Photobucket

Wednesday, December 7, 2011

Belajar Hikmah dari Roti





Bismillahirrohmaanirrohiim...
^-^ ❤ Sebenarnya ini adalah artikel lamaku sewaktu baru-baru belajar membuat roti, hehehe...

Kuperhatikan sosok bulat itu, Roti. Lega dan puas saat menyaksikan Suami dan Anak-anak menyantap roti daging sapi itu. Enam bulan lebih kami tidak menikmati daging, sebab di Krakow tak ada daging yang dipotong secara syar’i.


Alhamdulillah, seminggu lalu Allah SWT mempertemukanku dengan Muslimah yang Suaminya pengusaha daging halal~daging yang dijualnya adalah daging Sapi halal, yang disembelih sesuai syariah Islam di Warszawa, lalu dikirimi ke kedai-kedai Kebab berbagai Kota di Poland ini. Sungguh luar biasa, hikmah-NYA selalu indah. Kini kutatap dengan bahagia piring-piring yang telah kosong~roti daging sudah habis disantap “para pelanggan setiaku”. Alhamdulillah…

Masih kuingat “alam pikiranku” bermain-main saat membuat roti tadi. Dengan basmalah kumulai membuatnya, di dapur miniku yang sangat menyenangkan. Ada rasa tak tega saat mengocok-ngocok telur, mengaduk-aduk tepung dan mentega, lalu mencampur dengan ragi, gula, garam, dan bahan-bahan lain…

Lalu saat adonan telah tercampur, bahan roti itu harus kuuleni hingga kalis, kutekan-tekan, kupukulkan pada telenan, lalu diuleni lagi, lalu dipukul-pukulkan lagi, uleni lagi, dan terus diuleni hingga kalis. Dalam hatiku, kalau roti ini bisa bicara, pasti dia menjerit, “Awww, sakiiit!”

Apalagi saat telah kalis, harus ditutup di baskom atau wadah yang rapat (sambil ditutupi handuk/serbet), aku masih sibuk berpikir, kalau saja dia bisa bicara, pasti dia menangis, “Duh, huaaa…huaaa… gelapnya…!”

Terima kasih Eramuslim, kami mau melanjutkan bacanya di Oase Iman-Eramuslim, sip deh... ;-)

Salam Ukhuwah dari Krakow! Barokalloh selalu...

Monday, December 5, 2011

Kabar Si Dua Bayi.... :-D




Alhamdulillah 'ala kulli hal!

Bang Sayyif pas udah masuk pre-skul sejak oktober lalu, eh langsung jadi tertib, cara makan-minumnya tambah rapi, lho.... (^-^) Banyak prakaryanya, lucu-lucu dan unik, bang Sayyif suka banget main alat-alat pertukangan & mobil traktor di sekolah. Tapi kalau weekend, ia jauh lebih manja, mau nempel-nempeli ummi-abi dan bang Azzam, serta adeknya, bergulung-gulung di selimut, minta diciumi ribuan kali, ciumnya pake' bunyi, mmmuach, mmmuach gitu... Hehehehe. Trus, kalau ada tamu/teman-teman kita, pas say bye-bye tamunya mau pulang, dia bantuin tamu tersebut mengambil jaket, sepatu atau tas si tamu. :-) Dan dia minta dipeluk dan dicium serta kisses-bye-nya gak ketinggalan... Dan gak puas cuma sekali-dua kali, pokoknya berkali-kali big-hugs sama dia, jelas aja semua orang makin gemesss sama bang Sayyif...

