Photobucket
Showing posts with label Kuwait. Show all posts
Showing posts with label Kuwait. Show all posts

Sunday, June 29, 2014

Ramadhan Mubarok!

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. :-) 
Tahmid wassholawat...







Ahlan wa sahlan...
Yaa Ramadhan Kariim, Ramadhan Mubarok!

Selamat datang tamu agung yg dinanti-nantikan oleh seluruh muslim beriman... #Alhamdulillah bulan mulia nan dirindukan ini telah hadir, hidangan istimewa berupa bonus-bonus tabungan 'rewards-Nya' pun telah siap direbut, teristimewa kehadiran malam lailatul qodar, nan lebih baik dari seribu bulan, masya Allah!

Seiring awal masuk Ramadhan Mubarok, Saya sekeluarga memohon maaf atas segala khilaf, semoga kita semua berhasil meningkatkan kualitas ibadah, melakukan 'apa-apa yg terbaik' di hadapanNya, aamiin...




Duhai Allah, berikan kemudahan bagi kami semua dalam menjalani Ibadah Ramadhan 1435 H, aamiin...

Semoga sahabat-sahabat mendapatkan Rahmat kasih sayang-Nya, ampunan Allah SWT atas segala dosa-dosa, dan Allah berkenan menjaga diri kita sekeluarga dari siksa api neraka, serta meraih derajat Taqwa yang istiqomah hingga akhir hayat... Khusnul khotimah, aamiin yaa Robb.

Selamat Menikmati Indahnya Ramadhan dan Manisnya Iman, dalam keberkahan Allah SWT...



Mari silaturrahim via twitter : @bidadari_azzam 

(Still, you can visit Islamic Center Krakow, I'm here insya Allah... ;-) link islam-krakow.Poland ^_^)
Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. :-) 💖

Friday, May 16, 2014

Ada Apa MERS dengan Unta? :-)



islampos
BAGAIMANA bisa tiba-tiba, Virus MERS yang baru muncul kurang dari lima tahun belakangan ini, menular lewat unta—binatang khas padang pasir yang menemani Rasulullah SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Yastrib?
Berabad-abad lamanya unta hidup di padang pasir, dan tak pernah ada masalah. Dan unta adalah salah satu binatang yang disebutkan dalam Al-Quran karena kelebihannya tersebut. Ada apa unta dengan MERS?
Unta adalah makhluk Allah SWT yang langka, yang bisa bertahan hidup di bawah terik matahari di tengah gurun sahara walau sengatan sinar matahari itu mencapai lebih dari 50 derajat selsius. Binatang berpunuk ini juga bisa berjalan 70 mil tanpa berhenti. Ia bisa bertahan tidak makan dan minum selama 3 hari 3 malam.
Logikanya, jika virus MERS memang berasal dari unta, bagaimana dengan para pengembala unta yang setiap saat hidup bersamanya? Kenapa bukan para pengembala itu yang pertama kali kena?
Apakah semata-mata betul karena unta ini? Apa hubungannya dengan sebuah suntikan yang harus diberikan kepada para jamaah haji dan umroh sekarang ini?

Mengenai hal ini, coba simak pengalaman keluarga kontributor Islampos, Sry Bidadari Azzam ketika melakukan umroh dan haji tahun lalu. “Keluarga kami dan sobat-sobat di Kuwait dan Abu Dhabi yang pergi haji dan umroh tahun lalu, gak pake vaksin-vaksinan, apalagi ‘ancaman gak lulus visanya’ sebagaimana bila berangkat di sebuah negeri. Alhamdulillah, kami semua selamat, sehat lahir batin sampai pulang kembali setelah perjalanan haji dan umroh tersebut,” ujarnya kepada Islampos via BBM.
Berjaga-jaga dan waspada terhadap MERS memang perlu dan harus dilakukan, karena korban virus itu memang betul ada. Cuma menggali informasi dari sumber kedua atau yang lain juga sangat wajib bagi kita, untuk lebih berimbang dan utamanya tidak termakan dengan isu-isu berkembang yang selalu memojokkan segala sesuatu yang berasal dari Islam. Allahu a'lam. []
Barokallohu fiikum, Salam Ukhuwah ... 
 ❤ Mari silaturrahim via twitter : @bidadari_azzam 

(Still, you can visit Islamic Center Krakow, I'm here insya Allah... ;-) link islam-krakow.Poland ^_^)
Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. :-) 💖

Sunday, November 10, 2013

Tempat Terbaik (bag. 1)


Assalamu"alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh... 











 

Alhamdulillah, sepanjang tahun ini kami sekeluarga mendarat di belasan bandara internasional, karena kepindahan kerja dari Poland, silaturrahim di tanah air, selanjutnya pindah dari Kuwait, perjalanan umroh ke baitulloh, kemudian kembali ke Kuala Lumpur, tempat lahir bang Sayyif, putra kedua kami. Tidak sedikit saudara dan teman yang berulang kali menanyakan kondisi kesehatan dan ragam rasa penasaran mengenai perjalanan demi perjalanan yang kami lalui. Biasanya di sela senggang, ada waktu singkat untuk menjawab rasa penasaran tersebut. Satu hal yang pasti adalah Allah Maha Kaya, Hanya Dia-lah tempat kita berserah diri, tempat meminta keberkahan dalam setiap perjalanan ini.

Tujuh bulan di Kuwait merupakan masa indah yang sangat berharga. Kami memetik banyak pelajaran tentunya, apalagi kondisi cuaca panas yang sempat berada dalam suhu 60 derajat Celsius pada bulan ramadhan lalu. Subhanalloh, betapa hebat Allah SWT, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, tak terbayang dan belum pernah ada dalam mimpiku tatkala menyadari bahwa kami berlima ini telah menapaki salju tebal nan beku, kemudian bulan berikutnya melalui padang pasir yang terik. Tiada daya upaya selain kekuatan yang Allah ta’ala limpahkan, tiada yang dapat diucapkan selain istighfar dan hamdalah sebagai kesyukuran hamba. Allahu Akbar!

Di tengah penat mata dan telinga serta raga dalam keseharian dan perihnya merasakan derita di bumi Anbiya, kekuatan atas do’a telah terbukti nyata. Alhamdulillah, saat memohon kelancaran untuk berpindah di tempat yang lebih dekat dengan keluarga di tanah air, iringan do’a ini segera dikabulkanNya. Tak hanya penjagaan supaya hati terus bersabar, Allah ta’ala pula yang menaburkan banyak peristiwa di hadapan mata, agar diri kian belajar. Insya Allah… 



Beberapa contoh yang sangat menohok adalah tatkala setiap minggu isi berita dan kabar dari temanku adalah berita kematian, anak-anak mereka telah kembali kepadaNya. Tak tanggung-tanggung 3 anak dalam satu bulan. Namun hebatnya, saudariku ini masih bisa berucap, “Apalagi anak-anak kita lainnya di bumi Syria, Palestina dan Egypt, yang setiap hari terasa begitu murah harga nyawa, seberapa dahsyat berlipat ganda perih hati para ibu lainnya?”

