Photobucket

Wednesday, August 10, 2011

Ramadhan Selalu Dirindukan❤




Bergulirnya waktu, tamu yang dirindukan itu hadir kembali, bulan suci ramadhan, yang bagi setiap orang beriman selalu menjadi penge-charge diri. Cita-cita mencapai target-target di bulan penempaan itu selalu hadir dalam pribadi-pribadi manusia yang menginginkan kecintaan-Nya, ramadhan dihadirkan untuk membentuk manusia yang bertaqwa (sebagaimana yang kita hayati dalam QS.Al-Baqarah [2]: 183).

Ramadhan bulan pembinaan, bulan peningkatan kesabaran, bulan penuh momen indah sebagai kenangan, bulan panen berlipat ganda amalan kebaikan, bulan berbonus-bonus reward-Nya, dan berbagai sebutan hebat lainnya bagi hamba-Nya yang ingat akan akhirat.


Sempat seorang Maimunah bertanya kepada ketua komunitasnya saat rapat penutupan acara bakti sosial ramadhan, “Kak, sebagaimana yang diutarakan Ananda Hasan, Sholeh, dan teman-temannya, mereka merasa ramadhan adalah bulan dambaan, mereka dikirimi makanan, dikasih uang buat beli buku, diajak belajar bersama, mereka senang sekali, namun mereka bertanya ‘cuma bulan ramadhan aja yah, acara bakti sosial buat anak jalanan semacam kami, kak?’, Duh, saya juga ikut sedih mendengarnya. Bisakah saya usulkan agar kita adakan pula acara semacam ini seusai ramadhan, meskipun tidak sering, setidaknya di jadwal liburan sekolah atau beberapa bulan sekali, kita pun punya waktu luang, kan?”, harapan yang sungguh besar, Maimunah menyayangi adik-adik asuhnya,jua para jompo yang mereka santuni, juga sekumpulan eks-TKW, dll, tapi Maimunah juga memahami kesibukan yang luar biasa, aktivitas padat rekan-rekan dan kakak-kakak seniornya membuat mereka ‘hanya’ leluasa berkiprah di bulan ramadhan.

Beberapa seniornya menjawab ide Maimunah dengan jawaban klise, “Inginnya sih begitu, dik. Tapi kita belum bisa melakukan kegiatannya seusai ramadhan, dan memang donatur hanya ramai di bulan ramadhan. Mungkin nanti suatu saat, ide itu bisa kesampaian…”.

Selanjutnya baca di link Oase iman-Eramuslim yah, ;-)
Semoga bermanfaat, Happy Ramadhan (^-^). Selamat mengoptimalkan amalan ibadah di bulan mulia ini, barokalloh always, amiin...

Monday, August 1, 2011

Di Ujung Senja Menyapa Ramadhan

Subhanalloh...


Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh


Tahmid wa sholawat...



1 Ramadhan kali ini, bertepatan dengan milad seorang mujahid, 29 tahun ;-)... Barokalloh kangmas, Abu Azzam (^-^)

Jua bertepatan dengan milad pernikahan kami yang ke-9 tahun. (sssst... nantikan buku kita terbit yah ;-))...
Happy Wedding anniversary yah Kakanda... Semoga Allah ta'ala melimpahkan kemudahan bagimu dalam memimpin keluarga, mendidik istri&anak-anak serta memberikan kekuatan untuk selalu istiqomah di jalan keridhoan-Nya, amiin... syukron jazzakumulloh khoiru jazza buat sohib-sohib yg senantiasa mendo'akan... :-)

Kami sekeluarga di Krakow mengucapkan Marhaban Yaa Ramadhan...
Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan, semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik, amiin...
Semoga saudara-saudariku dilimpahkan-Nya kebahagiaan yang lebih baik daripada yang saya rasakan, amiin, I am a happy daughter, a happy kid, a happy student, a happy friend, a happy wife, a happy sister, a happy mom, a happy mosleemah... (^-*) Allah always give me everythings I need...