Dan si Dedek Zuhud, Oalaaah, baru 5 bulan usianya tempo hari, sudah bisa merayap dan ngamuk kalau 'mainannya' diambil... Tapi mainannya bukan si busa jamur, bantal boneka, bola monyet atau krincingan, :-( kayaknya gak level deh... Zuhud ngincer plastik bungkus tisu basah (kan ada bagian yang tajam pinggirannya! :-( hu hu hu....), trus kertas (senang dirobek-robek, hiks...makanya harus diawasi melulu, takut kemakan serpihan kertas...), Al-Qur'an...(Wuaaaargh.... sedihnya kalau sampai robek---kudu extra diawasi makanya sering cepetan diumpetin biar si dedek gak lihat, qur'an terjemahan yang kita punya kan ada risleting kayak dompet gitu, itu sangat menarik hatinya...), kadang-kadang ia mainin kaos kakinya (yang dilepas sendiri atau dia tarik-tarik selimut dan digigitin...). Bravo Baby Zuhud, Alhamdulillah...sekarang Lulus ASIxnya, pas 6 bulan, :-)

Meskipun nih bayi berdua nenennya barengan sampe' emaknya tepar... karena kudu kesana-kemari (jemput abang sekolah dan jadwal lainnya, pulangnya kan ke dapur-masak dan makan lagi, nenenin lagi... terus masak lagi dan ngemil lagi...) hehehe, tapi aq tetap senang, apalagi kalau udah menjelang malam, suasananya jadi romantis. Sebab di lengan kananku, ada tangan bang Azzam yang mijitin, di lengan kiriku---ada tangan mungil Sayyif yang juga mijitin (suer! enak juga lho pijatannya! :-P, di atas dadaku ada tubuh mungil the baby Zuhud (ini terapi sehat alami, suara jantungnya terdengar merdu...), dan si Abu Azzam sedang gantian di dapur, bantuin menyiapkan teh serta nasi goreng... ❤(^-^) Memang asyik banget kalau kompak! Semoga Allah ta'ala mengekalkan kekompakan kami hingga akhirat, amiin....

O-iya... ternyata pangeranku mengirimkan hadiah tulisan ini... Buat Bidadariku, Makasih yah kakanda sayang, ;-) *sebentar....eits jangan sampai melayang-layang nih*, ;-P karena ternyata tulisan tersebut malah bikin tambah cembokur bagi si-ex-ex zaman dulu, :-)) (yeeeh, Abu Azzam sih banyak penggemar, hehehe). Ehem, ❤(^-^) namun kuakui, sosok imam disisiku merupakan sahabat yang amat penyabar, dialah yang menularkan kesabaran padaku, yang mengingatkan kalau-kalau suatu waktu aku masih mengeluh, yang memberikan pelukan tulus kalau daku lagi 'ngamuk-ngambek atau kesal', dan dari dialah daku belajar lebih mandiri, lebih dewasa dan lebih rajin menata aktivitas sehari-hari serta mawas diri ketika menata emosi.

Ingat-ingat selalu sabda rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, “Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta benda. Tetapi, kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati).”


Kapan-kapan sambung lagi deh... (serius! masih belum bisa komitment kalau disuruh menyusun buku buat diterbitkan, jadi mohon banyak-banyak dido'ain saja....) Barokalloh, Salam Ukhuwah... ❤(^-^)

Ummi, Duitnya Cukup Gak?



Pertanyaan itu muncul dengan spontan, “Temanku bilang, Mamanya harus kerja siang dan malam karena duit Papanya tak cukup buat beli makanan dan keperluan yang banyak. Kalau Ummi, duitnya cukup gak?” ada-ada saja Si Lucu yang satu itu, jawabanku juga sambil bercanda, “Alhamdulillah cukup, memangnya Abang mau nambahin duit belanja Ummi?”

Sambungnya, “Iya, nanti kalau sudah besar, aku kerja lap-top-an kayak Abi. Trus kan nanti ada duit buat nambahin duit Ummi, hehehe”, “Gak usah, duit Ummi cukup, Ummi gak mau tuh minta duitnya Abang…” kataku. Sulungku kaget, “Lhooo, kenapa Mi? kan enak kalau banyak tabungan di bank? Tabungan Ummi udah banyak yah…bilang dong sama Abang?” Kalau diladeni, pertanyaan ini akan panjang kayak gerbong kereta api.