Seminggu sebelum kami berangkat ke Kuala Lumpur, ada pula tragedi dialami seorang pekerja Indonesia, wanita. Ia telah tujuh tahun bekerja di sana, dan dalam hitungan hari pada minggu itu, dirinya tengah bersiap pulang kampung. Tiket telah dipersiapkan, Cancellation-visa sudah oke, namun tatkala mencari oleh-oleh, seorang penabrak lari telah beraksi, nyawa wanita Indonesia ini melayang, ketika ia tiba di rumah sakit. Yaa Allah, keluarganya harus menerima kepulangan sesosok jenazah. Innalillahi wa inna ‘ilayhi roji’uun.

Peristiwa itu tentu menjadi pelajaran mahal buat para perantau lainnya, termasuk bagi kami. Titik air mata mengingatkanku pada peristiwa yang mirip dengan itu, di saat akhir 2007 di Bangkok, sewaktu kami sekeluarga harus bermalam di rumah sakit ~padahal keesokan harinya adalah hari terakhir di appartemen dan sudah berjumpa dengan manajemen kantor serta pihak manajemen condo untuk mengucapkan ‘good bye’. (ada terselip dalam kisah inspiratif Catatan CintaNya di Krakow). Adanya peristiwa kematian setiap menit memang sudah menjadi bagian dari qodho & qadar, demikian pula berita kelahiran yang mewarnai hari teman-teman lainnya.

Beberapa hari setelah berita duka itu, percakapan antara diri ini dengan seorang sister pun menjadikan hati selalu teringat pada sakaratul maut. “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. (QS. Qaaf: 19) Bahwa diri kita adalah hamba-hamba Allah SWT yang mengisi kesibukan di dunia ini selagi antrian menuju tempat terbaik dalam ketetapanNya. Oh, “Setiap jiwa akan merasakan mati“. (QS. Ali ‘Imran: 185), adalah jelas pengingat buat diri kita supaya tidak seenaknya mengabaikan makna hakiki kehidupan, mengabdi kepada Robbul izzati.

Satu episode perjalanan di Polandia saja belum bisa kurampungkan dalam wujud buku yang dinantikan sahabat semua, apalagi tatkala mengadakan perjalanan darat berumroh ke baitulloh dari Kuwait, serta merasakan keindahan ramadhan dan hari raya di jazirah Arab, hingga urusan kepindahan kembali ke Kuala Lumpur. Ada banyak amanah yang harus segera ditunaikan. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah ta’ala yang senantiasa melimpahkan penjagaan terbaik bagi kita semua. Satu hal yang paling kuingat sewaktu detik-detik keberangkatan adalah bantuan sobat-sobat selalu hadir di saat yang tepat, meskipun problema datang silih berganti terutama atas leletnya urusan dengan orang lokal atau pihak kantor. Sampai beberapa jam sebelum berangkat pun, suamiku harus ke bank, mencairkan cek deposit appartemen karena pihak administrasinya tidak mau memberikan uang cash.

Semenit sebelum check-in, ternyata kami berjodoh jumpa dengan sister Keba dan ibunya. Mereka ini adalah keluarga Egyptian yang merantau di Kuwait, dan berperjalanan umroh bersama kami. Subhanalloh, bangku kami berdampingan dalam bus waktu itu, dan ‘Baba Keba’ (ayahnya) menghadiahi anak-anakku mainan sebelum berpisah, padahal setiap hari dalam seminggu itu beliau selalu membelikan jajanan snacks anak-anakku pula, masya Allah! Alhamdulillah, duhai Allah, cantiknya nurani mereka, indahnya keikhlasan mereka.

Dalam suasana berangkulan mesra itu, Ummah Keba tak henti-hentinya memeluk dan menempelkan pipinya ke pipiku, seraya bercerita bahwa sister akan melanjutkan kuliahnya kembali ke Mesir, meskipun belum ada kejelasan jadwal pelajaran karena situasi disana masih belum stabil. Dengan tanpa air mata dan senyum tulus seperti biasanya, mereka mengatakan bahwa beberapa minggu yang lalu, ada beberapa anggota keluarga yang syahid. Ya Allah… 



Dari sinar mata bening itu, tak kutemukan gundah atau rasa kesal. Sungguh keluarga ini adalah sosok-sosok mukmin yang begitu tegar dan pasrah akan kehebatan Allah ta’ala, Sang Maha Sempurna. Tatapan muka yang amat optimis akan janji-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Fushshilat: 30)

Ketika telah berada di pesawat, masih melintas wajah-wajah qona’ah sister Keba dan keluarganya, bergantian dengan bayang-bayang sisters di Krakow yang salah satunya (yaitu sister Volha-asal Belarus) juga sedang berada di Mesir sebagai utusan Jurnalist. Bahkan tatkala sister Volha berfoto bersama rakyat Mesir yang setiap hari memprotes kudeta militer, foto-foto itu ceria sekali. Padahal beberapa sisters yang ada di foto mengatakan, “Abang dan sepupu saya sudah mendahului kita, beliau ada di tempat yang terbaik…” Subhanalloh, dengan usia belia, ucapan bermakna mendalam itu sangat lancar dilisankannya, sister Volha begitu antusias membagi kisah kunjungannya kesana, bahkan ia katakan kepadaku bahwa sekarang seolah dia telah disadarkan tentang antrian menuju ke tempat terbaikNya, insya Allah. …(bersambung)

@bidadari_azzam, Kuala Lumpur, Dzulhijjah 1434h

Sambungannya (bag.2) baca langsung di TKP-link ini saja yah... atau (bag.3) disini bisa juga ;-)


Tentunya dalam artikel hikmah ini, Saya juga sekaligus menjawab ratusan tanya di hati para sahabat mengenai satu hal :
"Kenapa keluarga kami bisa berpindah-pindah & tampaknya asyik sekali bertravelling ?"