Di Ujung Senja Menyapa Ramadhan

Dari link Eramuslim ini yah... :-)

Oleh bidadari_Azzam

Di ujung senja
Dahulu tampak keramaian di pesisir pantai
Menanti mentari tenggelam tanda sya’ban usai
Berbondong-bondong menyambut tarawih pertama nan syahdu

Episode berlalu
Kelopak mataku masih mengenang sapaan senja
Tatkala bersorak-sorai bersama teman-teman
Berlomba merapikan sajadah seraya sibuk berceloteh
Tentang menu sahur yang diimpikan
Tentang tugas catatan ceramah dari pak guru
Tentang cita-cita ‘Pol puasa sebulan’
Tentang mukena baru atau baju lebaran

Di ujung senja
Awal bulan mulia memang selalu syahdu
Lambaian nyiur serta sepoi angin
Menambah getar-getar rindu

Episode bersama sosok sahabat sejati
Memanggul tas usang penuh buku
Antrian panjang untuk segelas sup buah segar
Menu berbuka andalan selain nasi pecel sepiring berdua
Usai tarawih lanjutkan tugas skripsi
Tidur malam sekejap saja
Tilawah bersama menanti adzan subuh
Lalu berkutat kembali pada jadwal anak kampus

Di ujung senja
Berbeda masa nan tetap indah
Bocah tampan penambah erat cinta
Ingatkan diri telah menjadi sosok orang tua

Episode merangkul para jundi
Berpuasa penuh dan bangga memiliki ramadhan
Makin bahagia ketika tangan tak lagi di bawah
Tak ada baju baru lebaran ataupun menu istimewa
Kecuali memperbarui hati dan introspeksi diri
Tetangga nun jauh tetap didekap
Sekumpulan yatim yang ayahnya ditembak mati atau diculik lalu disiksa
Dengan label ‘teroris’ penuh cacian

Terkuak berita ‘kecil’ dari sosok rakyat jelata nan kehilangan nyawa
Serangan fitnah (lagi-lagi) atas label teroris
Sementara para penguasa makin sewenang-wenang
Bermain ‘catur’ skenario tipuan buat riuhnya pertiwi

Episode memuakkan ketika harus menjadi penonton
Para ‘teroris’ terus-terusan difitnah dan dipendam dalam tanah
Dikubur hidup-hidup dengan siasat adu domba antar-saudara
Sedangkan para pembunuh berantai alias koruptor terlaknat tetap bebas
Para perampok rakyat alias srigala berbulu kambing makin bermegah-megahan
Tertawa dengan topeng bopengnya
Jua terbahak saja dengan nasib pewaris negeri
Termasuk tawa ejekan pada para ‘teroris’ yang telah jadi tumbal

Di ujung senja
Episode senja pasti berakhir
Terkenang selalu bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam berwasiat,
Ambillah lima perkara sebelum lima perkara
Waktu muda sebelum tua, sehat sebelum sakit,
Masa kaya sebelum fakir, masa luang sebelum sibuk,
Masa hidup sebelum datang kematian
Segala episode harus berbalut manfaat

Sambutan penghujung senja masing-masing kalbu adalah berbeda
Gembira karena curahan hidayah-Nya
Ataukah penuh gerutu dan penyesalan atas terbuangnya masa
Senyum cerah atas genggaman bekal perjalanan dunia
Ataukah hanya tersisa kerutan dahi jua bibir cemberut nan keriput
Tanyakan kejujuran nurani
Cinta akhirat ataukah takut mati
Menapaki episode senja bahagia ataukah galau diri

Duhai Sang Maha Pemilik Jiwa
Curahilah hidayah di segala masa dalam perjalanan kami
Berkahilah episode senja mulia awal ramadhan ini
Berharap kualitas pribadi kian bermakna


Setiap ramadhan terkenang akan kata-kata sang bapak kepada putrinya, suatu senja, “Tamu agung telah datang lagi. Tidak terlupakan semua kenangan. Seindah tahun sembilan belas delapan tiga usai gerhana, bulan berkah berbonus anakku yang baru dilahirkan ibunya.”