“Ummi cuma minta supaya anak Ummi jadi anak sholeh, disayang Allah. Gak perlu ngasih Ummi duit, Ummi nanti dikasih Allah hadiah yang lebih besaaar…” kukedipkan mata seraya kembali ke dapur, sebab kemarin sulungku itu memang mengembalikan uang jajannya buat tambahan duit belanjaku! (Jadi uang itu dipakai buat membayar jajan rotinya sendiri) Ia amat peduli, katanya temannya bilang, “Kamu beruntung, gak diasuh oleh Nanny (pengasuh anak), karena Mama kamu kan kerjanya di rumah saja. Tapi kalau mama kamu kekurangan duit kayak Mamaku, bisa juga sih kamu juga dititipkan pada pengasuh kalau usai jam sekolah…” masya Allah anak-anak zaman sekarang tambah cepat saja menularkan pemikiran. Pernah Saya memberinya uang beberapa zloty Poland sekedar untuk membeli air putih kalau bekal air minumnya habis. Ternyata uang itu tak dibawanya. “Kalau gak penting, gak usah bawa duit Mi… kemarin duitku jatuh 1 zloty karena mainnya lompat-lompat, hilang deh…” ujarnya.


“Jadi, Abang simpan di laci Abang yah?” ujarku. “Iya, Abang kumpulin aja, nanti buat beliin Ummi bunga. Di sekolah kan udah bawa makanan dan minuman dari rumah. Kalau air putih habis, kan ada di dapur Bu Guru. Ada gelas air putih dan buat teh Abang di kelas…” katanya. Hehehe, benar juga, memang di sekolahnya, tidak perlu jajan.

Duit bagi sebagian besar manusia, bagaikan pemegang kekuasaan tertinggi (di-Tuhan-kan). Semua urusan lancar, prosedur yang berbelit bisa mulus dan licin, kesulitan dan ganjalan bisa berjalan mudah karena perkara duit yang biasa disebut ‘kemenyan tambahan’. Duit bisa dikejar-kejar, dijadikan impian. Kalaulah nurani kita masih sesuci anak-anak seperti Bang Azzam, mungkin masih selalu berkata, “Lhoo, duit ini buat apa?” (dengan muka polosnya), jika ada yang ujug-ujug ngasih duit.


:-D Seperti biasanya, lanjutannya sambung baca di link Oase Iman Eramuslim yah :-)

Barokalloh ^-^

Wednesday, November 23, 2011

Akhirnya “Ketahuan” (2)




Lanjutan yang kemarin, lho, friends...

Tak peduli setinggi apa nilai akademik yang telah diraih, sebanyak apa pun bintang penghargaan yang tertempel di badan, seberapa kali pun berhaji, umroh dan berkurban, sepanjang apa pun gelar sarjana, master dan professor pun, kita tetap manusia yang merupakan hamba-Nya nan lemah. Tanpa iman, kita terhina, tiada arah tujuan hidup. Tanpa saling menasehati, hati hampa dan amat mudah terjerumus ke lembah neraka.

Silakan baca di link Oase Iman-Eramuslim ini yah :-)

Semoga kita terjauh dari hal sedemikian, amiin...

Semua kita bisa lupa, bisa lalai, kejadian seperti mereka bisa saja menimpa semua insan. Namun, tentunya kita harus optimis, harus mengokohkan kekuatan hati bahwa Allah ta’ala senantiasa melimpahkan perlindungan terbaik-Nya. Hamba-Nya yang terbaik bukanlah yang tiada berdosa, bukan yang tidak pernah salah, melainkan hamba yang senantiasa bertaubat. Semoga kita merupakan golongan hamba-Nya yang selalu bertaubat, yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, aamiiin, yaa Robbi.

Dan menapaki hari harus tetap bersabar, banyak ujian, godaan, silih berganti celaan, dan juga hiburan. Semua itu dapat kita lalui dengan kesabaran. Allah SWT memang selalu mengingatkan kita untuk bersabar, “Dan bersabarlah dirimu untuk selalu bersama orang-orang yang menyeru kepada Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (Karena) mengharap perhiasan dunia...” (QS. Al-Kahfi [18] : 28)

Wallahu’alam bisshowab.