Sesungguhnya kami berusaha untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla, jadi "pindah-pindah", ber-travelling, dan urusan segala macam yang hadir akibat perjalanan hidup ini, semuanya memang diniatkan hanya karena Allah SWT :-), mencari berkah dan keridhoan Allah ta'ala semata. :-) 



Insya Allah, jumpa lagi! ^_^

Barokallohu fiikum! Salam Ukhuwah yah! Wassalamu'alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh... t: @bidadari_azzam


Friday, November 1, 2013

Rezeki Kian Mengalir di Bulan Dzulhijjah



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



"Rezeki Anak-Anak"


Masih terasa suasana di Makkah dan Madinah, ketika di Kuwait dan KL juga #TrioKids sering memperoleh hadiah secara tak terduga. Bukan hanya mainan, permen, melainkan juga lembaran duit kertas. ~hehehe... sekarang karena sudah di Malaysia, 'back to Ringgit' yah!~

Ceritanya, pas sarapan di hotel tempo hari, Abu Hajj yang duduk di meja sebelah kami menyapa bang Azzam karena dari awal datang ke ruang sarapan, si abang menggendong adiknya dan melayani adiknya di meja makan. "Good boy, barokalloh!" Katanya seraya tersenyum.
Besoknya, ketemu lagi dengan beliau, terus beliau membagikan duit seringgit-seringgit kepada ketiga jagoan. 
Barokalloh!

"Syukron jazzakumulloh abbah...", kata #Triokids
(Beliau baca blog ini apa gak yah?! Hihihi....)


Dan ketika Zuhud menanti taxy di lobby siangnya, ada bapak-bapak yang gemes melihatnya mondar-mandir, terus si bapak itu mengeluarkan lembaran seringgit dan diberikan kepada anakku.  Zuhud taunya itu buat dikipas-kipas, terus dikumpulin buat ditukar dengan es krim di kedai.  





Pas sholat eidul adha juga nih, Zuhud tidur sehabis sholat (masih di gendongan ummi), ada ibu-ibu yang mendekat, "Nak bagi duit raye..." Katanya,  subhanalloh...#Alhamdulillah 
Rezeki-Nya memang maha luas, anak bayi yang tidur lelap pun bisa 'nambah tabungan' :-)) masya Allah! 




Efek lain pas sering nerima lembaran dadakan, ketika melihat bang Sayyif punya dompet, Zuhud juga ngotot minta dikasih dompet, hehehehe...^_*

#Triokids saving :-)


"Rezeki Ummi&Abi Azzam"

Karena ada ombay di eidul-adha tahun ini, jadinya kita punya kesempatan 'berduaan' jalan keluar ;-)). Sekitar tiga kali kami pergi cari tempat-tempat makanan favorit waktu empat tahun yang lalu berada disini, pas sekalian nyari oleh-oleh buat keluarga di Palembang. (^_^) 

Namanya berduaan yah, lebih gesit urusan belanjanya, malah gara-gara lewat di toko-toko tas, dan memang kami sedang mencari tas, pas pula lagi sale yeah! "A couple of limited coach" kami peroleh dengan diskon 50% :-D #Alhamdulillah 

Terus lanjut ke kedai nasi lemak-minum teh tarik dan es sebentar, ngebungkus makanan di teppanyaki, dan ternyata pulangnya ada rezeki bertubi-tubi menghampiri... :-D

"Ini buat minum teh sore, bolu MERANTI medan, yang diimport teman #Indonesia dari tanah air kita..." ^_^

Pempek Palembang asli, ada 5 orang sisters di KL yang terbiasa menerima pesanan, ^_* thumbs up!

Masih di hari-hari bulan dzulhijjah, #Alhamdulillah terasa berlimpah kurniaNya yang kami nikmati bersama keluarga. Tali silaturrahim tambah erat dengan sobat lama, juga banyaknya teman-teman baru yang (WNI) ada di Kuala Lumpur. "Tambah teman, tambah banyak rezeki ilmu pengetahuan, aamiin..." ;-))

Karena banyak sohib inilah, kian berlimpah lagi rizkillah, insya Allah, *kita membuktikannya sejak dulu, lho dear!*



Usai sholat Eid di Masjid muadz bin Jabal


Nengok sapi di hari raya kurban, juga berjumpa keluarga Nadiv di masjid, ^_^

Esok harinya pas ada kajian bapak-bapak, Mbak Renny 'kirim siomai Bandung' ke meja makan kami
:-), Alhamdulillah 'ala kulli hal...


Ini namanya "nasi goreng Peranakan-Penang"

Gule Pakis dari uni Aisyah, ^_^ terima kasih duhai tetangga... :-*

Makanan bukan dianggap hal istimewa bagi sebagian orang, namun buat keluarga kami berbeda. Kiriman makanan, oleh-oleh atau segala sesuatu hadiah dari sobat dan teman adalah hal yang amat spesial bagi kami. Tamu yang datang atau temu janji dengan sobat adalah nikmat kesempatan yang berharga, pahala silaturrahim dariNya amat besar, kami selalu memikirkan bahwa sobat atau teman yang berkunjung berarti telah mengorbankan waktu pribadinya buat 'kita yang disayangi', inilah salah satu hal yang mempererat persahabatan selama ini.

Di beberapa lokasi pindah, semisal selama berada di Krakow, Polandia, menu Indonesia tidak mudah didapat. Kami harus membeli di toko online Indo -di Jerman. Bumbu-bumbu kering tersedia di kedai-kedai asia (di pusat kota Krakow), namun tak terlalu lengkap. Memang ada renungan yang membuatku berpikir seperti ini, "Makanan kan bukanlah hal yang perlu dianggap problema besar. Kalau kangen dengan menu Indonesia, bisa tinggal beli bumbu, belanja kue-kue Indo ada di toko Jerman, pesan dua minggu---paket akan segera sampai, bahkan ada teh botol dan coklat khas indonesia, dll..."
Akan tetapi, suamiku berujar, "Hidup memang bukan untuk makan. Tetapi, hidupku akan jauh lebih bahagia jika melihat anak-anak dan istri gembira di saat menyantap makanan. Rasanya lega, tenang dan senaaaang sekali kalau melihat kalian makan dengan lahap..." Subhanalloh, 'sederhana kebahagiaannya', :-) beliau memang selalu memikirkan kebahagiaan anak-anak dan istrinya ^_^. Maka di KL ini, senang sekali beliau bertanya, "Mau makan apa kita hari ini, sayang?" Tampak sangat bersemangat. *maklumlah, kami di Krakow kan 'half-vegetarian' hehehehe...*

Begitu pula dengan 'hoby' berkirim makanan, ada banyak teman-teman yang sholeh/sholihat yang bahagia dan senang hatinya ketika melihat sobatnya mencicipi masakan atau makanan pemberiannya, ^_^ daku pun sedemikian, bahagia diri ini kala masakan sederhana yang kubuat dihabiskan oleh teman-teman atau sobat yang bertamu ke rumah. *kalau gak sempat masak sendiri, yah order aja... Tamunya juga kalau gak sempat makan, yah silakan bungkus aja... :-D*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْناً، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا وَ لَأَنْ أَمْشِيْ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا المَسْجِدِ ، ( يَعْنِي مَسْجِدُ النَبَوِي ) شَهْرًا

“…Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’ktikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan…” (HR. Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 13646).