Sang anak bertanya, “Siapa tamu agung itu, pak? Dan siapa itu yang jadi bonusnya?” Bapak tersenyum, “Tamu agung itu adalah si bulan mulia, dirindukan seluruh insan, Ramadhan Mubarak! Dan kamulah bonusnya, kamu lahir di bulan mulia itu, sungguh membawa berkah…subhanalloh!”

Seraya memeluk sang bapak, si anak berucap, “Duhai bapak, kehadiran bapak dan ibuku lah yang merupakan nikmat dan keberkahan yang besar buatku…”, sungguh indah kasih sayang-Mu.

(bidadari_Azzam @Krakow, jelang subuh 27 juli 2011)


"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka". (QS. Ali Imran : 191)

salam ukhuwah, ya... Barokalloh... (^-^)

Thursday, July 28, 2011

Budi Baik Mang Ujang

eh, dulu gak sempat jepretin kamera ke becak Mang Ujang, sementara ini nampangin pic bang Sayyif dulu deh, hehehe ^^


Lama ingin kuceritakan tentang beliau, namun kesempatan untuk mengenangnya melalui tulisan barulah hadir saat ini. Sosok bernama pendek Ujang ini adalah mantan supir di kantor tempat bapakku bekerja dahulu, beliau bertugas khusus buat mengendarai mobil dinas tim atau shift kelompok bapak.


Karena telah tiga kali kecelakaan kerja, Mang Ujang pun menjalani pemeriksaan kesehatan, ternyata ia sudah mengalami kemerosotan indera pendengaran. Pantas saja, kita harus berteriak kalau ngomong dengannya, harus kencang dan kadang diulang-ulang, beliau lebih mengerti gerakan mulut lawan bicara, suara kita tak terdengar jelas di telinganya. Maka ia berhenti bekerja namun tetap “orbit edarnya” di wilayah kompleks perumahan kami, menjadi seorang pengayuh becak.


Beliau termasuk pengayuh becak unik, lho, “jam kerja bebas”, lebih sering “nongkrong” di rumah kami atau di beberapa rumah tetangga yang paling akrab dengannya. Pokoknya, tidak mengejar setoran, selalu ramah, ‘nyantai’ beraktivitas. Saya dan kakak-kakakku sering saling menggoda, “hayooo…. Kenapa Mang Ujang selalu nongkrong paling lama di rumah kita?”, Jawaban yang serius adalah ‘karena bapak dan ibu kita sering meminta pertolongan tenaganya’.
Tapi kakakku yang usil sering menjawab (sambil pura-pura serius), “Karena… eng ing eng! Karena sebenarnya ada satu anaknya di antara kita, yang dititipkan di rumah ini!”, terang saja kami bisa saling lempar bantal atau handuk mendengar jawaban tersebut, (hehe, canda yang agak menyebalkan) apalagi mata kakakku itu ‘menuduh’ salah satu di antara kami, yang jelas-jelas tuduhan palsu, semuanya tak ada yang mirip Mang Ujang kok, dan secara fakta sudah jelas anak kandung bapak ibuku adalah kami berenam.

Tapi seringkali Mang Ujang jadi ikutan meladeni candaan itu, saat kakakku bertanya, “Mang Ujang kesini mau jenguk anaknya yah…?”, seraya melirik adik dengan goyangan bola mata yang usil. “iya…iya, dong…hehehe”, seloroh Mang Ujang. Wuaaargh, mulai deh rumah kayak panggung sandiwara, ada yang menangis, karena ‘gak rela’ menukar bapaknya jadi Mang Ujang.

Dalam kesehariannya saat tak mengayuh becak, beliau sering dimintai tolong oleh kami atau para penghuni kompleks lainnya, misalnya mengecat rumah, memperbaiki pagar, menata kebun/halaman, memotong rumput, menguras kolam ikan atau bak mandi besar, membetulkan atap rumah, ikut kerja bakti lingkungan RW atau menemani mudik ke desa. Sesekali beliau membantuku di halaman rumah, memunguti jambu, alias saya yang memanjat pohonnya, lalu dia yang memunguti buah jambu ketika keranjang yang kusodorkan dari atas telah penuh, sekaligus dialah yang menyapu dedaunan jambu tersebut.