Salam Ukhuwah (^-^)

Tuesday, November 22, 2011

Akhirnya “Ketahuan” (1)


Di sebuah desa, sudut pulau Jawa, daerah asal salah seorang temanku, ada sebuah aturan yang disepakati para penduduknya, dipatuhi bagaikan Undang-Undang resmi, yaitu “Jika ada masyarakat desa tersebut yang berzina, harus bayar denda sekian, dan sekian”, jumlahnya tergantung ‘pengadilan masyarakat tersebut’. Dan hasil denda itu akan dipergunakan untuk merenovasi segala fasilitas publik di desa itu, misalkan untuk membangun jembatan, merenovasi sistem irigasi, dan lain-lain.

Banyak cerita pilu di desa itu, terutama efek dari penilaian harta benda memang masih dijadikan indikator kesuksesan seseorang, maka segala cara dihalalkan demi memperoleh nominal rupiah sebanyak-banyaknya.

Salah satu kisah Pak Fulan, dia menjadi karyawan sebuah perusahaan yang kantor pusatnya di Jakarta, Istrinya yang masih belum hamil sejak pernikahan mereka menginjak tahun ke-3, akhirnya sering ditinggal oleh Pak Fulan saat dia harus banyak dinas di Jakarta.

Karena sang Istri (meskipun tak ikut ke tempat tugas) ‘dititipkan’ ke saudara-saudara Pak Fulan yang memang ‘wong kampung asli’, Pak Fulan merasa hubungan mereka aman-tentram saja. Meskipun beberapa bulan sejak ia dinas di Jakarta, banyak tetangga berdesas-desus bahwa sang Istri berselingkuh dengan salah satu ketua RT—mereka, yang mana tentunya miris, sebab ketua RT itu kan juga merupakan salah satu orang yang disegani di desa itu, sekaligus salah satu pembuat Undang-Undang unik mereka.

Setiap pulang kampung, Istrinya tetap bersikap manis, keluarga Pak Fulan pun ‘percaya-gak percaya’, belum bisa membuktikan desas-desus yang beredar, khawatir malah jadi fitnah, maka kabar perselingkuhan itu diabaikan saja.

Suatu hari, Pak Fulan ‘mudiknya’ dadakan. Malam minggu, ia tiba di rumah. Dengan sisa kantuk, Istrinya menyiapkan teh panas, lalu sang Istri tidur kembali. Pak Fulan sholat Isya’ usai menghabiskan minumannya, kemudian ia tidur di atas tikar, di samping ranjang Istrinya. Semua lampu dimatikan, hemat energi.

Malam itu, seseorang mengendap-endap ke arah rumah Pak Fulan, tampaknya orang itu sudah terbiasa melihat dalam gelap. Orang itu membuka pintu rumah yang memang ia punyai kunci serepnya! Ketika orang itu masuk kamar Pak Fulan, kakinya terinjak tubuh Pak Fulan yang terbaring di atas tikar. Adegan jadi seru. Otomatis Pak Fulan menjerit, orang itu pun jejeritan, “Awwwww!”. “Siapa itu, maling?!” Secepatnya Pak Fulan menghidupkan lampu, dan orang itu lari terbirit-birit. Sekejap saja Pak Fulan sudah melihat wajahnya meskipun tak mengejar orang tersebut.

Si Istri terbangun dengan mimik wajah malu, tampaknya ‘malu’ yang terlambat, wajahnya penuh penyesalan, ia menangisi perselingkuhan yang selama ini terjadi, Pak Fulan tak menyangka, ternyata desas-desus itu tak hanya kabar angin, Pak RT—alias tetangga dekatnya memang sudah terbiasa memasuki kamar Istrinya, bahkan hanya berkain sarung, sungguh keluarga Pak Fulan berduka, bagaikan dilanda ombak tsunami.


Hffffiuh, Astaghfirrulloh, smoga kita terjauh dari hal seperti kisah pasangan tersebut, amiin... Lanjutkan bacanya di link Oase Iman Eramuslim, seperti biasa :-)

Semoga selalu bersyukur, Salam Ukhuwah!