Allahu Akbar! Luar biasa, amalan yang tidak kita sangka besarnya, bahkan lebih besar daripada berdiam diri di masjid selama satu bulan untuk beribadah (i’tikaf) di Masjid Nabawi. Beliau katakan amalan menemani seorang muslim untuk ia tunaikan kebutuhannya, itu adalah amalan yang besar dan amalan yang agung. Mengapa? Karena menolong orang lain, menghilangkan rasa laparnya, mengatasi kesulitannya adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amalan tersebut akan memberikan rasa kebahagian kepada para pelakunya. *jangan meremehkan hal ini* ;-)

(Daku jadi langsung bersujud syukur, mengingati sobat-sobat yang sudah banyak menolong di setiap perjalanan hidup kami, terutama masa terbaru adalah detik-detik ragam urusan di Poland dan Kuwait sebelum merasakan empuknya kasur setiba di KL, masya Allah sist Aisha, Fathin, Sakinah :-* ... Brother Abu Ridho sekeluarga, Ustadzah Latifa sekeluarga, brother Abu Rauf sekeluarga, bunda Kila sekeluarga, Ummu Saju, kak Fatma, dll, dsb... Semoga kalian semua menjadi penghuni istana-istana di syurgaNya atas segala keikhlasan kalian, aaamiin...)

Ya Allah, semoga kami semua senantiasa berhijrah dalam kebaikan, menuju keridhoanMu, aamiin Allahumma aamiin.

Barokallohu fiikum!
Salam Ukhuwah ^-^ ❤
Happy Busy, happy travelling! (^_^)
Tetap saling do'a yah^^
Jangan segan bersilaturrahim via twitter @bidadari_azzam ^^ 
 
Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh... :-) 

Sunday, September 22, 2013

Sesendok Madu Inspirasi

Assalamu'alaykum... ;)

Tahmid wa sholawat,



*_^ #Alhamdulillah always!



Beberapa hari setelah tiba di Kuwait, terasa getar hati iba saat mendengar kisah mengenai tetangga salah seorang sister di Indonesia. Keluarga kecil tersebut tinggal di perkampungan terpencil dan amat jarang berbelanja. Kebutuhan sehari-hari didapatkan dari pekerjaan serabutan sang suami, sementara sang istri harus menjaga kedua anaknya yang tidak bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Namun tiada pernah terdengar keluh kesah atas kesulitan hidup dari mulut sang ibu, tetangga-tetangga bahkan tidak mengetahui kondisi minim keluarga kecil ini.


Meskipun menderita beberapa penyakit bawaan lahir, kedua anak ini sangat memahami keadaan orang tua mereka. Suatu hari ketika tetangga (yang jarak rumahnya jauh) bertandang, dan tiada hidangan selain teh pahit di rumah itu, sang anak berbisik malu, “Maaf ya budhe, kami sedang tidak menyimpan gula…”  

Untungnya saat itu teman (yang dipanggil budhe ini) membawa beberapa oleh-oleh makanan, termasuk sebotol madu murni. Teh menjadi lebih enak baginya ketika ditambahkan sesendok madu. Anak- anak polos itu sangat ceria dengan kedatangan tamu jauh yang merupakan sobat orang tua mereka, dan sering berbagi cerita tentang perantauan. Apalagi seraya menikmati teh hangat dengan oleh-oleh madu tersebut.


Menitik air mataku membayangkan keluarga itu ~ jangankan untuk sekolah anaknya, untuk membeli gula pun, tiada dana belanja. Puasa sunnah sudah teramat biasa bagi mereka, menahan lapar dan dahaga telah menjadi ‘gaya hidup alami’, subhanalloh! Para tetangganya berujar,“Keluarga mereka itu tidak pernah ribut-ribut, mengeluh, menggosip, atau pun ngutang, lho….” Aiiih, kami tambah kagum pada mereka. Kita cepat sekali kesal dengan tertundanya bonus gaji atau pelayanan publik dan prosedur yang berbelit, sedangkan mereka hanya bergubuk dengan lantai tanah, yang sehari-hari belum tentu punya beras dan tidak punya gula! Tentu mereka tak tergoda dengan adegan dramatisir acara-acara televisi Indonesia yang sering mengekspose kemiskinan dan derita anak bangsa, yang kemudian diolah menjadi kelipatan uang rupiah dari hadirnya iklan-iklan yang menyukai rating tinggi.



Aku teringat Hania di sebuah desa terpencil pula, sudut Krakow. Gara-gara ‘gift’ gula dan madu serta biskuit buat keluarganya, keluarga kecilku menjadi hadir dalam ingatan keluarga mereka. Kata Hania, “Di Poland, banyak kue-kue manis, apalagi dessert sangat bervariasi,  namun untuk teh dan kopi, kita jarang mencampurkan gula… Lebih sehat jika minum teh madu…” Aku sepakat tanda setuju, sama seperti cerita Eve yang jika kusiapkan teh~ia tidak mau menambahkan gula. Sehingga di Krakow, kami terbiasa mengurangi pemakaian gula, bahkan seringkali menikmati teh tanpa gula. Baik teh hijau, maupun yellow-tea, lemon-tea dan black-tea.



Ujar Eve, “Dari waktu zaman nenek kakek saya dan generasi atas-atasnya lagi, sejak komunis berkuasa, kan kita susah dapat produk atau bahan makanan, termasuk gula, teh, kopi…. Jadi ketika sewindu kemajuan negeri yang tajam dan supermarket menjamur di Poland, kita merasa harus tetap membiasakan diri berhemat dan hidup sehat.” Aku berdecak kagum. Memang Poland merupakan negara yang belum terlalu lama bergabung dengan Uni Eropa, sehingga saat ini sedang banyak pembangunan gedung baru di berbagai kota, dan perekonomian mereka lumayan stabil. Harga-harga barang kebutuhan yang selalu meningkat, tidak begitu terasa berat bagi orang-orang di wilayah perkotaan, apalagi pekerja asing, karena kurs mata uang Zlotyh PLN stabil, tidak memiliki imbas besar Euro saat krisis di Eropa.