Mang Ujang hanya menerima dengan ikhlas, berapa pun honor yang diberikan orang-orang atas pekerjaan ‘serba-bisa’-nya itu. Kalau ada yang bertanya blak-blakan, “Berapa yah yang harus saya bayar, Mang?” Beliau ini tetap hanya menjawab, “Seikhlasnya aja bu…”. Demikianlah akhirnya para tetangga sering saling tanya terlebih dahulu mengenai honor buat Mang Ujang agar ‘sama-sama enak’, maklumlah, tak sedikit pula yang kurang puas akan hasil pekerjaannya karena permasalahan pendengaran beliau, contohnya kalau disebutkan harus begini-begitu, bagian ‘ini-itu’, mungkin yang ia kerjakan hanya begini, trus tersisa pekerjaan bagian lainnya itu.


.....Lanjutin baca di TKP Oase iman-Eramuslim yah, ;-)

Barokalloh with family, Selamat bersiap-siap ramadhan yah... :-) salam ukhuwah!

Monday, July 18, 2011

Terpeleset Makna



Sudah sepuluh tahun lebih, usia sudah bertambah, tapi soal “memelestkan makna kata” masih tak berubah juga, itulah ciri khas teman SMU-ku, sebut saja Fulanah. Sebenarnya ia ramah, pandai bergaul dengan siapa saja. Namun pelesetan katanya sering berbau pornoaksi, membuat banyak teman ‘gak enakan’, tak nyaman di dekatnya.

Ada beberapa kalimat yang terdengar islami, tapi dia pergunakan di saat yang tidak tepat. Contohnya saja ketika teman kami kehilangan sandal di kala tarawih di masjid, “Waduh, ikhlaskan aja, yah teman…Innalillahi…”, bisik salah satu teman lainnya, menghibur.

Tapi sahutan si Fulanah lain lagi, “Kamu juga sih, sandal baru koq dipake’ ke sini…? Kan kamu tau bahwa kata pak ustadz ‘tinggalkanlah yang buruk, pertahankan yang bagus…’, jadi pasti ada orang yang ninggalin sandal bututnya nih, dan menukar dengan sandal baru kamu…hehehe”.

Lalu pada saat Fulanah naik motor pakai rok pendek, tiba-tiba roknya tersingkap, dan ada teman yang mengingatkannya, “Kamu jangan doyan nambahin dosa kayak githu donk… panjangin dikit kek kalo’ pake rok, atau pakai celana panjang aja kalau bermotor…”.
Si Fulanah dengan lancar menjawab, “Sapa yang nambah dosa, neng..? Gue malah dapat pahala, yaaah sedekah lah sekali-sekali ini biar orang yang melihat kan cuci mata, segeran dikit githu…”, Astaghfirrulloh…


Sama halnya suatu hari ketika ada ujian di sekolah, pengumuman ujian dadakan, Fulanah dengan entengnya mengatakan kepada teman yang pintar, “Kasihanilah saya… gak belajar nih di bab itu, siapa yang mau nambah pahala dengan menconteki saya jawabannya…?”, idih, aneh tapi nyata, kadang-kadang merinding juga mendengar celotehan Fulanah, banyak kalimatnya harus disensor. Kalau “sukses” menggoda lawan jenis, Fulanah akan bilang “saya harus bersyukur atas karunia cowok ganteng…”, ckckckck.

Di saat ada yang bercanda dengannya, bercakap tentang neraka, “Ih Fulanah… ngomong kok gak hati-hati sih…? Mau tenggelam di neraka yah…?”, si A nyeletuk.

Dilanjutkan si B ikutan menyindir Fulanah, “Mungkin dia akan jawab begini, ‘gak apa-apa, asyik di Neraka dong, kan ketemu aktor dan artis favourite gue di sana, gak usah capek-capek minta tanda tangan’, hehehe”, hmmm, menohok banget deh sindiran si B, si Fulanah malah membalas ejekan itu dengan menjulurkan lidah dan menjambak rambut si B.

