikut suaminya, di Aljazair dan Oman... Gak perlu sampai check up semuanya. Kan bukan TKI," lirik matanya seolah bertanya kepada si mbak gemuk. Mbak gemuk mengangkat bahu dan wajahnya seolah berkata, "Saya gak tau apa-apa juga..." :-D

Dokter bilang, "Ya udah, cukup, sehat-sehat... Insya Allah hasilnya bagus semua, duh, padahal tidak perlu sampai check semua...."

Masya Allah... Percakapan ringan yang makin membuatku tahu betapa hancur dan bobroknya urusan prosedur MCU ini!

10. Segera rapi kembali, saya konfirmasi ulang ke Mbak Melati, "Besok pagi jam berapa saya bisa telepon?" dia menjawab, "Setelah jam sepuluh..."

Saya ceritakan percakapan ringan sama dokter wanita tadi, "Dokternya aja bilang, lhooo, kok ikut suami juga check upnya kayak gini? ke GAMCA dulu pula, aneeeeh, mbak...." ujarku, si mbak berusaha tersenyum, "Yaaah, dokternya kan cuma meriksa, mbak.... dia gak tau urusan-urusan prosedurnya...." (artinya si dokter 'cuma' diper-alat untuk ngecek, gitu?! Silakan simpulkan sendiri...)

Zaza,si bunda, dan Zizi yang sudah letih dan kehabisan bekal cemilan, hihihi...

Kami tiba di rumah pada jam delapan malam, sekitar pukul 6 (beberapa menit sebelum adzan magrib) kami meninggalkan Assa'adah, anak-anak sudah terbangun dan mengisi air minum di ruang tunggu tadi.

Keesokan harinya jam sebelas siang saya telepon, di klinik Assa'adah ternyata banyak 'line' teleponnya juga, saya disambungkan dengan petugas khusus 'buat tujuan Kuwait'. Saya menyebutkan nomor urut check up yang kemarin, lalu beliau menjawab, "Hasilnya semua bagus, mbak. Alhamdulillah, tidak ada yang perlu diperiksa ulang..." (Belum tau yah bu, kalau saya setiap mau liburan juga MCU di Poland, hehehe, dan gratis! :-D)

Setelah kupastikan bahwa memang 'result MCU' boleh diambil oleh mbakku, ya udah... Mbakku sendirian kesana dari Karawaci~ dia bawa semua fam-visa original, dan KTP-ku sekalian. Alhamdulillah, perjalanan naik turun bus patas plus bajaj dan angkot lancar, mbakku menunggu sekitar dua jam di assa'adah (karena sertifikat MCU dibuatkan ketika fam-visa original dipegang oleh mereka).

Kamis itu, MCU welldone. Jum'at siang, Pak Ahmad~translator menelepon, SKCK welldone. Namun kami tidak punya pilihan untuk langsung ke Embassy Kuwait-Jakarta, itu kan hari jum'at, weekend dimulai, maka kami menunggu sampai senin.

Alhamdulillah, sabtu bisa istirahat sambil merapikan packing-an, ahad kami berlibur ke taman buah Mekar Sari, saatnya refreshing buat anak-anak, bergembira, bermain, dengan tetap memetik pelajaran :-)

Terima kasih sudah menyimak, sobat-sobat tersayang :-)

:-)Salam ukhuwah, happy busy days...

Barokalloh always!

3 comments:

Dian Novianti said...

Hiks, teganya tu petugas x-ray. Apa dia g takut kalau istrinya ato keluarganya yg perempuan dilecehkan seperti itu?
Alhamdulillah, Mbak bisa sabar. Kalau saya, mungkin sudah langsung mengeluarkan kata2 'super pedas' saya. *jd esmosi. :-)
Salam Kenal, Mbak Sry.

bidadari_Azzam said...

*salam kenal, big hugs ukhuwah* mbak Dian... :-)

Begitulah say, kalau mbak-mbak dan ibu-ibu lainnya di dalam klinik-klinik urusan CTKI itu, "jadi topless hidangan cuci mata" petugas laki-lakinya. Gak hanya KPK yang harus sidak, MUI juga harus "jalan-jalan ke lokasi, coba..." (aaamiiin...)

Ada dua alasan kenapa taring macan saya gak saya keluarkan, hehehe :
1. Saya dah capeeeek, mbak... Tiga urusan itu, kami selesaikan satu hari : SKCK +translate, ke Gamca, ke klinik. Jam 5 sore, dari Tangerang subuh, letih sekali.
2. Saya udah diiringi do'a sobat-sobat, baik sisters dimanapun, juga teman-teman di tempat pulkam dan sobat wartawan, :-), serta minta do'a 'lancar segala urusan' dari ortu, juga dari Syekh Ali Jabeer pas beliau ceramah di saat acara bareng Yatim Mandiri... (ini belum saya publish artikelnya). Pasti mereka mendo'akan lipat-lipat jumlah pil sabar yang saya santap, :-D hahaha...

Alasan lain adalah saya ingin membiarkan adzab Allah yang tentu lebih pedih untukNya dan keluarga, dibandingkan energiku balas mencacinya... :-)

AmLa said...

Mbak, emang kalo X-Ray bener-bener kelihatan kayak kulit (maaf) telanjangnya gitu?

Ini beneran pertanyaan serius sesama wanita ya mbak. Saya dari dulu punya pertanyaan yg sama. Tanya dokter2, jawabannya tidak relevan: 'Lho kan petugasnya biasanya profesional' ya mereka belum tahu kan sindikat GAMCA!

Mohon bimbingannya mbak