Hania dan Eve mempunyai kakek dan nenek yang rajin membuat madu sendiri, mengurusi ternaknya sendiri, serta membuat keju olahan sendiri. Mereka juga pernah mengirimiku kue bolu siram madu, susu sapi murni yang diperas oleh ayah Hania (segar dari sapinya langsung), pierogi ruszkidan vegetarian food buatan mama Eve, serta makanan ‘home made‘ lainnya. Menu masakan di Krakow (yang non-daging) lebih sehat, mengutamakan bahan segar dan buatan sendiri, terutama bagi vegetarian. Banyak orang malas membeli yogurt atau jus di toko-toko, padahal rasanya enak menurutku. Teman-teman memilih membuat sendiri, dan ketika kucicipi, memang lebih enak yogurt dan jus ‘home made‘ buatan mereka.


... Lanjutannya baca di link IslamPos berikut ini ya ~_^ Barokallohu fiikum!
Salam Ukhuwah ^-^ ❤
Happy Busy, happy travelling! (^_^)
Tetap saling do'a yah^^
Jangan segan bersilaturrahim via twitter @bidadari_azzam ^^
Wassalamu'alaykumWrwb... :-)

Friday, September 20, 2013

Masjid al-Kabir Kuwait

Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh...

Tahmid wa sholawat...

(Foto diambil dari islam.gov.kw)



Kuwait adalah Negara di kawasan Timur Tengah yang berbentuk Ke-Emiran, bentuk lain dari sebuah monarki yang dipimpin oleh seorang Emir. Ibukota Negara ini bernama sama dengan Negaranya, Kota Kuwait (Kuwait City). Dengan luas Negara hanya 17,820 km2 menjadikannya sebagai Negara terkecil kedua di kawasan Timur Tengah setelah Bahrain atau Negara dengan luas di urutan ke 157 di dunia.sebagai sebuah monarki Islam, hukum Islam merupakan hukum positif Negara, Majelis Al Umma merupakan dewan legislatif bagi Kuwait.

Kuwait pernah mengalami masa paling suram ketika di-invasi pasukan Iraqdibawah rezim mendiangSaddam Husein yang mencaplok Kuwait hanya dalam hitungan jam dan nyaris tanpa perlawanan. Kehancuran itu meninggalkan bekas mendalam bagi rakyat Kuwait. Sebuah museum dibangun di kota Kuwait sebagai pengingat masa masa kelam tersebut. di kota Kuwait kini juga berdiri sebuah Masjid Agung yang juga berfungsi sebagai Masjid Nasional sekaligus masjid terbesar di Kuwait. Masjid ini biasa disebut sebagai Masjid Agung Kuwait, atau Masjid Al-Kabir Kuwait.

Lokasi Masjid Agung Kuwait

Masjid Al-Kabir / Grand Mosque of Kuwait
Mubarak al-Kabir Street
Sawaber, Kuwait City, Kuwait
Koordinat geografi : 29° 22' 45.83" N  47° 58' 29.53" E

Masjid Agung Kuwait berada di Mubarak al-Kabir Street / Arabian Gulf Street dikawasan Sawaber, kota Kuwait. Lokasinya berdiri berseberangan dengan Istana Sief (Sief Palace), Istana yang terkenal dengan menara Jam nya yang besar seperti layaknya Big Ben di London atau Jam Gadang di Bukit Tinggi (Sumatera Barat). Istana Sief merupakan pusat pemerintahan Kuwait, lokasinya persis berada di tepian teluk Kuwait.





Beberapa hal yang perlu teman-teman ketahui mengenai 'tadabur masjid' bagi kami saat di Kuwait ini :

1. Kami sangat antusias menyiapkan perjalanan umroh dan ber-Ramadhan ria di Kuwait, sebab kami baru pindah dari negeri minoritas Muslim. :-)

Terasa sangat padat kegiatan berakhir minggu bagi keluarga ketika berada di Kuwait, jadi kalau mengunjungi masjid, biasanya lupa berfoto-foto, bahkan lupa membawa kamera :-D

2. Kami sekeluarga segan dan merasa tak terpikirkan mengambil banyak gambar/foto, karena :

- Sedang fokus menikmati ketenangan ibadah, kami tak memotret di saat rukun-rukun umroh sedang berjalan sejak sebelum memasuki wilayah Miqot, maupun di masjidil Haraam, dan di dalam masjid Nabawi. 
- Merasa bersikap kurang sopan dan tidak menghargai masjid, apalagi di area dalam masjid, saudara muslimin sedang khusyuk beribadah (khusus) kepadaNya. 
- Apalagi ketika saya berada di wilayah musholla putri, atau area khusus muslimah, tidak patut memotret sana-sini, terutama karena banyak sisters yang sedang membuka niqob/cadarnya. 
- Di area sekitar masjid atau jalan-jalan di Kuwait pun, masih banyak kaum Arab yang merasa keberatan dengan kehadiran kamera.

Jadi, Kamera sangat jarang dipakai, Mas Angga membawa DSLRnya sekali-dua kali saja ketika 'ngumpul dengan teman-teman WNI'.


3. Kami di Kuwait hanya beberapa bulan, maksimal 9 bulan hitungannya sejak Mas Angga pindah kerja, saya dan anak-anak hanya berada di sana selama 6 bulan. :-) Di Kuwait, kita kudu berusaha memaksimalkan liburan di akhir minggu. Karena kami sudah bersiap-siap pindah ke KL tentunya.
Singkat namun berkualitas silaturrahim disana. Maka, kami tak memiliki kendaraan di Kuwait. Untuk mengunjungi masjid dan berjalan-jalan di Kuwait, biasanya 'nebeng' mobil teman atau menggunakan taxy. ^_^ (Kebayang kan, bawa krucils pula!hehehe...)

Membawa anak-anak ke masjid merupakan perjuangan yang tidak mudah :-), apalagi kami  biasanya ke masjid di malam hari (special di malam ramadhan), cuaca musim panas sangat kering, anak-anak balita biasanya senang 'weekend' keluar rumah, namun sesekali rewel wel wel. Komplet heboh...Hehehe...

Jadi harap maklum juga yah, kalau postingannya baru bisa dilempar sekarang ^_^ *remfoong ...

4. Setiap radius 500 m, ada masjid. Jadi terbayang kan, betapa banyak kalian akan menemui masjid dan musholla di Kuwait ini. Jika travelling ke sini, tidak susah saat waktu sholat tiba. Di mal-mal, di City Centre, Green Island, area sekolah, area perkantoran, rumah sakit, dll... Semua ada masjid dan banyak musholla, musholla putri terpisah. 