Silakan lanjutkan di link Oase Iman-Eramuslim berikut yah, :-)
Waspadai terpeleset makna, duhai teman-teman...
Salam ukhuwah...

Tuesday, July 5, 2011

Pelindung Terbaik Adalah Allah SWT

parents day 2011




Dari tempatku berdiri ketika membersihkan peralatan makan di dapur, selalu ada pemandangan menarik di luar jendela.

Kadang-kadang ada bapak berseragam petugas keamanan yang berpatroli dan menempelkan cap di salah satu tiang sebagai tanda bahwa trotoar di depan appartemen kami sudah dilewatinya.

Jika pagi hari sekitar pukul delapan, kerap kali terlihat seorang ibu yang saling melambai tangan dengan dua balitanya, si ibu akan berangkat kerja, sementara dua balitanya dititipkan pada pengasuh.

Ada kalanya pengasuh bayi merupakan tetangga sendiri, namun kebanyakan disini para manula (yang sudah pensiun) memiliki profesi sebagai pengasuh balita jika mereka tak mengasuh cucu sendiri.

Tentu saja anak-anak yang diasuh biasanya senang dengan para nenek/kakek pengasuh mereka karena merasa seperti bersama nenek/kakek sendiri. Cuma sedikit miris hati ini, tak semua anak tersebut bergembira, terlihat dari sorot mata jujur mereka. Kadang-kadang dramatis, si anak menangis atau meronta, memeluk kaki ibunya yang akan berangkat kerja.

Saya yang setiap hari bersua mereka, terkadang melihat para pengasuh tersebut sibuk mengobrol beberapa lama, membiarkan anak-anak sibuk dengan mainan di taman. Padahal, dalam hatiku merasa was-was, anak anak balita masih harus didampingi memainkan perosotan apalagi ayunan dan kursi putar, bahaya dong.

Di lain waktu, nenek pengasuh itu sibuk bercakap di ponselnya selagi si balita asuhannya digoyang-goyangkan di kereta bayi. Lain waktu pula, si nenek sedang mewarnai kukunya sambil selonjoran di kursi taman! Dan yang lebih parah, saat kulihat nenek-nenek itu dengan asyiknya merokok di tengah anak-anak yang ceria bermain.

Saya rasa para mama-papa muda itu lupa, menitipkan anak-anak mereka pada manula disini, berarti menitipkan pada sosok-sosok yang ‘malas baca berita’.
Jelas saja mereka tidak tau bahwa terjadi peningkatan jumlah balita meninggal dunia karena resiko sebagai perokok pasif (akibat orang tua atau pengasuhnya merokok) selain karena kelalaian dalam beraktivitas.


Tapi untuk menitipkan di “rumah asuhan”, selain harus menerima kenyataan pengawasan balita tak bisa se-intensif di rumah sendiri (karena pengasuhnya tak banyak), juga harus antrian panjang saat mendaftar rumah asuhan.

Jadi misalkan anda akan menitipkan anak di rumah asuhan untuk periode 2011, maka anda harus mendaftarkan anak anda di tahun 2009. Saking banyaknya peminat yang ingin menitipkan anaknya, kalau kata teman-teman lokal, banyak wanita eropa memang lebih memilih karirnya di luar rumah dari pada stress mengasuh anak-anak di rumah.

“Anak-anak tuh tingkahnya banyak kan, seharian bisa mondar-mandir seluruh ruang, main di taman sampai baju kotor, mandi sambil ciprat-ciprat air, makan sambil belepotan, minum bisa tumpah-tumpah, lemari baju diacak-acak, ruangan bisa dibikin jadi kayak kapal pecah, dan lain sebagainya…”, rasanya kalimat itu memang sering membuat kita mengangguk-angguk. Dan memang cara itulah sebagai bentuk kreativitas anak-anak, toh...

...
Hmmm, lanjutkan bacanya di link Oase Iman -Eramuslim berikut yah... :-), salam ukhuwah dari Krakow, teman-teman, syukron jazzakumulloh khoiru jazza atas kunjungannya (^-^)