(Yaaaah, problemnya sama seperti di tanah air. Shaff-shaff di masjid tidak penuh di waktu sholat fardhu...:-/)

Kadang-kadang, ketika kalian berjalan di mall, ada dai/daiyah menyenggol lengan kalian, guna mengingatkan bahwa waktu sholat telah tiba. :-) Asyik, kan?! 

Semua imam, muadzin, para pembersih masjid, perawat taman, merupakan petugas khusus yang dipekerjakan oleh kerajaan. Mereka difasilitasi tempat tinggal, ditraining, disertifikasi dan digaji. Subhanalloh....

5. Di masjid-masjid sepanjang perjalanan dari Kuwait hingga ke Saudi Arabiya, ternyata masjidnya hanya dibuka pada waktu sholat saja. Kami sempat menanti pintu dibuka saat mampir ke sebuah masjid di perbatasan waktu subuh.

6. Tidak ada masjid yang punya hiasan kotak infaq di sini. Untuk badan-badan zakat, infaq, sadaqoh, wakaf, di Kuwait sudah ada rekening khusus malah, dan dana itu bukan buat masjid, melainkan buat membantu muslimin lain di belahan bumi lainnya. Ada badan yang khusus mendukung para muallaf, ada juga yang khusus mendukung para pengungsi, dan ada pula yang khusus peduli kemanusiaan di berbagai negeri, terutama di Afrika dan dukungan kepada para korban bencana-bencana alam. 

Menyumbangkan donasi melalui badan-badan amil zakatnya pun harus transparan, kita harus menggunakan 'K-net', (pokoknya sependek di Kuwait itu, kami tidak pernah menemukan kotak infaq di sembarang tempat... Yang ada hanyalah 'kencleng-kencleng' kecil on the spot kalau berbelanja di beberapa fast-food atau saat bersilaturrahim acara WNI.)

7. Tidak ada iuran parkir di masjid-masjid, dan dimana-mana area Kuwait ini, bebas biaya parkir. "Jangan bingung jika kelupaan membawa dompet, hehehee..." Karena memang tak ada bea tol, bea parkir, apalagi iuran masuk menjadi pengunjung masjid. Alhamdulillah, tidak ada 'bea krintilan seperti itu'. :-)  

Anak Masjid nih... (Foto di Masjid Indonesia)

(Foto : Di Masjid Salmiya, dekat rumah, Malam Taraweh di awal ramadhan 1434 h)

 
(Foto Sayyif di salah satu musholla Green Island)


 (Ramadhan, ashar di masjid Indonesia)


Back to topic, 

Sheikh Mishary bin Rashid Alafasy adalah imam masjid di Masjid al-Kabir Kuwait, beliau kelahiran tahun 1976 lho, lulusan Madinah. Bacaan qurannya sangat merdu, silakan cari di yt atau mp3 murottal juga. :-)
Jadi, kalau bulan ramadhan, jamaah di al-Kabir padat sekali, taraweh dan qiyamullail. Mayoritas ekspatriat di Kuwait sangat menikmati suasana ramadhan disini, ^_^.
Di setiap masjid (di Kuwait), sepanjang hari-hari ramadhan selalu disediakan takjil, begitu pun di masjid al-Kabir.

(Tapi kalau menu paling dirindukan, pastinya 'gak absen' di masjid Indonesia. Khusus akhir minggu, acara di masjid Indonesia biasanya dijadikan ajang silaturrahim oleh para WNI, 'ngumpul' ragam organisasi, profesi dan ramai yang datang dari berbagai area di Kuwait.;-))

Waktu itu, di Kuwait juga kedatangan beberapa Sheikh dari negara lain, termasuk kedatangan Mufti Menk (kenal kan?!) *tapi kita tidak bisa datang* karena gak ada tebengan, hehehehe... Taxy susah untuk datang pada jam sholat magrib, taraweh, dan juga subuh #Ramadhan.


Itu dulu yah, kalau bisa, Jika datang pertama kali, pas tiba di Kuwait, samperin dulu masjidnya, pasti ada masjid di depan rumah /appartemenmu, ^_^ 
Barokallohu fiikum , Salam Ukhuwah ... ^-^ ❤

Happy Busy, happy travelling! (^_^)

Tetap saling do'a yah^^ Jangan segan bersilaturrahim via twitter @bidadari_azzam ^^

Wassalamu'alaykumWrwb... :-)

Tuesday, August 27, 2013

Cerdas Lucu Sebuah Perampokan di Bank

Tes internet sementara sebelum 'flight' beberapa hari lagi nih... assalamu'alaykum! :-)



Gambar : Sebuah 
sudut kota yang menjalani pemilukada serial ulang gara-gara ulah para perampok... 



Tahmid wa sholawat...

Teman-teman sudah tau kan kalau kita bisa memetik pelajaran dengan tak hanya mengambil hikmah dari pengalaman diri & keluarga saja, melainkan juga dapat mengoptimalkan manfaat pengalaman orang sekitar serta pengamatan tentunya.

Kali ini saya menangkap samudera pengetahuan dari sebuah analogi kisah sederhana yang diceritakan oleh seorang teman, yoook simak : 




Suatu hari terjadi perampokan di bank, negeri antah berantah...

Perampok berteriak kepada semua orang di bank, “Jangan Bergerak!!! Uang 
ini semua milik Negara. Hidup anda adalah milik anda.”
Semua orang di bank kemudian langsung tiarap. (Pengamat : Hal ini disebut “Mind changing 
concept – Mengubah cara berfikir”. Semua orang berhasil mengubah cara 
berfikir dari cara yang biasa menjadi cara kreatif...)

Salah satu nasabah yang sok sexy mencoba merayu perampok. Tetapi malah 
membuat perampok marah dan berteriak, “Eh, yang sopan mbak ! Ini perampokan 
bukan perkosaan!" 
(Pengamat : Hal ini disebut “Being professional – Bertindak 
professional”. Fokus hanya pada pekerjaan sesuai prosedur yang diberikan. Tuh, perampok yg notabene penjahat aja, bisa proffesional banget, tuh....)

....Selanjutnya,

Setelah selesai merampok bank dan kembali ke rumah, perampok muda yang 
lulusan MBA dari universitas terkenal berkata kepada perampok tua yang 
hanya lulusan SD, “Bang, sekarang kita hitung hasil rampokan kita. Yok!"

”Perampok tua menjawab, “Dasar bodoh. Uang yang kira rampok banyak banget, 
repot menghitungnya. Kita tunggu saja berita TV, pasti ada berita mengenai jumlah uang yang kita rampok.” (Pengamat : Hal ini disebut “Experience – Pengalaman”. Pengalaman lebih penting daripada selembar kertas dari universitas, lho...)

Sementara di bank yang dirampok, si manajer bank berkata kepada kepala 
cabangnya untuk segera lapor ke polisi. Tapi kepala cabang berkata, 
“Tunggu dulu, kita ambil dulu dong, 10 miliar untuk kita bagi dua. Nanti 
totalnya kita laporkan sebagai uang yang dirampok.” (Pengamat : Hal ini disebut “Swim 
with the tide – Ikuti arus”. Mengubah situasi yang sulit menjadi keuntungan pribadi. Memanfaatkan sebuah kesempatan demi harta.)

Kemudian kepala cabangnya berkata, "Oh, Alangkah indahnya jika terjadi 
perampokan tiap bulan...” (Pengamat : Hal ini disebut “Killing boredom – Menghilangkan 
kebosanan”. Kebahagiaan pribadi jauh lebih penting dari pekerjaan anda.)

Bagaimana berita itu di mata di masyarakat? 
(Pengamat : Media syik-asyik mesra dengan konco investor menghubungkan perampokan itu sebagai dana 'terorisme', sambungan pembuatan kebijakan dan RUU lainnya, projek-projek tambahan buat yg di kursi empuk, rating oh rating... Para jelata cuma antusias, "Gimana ceritanya...kelanjutannya, ketangkep apa gak yah?" Dsb, :-p)

Keesokan harinya, berita di TV melaporkan bahwa uang 100 Miliar dirampok dari 
bank.
Perampok muda menghitung uang rampokan, jumlahnya tak sama... dan perampok sangat murka, "Aaaaaaaaaaargh!!! Kita Capek-capek... susah payah merampok cuma dapat 20 Miliar, bagi-baginya banyak, anggota keamanan, markas besarnya, pengintai awalnya, dll.... waduuuuh, orang bank 'tanpa usaha' dapat ngantongi 80 M...Capeeeeee deh..." >_< (Pengamat : Ada banyak perampok yang jauh lebih cerdas dari pada perampok di bank, eui!)

Bagaimana tanggapan pembaca?! (Saya justru teringat prinsip dari Mas Anggana -sang manajer IT SAP certified : "Knowledge is Power", sebanyak apa pun info yg kita serap, kita tetap akan haus ilmu. Karena segala sesuatu yg dikerjakan selalu terkait dgn ilmu pengetahuan. Kita menjelajah bumi tak akan percaya diri jika tanpa ilmu pengetahuan. Dan dalam kesimpulan diskusi antara jiwa kita dgn Sang Pencipta-lah, ilmu pengetahuan dalam diri menjadi berkah, manfaat, serta kian bermakna, insya Allah...)




*smoga dapat menangkap apa yang menjadi hikmahNya. Jangan susah-susah cari ilmu deh kalau cuma buat mencintai amalan penghuni neraka, naudzubillahiminzaliik...seberkas kerlip bekas pijar neraka itu bisa menggosongkan seluruh lautan di bumi, apalagi kalau "nyangkut" di kerak-kerak dalam pijar apinya...naudzubillah, >_< faghfirlii....*


:-D




Ya Allah, limpahkan kami kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi kezaliman, aaamiin...

Barokallohu fiikum, semoga kita senantiasa menularkan manfaat, semoga setiap saat kita rajin belajar dan mendekap hidayahNya agar pengetahuan yang diserap kian bermanfaat, aaamiiin...

Salam Ukhuwah dari Kuwait ... ^-^ ❤ 

Tetap saling do'a ^^ ya, Semoga tetap bisa silaturrahim via twitter @bidadari_azzam ^^ 
Jangan sungkan 'nge-mention'.

Wassalamu'alaykumWrwb... :-)


Pasar Ikan di Kuwait


Assalamu'alaykum warohmatullohi wa barokatuh...


Al Quds adalah pasar ikan yang terletak di pinggir pantai didaerah Fahaheel. Koordinat Lokasi adalah N 29* 05.542' - E 048* 08.495'

Jaraknya sekitar 20-30 menit perjalanan mobil tanpa macet kalau dari Salmiya.

Kami berlima berkesempatan kesana seusai mengunjungi 'new baby boy'-Ustadzah Latifa, *mabroook selalu yah, amiin*


Di Rumah Sakit


Saat itu sebelum memasuki ramadhan, tepat setelah perjalanan umroh kami. Alhamdulillah bisa nebeng lagi sama "Om Panggih, Tante Meta dan Kila (anak mereka yg beberapa bulan lebih muda dari Zuhud)" hehehe... Ceritanya kan Meta sering membuat pempek (memang dia juga 'Wong Sumsel'), dia mau membeli tenggiri malam itu. Otomatis sekalian saja kami ikutan melihat langsung Pasar Ikan Kuwait. :-)

Jangan bayangkan kondisi seperti 'pasar tradisional' di negeri kita dengan tanah becek-lumpur, amis, orang-orang yang berdesakan, jalan-jalan tikus di area pasar, atau juga waswas akan 'pandangan mata' para pencopet. (^_^) Bukan, Pasar Ikannya tidak sedemikian, dear! 

Pasar Ikan Kuwait berupa gedung besar di seberang pantai, banyak orang berbelanja di malam hari karena menghindari cuaca yang lebih garang di siang hari. Segala jenis ikan disusun di atas meja-meja batu, para penjual memasang senyum ramah dan siap menyiangi ikan jika diminta oleh pembeli. Ada beberapa selang air di setiap blok, di antara meja-meja batu ini. Ada beberapa ekor kucing yang bermain di dalam maupun di luar gedung pasar. Di depan setiap meja-batu, bagian bawahnya selalu ada lekukan parit kecil, supaya aliran air (saat membersihkan ikan atau lantai) selalu lancar.



Dinding-dinding bagian atas penuh gambar ikan-ikan, berwarna-warni, sehingga kesannya saat ke Pasar Ikan, kita tidak cuma membeli ikan, lho ya... Memang Pasar Ikan menjadi salah satu tempat menarik bagi para wisatawan, arena wisata yang menggabungkan semangat berselera makan buat para pecinta Ikan segar. 

Si abang Sayyif bekejaran dengan dua ekor kucing, dan saking agresifnya menyenggol ekor kucing, sehingga ia memperoleh dua bekas cakaran, hehehe.... *Pengalaman seru bagi anak-anak, yah...* 
Anak-anak sangat antusias memperhatikan bermacam jenis ikan segar, dari yang bentuknya sekecil telapak tangan, hingga yang sebesar travel-bag. 
Kata teman-teman, jika sudah tengah malam, "obral ikannya..." Misalnya cumi-cumi atau kepiting atau ikan campur-campur seember dalam satu harga yang jauh lebih murah, sehingga jika punya satu 'armada appartemen', bisa bagi-bagi jatah, bayar obral barengan, dan pesta Ikan barengan. 

Btw, cuaca panas sekali, malam itu 45 derajat Celsius, kami cuma setengah jam-an berada di gedung Pasar Ikan, namun kue-kue yang saya letakkan di mobil Meta (yang kita beli sekalian pas beli oleh-oleh ke RS), ternyata sudah melumer tak berbentuk, :-D... Subhanalloh! 

Azzam dan Zuhud senang melihat seabrek-abrek ikan segar...

"Jutaan ikan diambil banyak-banyak mulu dari laut, tapi tidak pernah habis yah....;-) Maha Kaya banget pemilik lautnya yaks.... Subhanalloh!"

Nelayan-nelayan pekerja di Kuwait ini sangat ramah dan rendah hati. ~Sama kayak para WNI, lah yah...terkenal ramah ;-)).

Kapal pencari ikannya bukan perahu-perahu sederhana dan pakaian mereka tidak robek-robek sebagaimana nelayan-nelayan 'yang seing saya lihat' di negeri kita. Mungkin saja boss atau owner-Kuwaiti dan keluarganya (termasuk pemilik usaha di bidang ini, pemilik kapal-kapal itu...) banyak yang jauh dari akhlaq mulia (Bukan rahasia lagi kalau kita terbiasa melihat pemuda Kuwaiti melempar sampah sembarangan di pantai, di jalan, di tempat parkir, serta 'tidak bernurani' kala melakukan tabrak lari...), namun para nelayan-alias anak buah mereka, alias 'ekspatriat juga' merupakan sosok-sosok yang sangat patut diacungi jempol. Geliat ekonomi Kuwait berada di tangan mereka, para pelanggan setia pasar ini kian ramai karena senang dengan pelayanan dan kebaikan hati mereka.



Meta sedang mencoba menawar harga Tenggiri



Bang Sayyif membuka gamisnya karena ditarik-tarik kucing, hihihi....



Ini penampakan dari jendela luar samping kanan gedung, kalau dari pintu gerbang depan, tulisan "Fish Marketnya" berwarna terang dan pakai lampu-lampu...


   Kebanyakan pedagang di pasar Ikan adalah orang Bangladesh (muslim), para pengunjung bercampur baur, ada yang asal India, Indonesia, China, orang-orang di Jazirah Arab, juga orang-orang asal Eopa dan Amerika. Pengunjung tinggal memilih ikan yang diinginkan, menanyakan harga dan melakukan penawaran sesuai keinginan. Kalau sudah deal, pedagang akan menyiangi ikan-ikan, memotong-motong sesuai keinginan pembeli, sehingga sampai di rumah~ tinggal menuju dapur dan memasak menu Ikan sesuai selera.

Di Parkiran


"Kapal kita sederhana saja...", sederhana bagi pedagang ini merupakan bukti kosa kata kerendahan hatinya. Sebab kapal-kapal nelayan di Kuwait, penampakannya tidak jauh beda dengan jenis kapal pesiar yang mewah... Subhanalloh!
Memang di halaman-halaman Istana para Kuwaiti, sering 'terparkir kapal-kapal' selain puluhan mobil mewah mereka (mungkin ada yang sedang diperbaiki, atau jadi penambah pajangan di depan rumah gitu... hehehehe) untuk sekedar buat main anak-anaknya di area pantai, ada juga yang untuk menangkap ikan. 

Penampakan Salmonku yang sudah kubumbui, siap digoreng! (^_^)


Karena sudah lama tidak menikmati Salmon sebagaimana di Krakow, saya pun membeli sepotong Salmon. Ada bagian ikan yang sudah tinggal separuh, jadi saya pilih saja kecuali bagian kepala. Penjual menimbang potongan Salmon itu, "5 KD." Ujarnya. Saya oke-kan saja dan minta tolong dibersihkan. Setelah Salmon bersih dan dipotong-potong, ternyata menjadi 5 potongan tebal Salmon. Kalau dibandingkan dengan harga Salmon 'Nordich' di Krakow, saya untung banget. Karena biasanya 45 zlotyPLN (sekitar 5 KD juga), hanya mendapat 2 potongan besar dan sepotong kecil Salmon. Itu pun frozen, bukan fresh.

Sedangkan kalau di Indonesia, ogah beli Salmon, segar juga 'gak, tapi mahalnya berlipat:-). Di Indonesia, saya suka "Ikan Gabus, Sepat, dan Mujair..." Itu pun tergantung pengolahannya. Mama dan kakakku kalau mengolah ikan, tak pernah tersisa bau amis, dan goreng Ikan selalu gurih. Jika dipindang atau ditumis, rasanya sedap sekali... *_^ (wuaaaaaargh, jadi mau...>_< hiks). Tapi menu ikan di keluargaku, harus komplet dengan sambal lalapan, apalagi khas 'jokjok plus tempoyak' (lagi-lagi itu spesial masakan Emakku, hiihihi). Kalau kami di tanah rantau, di Kuwait sama saja seperti di Krakow dulu, kalau 'ketemu' nasi panas, ikan goreng dan kecap atau telur dadar dan saos, it's enough... Bahkan lebih dari cukup, walhamdulillah... 


Eits, lupa cerita pas mau bayar Salmon, si pedagang tanya, "Are you Chinese?"
"No, I am Indonesian..." Jawabku. Dan meskipun saya pakai jilbab, dia tetap tanya, "And are you moslem?" :-p ^_^ "Of course, walhamdulillah..." Ujarku lagi.
Lalu katanya, "Okay, it's great! I will give you 4KD for this, special for you...barokalloh muslim!" :-) seraya mengembalikan 6 KD-ku, karena kubayar dengan lembar 10KD. ":-) Syukron...syukron, jazzakulloh, wafiikuum barokalloh..." *Saya irang* trus, Bye-bye dia sama krucils.

Ini judulnya "Sapaan sekilas, diskonnya dahsyat!" Hihihihi. (Soalnya 1 KwD sekarang udah hampir 40 ribu rupiah, dear...*berasa senang banget kalau didiskon kayak gini* :-D)
Sampai jumpa lagi di postingan berikutnya yah...

Barokallohu fiikum , semoga kita senantiasa menularkan manfaat,
Salam Ukhuwah dari Kuwait ... ^-^ ❤ 

Tetap saling do'a ^^ Semoga tetap bisa silaturrahim via twitter @bidadari_azzam ^^ 
Jangan sungkan 'nge-mention'.

Wassalamu'alaykumWrwb... :-)