Photobucket
Showing posts with label Karir Ibu Rumah Tangga. Show all posts
Showing posts with label Karir Ibu Rumah Tangga. Show all posts

Monday, November 18, 2013

Sekilas Tips Menjaga Stamina di Sela Kesibukan Beraktivitas


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...   

Tahmid wa sholawat, semoga sahabat-sahabat senantiasa sehat jasmani rohani, dalam penjagaan terbaik-Nya, aamiin.

Apakah kalian adalah pelajar yang sibuk mengerjakan tumpukan tugas dari para guru? Ataukah pekerja dan pengusaha yang harus mondar-mandir 'meeting', berjadwal tugas padat, serta banyaknya target penyelesaian aktivitas sehari-hari? Atau mungkin kalian adalah sisters yang sering 'nyeri bulanan' dan stamina jadi menurun kala periode tersebut? Mungkin juga kalian adalah sosok pebisnis yang mengantarkan banyak 'orderan' secara langsung kepada para pelanggan, atau setiap saat harus siap berlari ke kantor pengiriman paket karena orderan produk dari para pembeli? Atau mungkin 'kegiatan harian' kita mirip? 

Adakah kemiripannya sebagai seorang emak yang subuh-subuh harus bangun, kudu menyiapkan sarapan keluarga, menyiapkan bekal makan siang suami (dan anak-anak yang bersekolah), mondar-mandir nyuapin balita seraya memandikan balita lainnya, mengantar ke sekolah dan menjemput mereka kembali, menanti anak yang TK di sekolahnya, menjawab telepon dan email penting di sela kegiatan, mengganti baju dan membantu makan siang balita di siang hari, mengantarkan anak-anak ke tempat les atau aktivitas sore lainnya, kudu berbelanja, menyiapkan makan malam, dan masih seabrek-abrek 'homeworks' setiap harinya? 


Kelincahan Zuhud di ruang tamu :-D
 

Beberapa pengalaman kecil dan secuil sharing dari pertemuan dengan konsultan kesehatan keluargaku, juga dari banyak sobat yang kujumpai, apalagi yang sudah berusia lebih dewasa (sisters or brothers 40++ misalnya), mengenai tips atau cara menjaga stamina kita di sela kesibukan sehari-hari adalah sebagai berikut :

1. Rutin berolah raga ringan, ini kita masih sering lupa---lupa untuk rutin menjaga kebiasaan ini :-(. Contoh sepele adalah gerakan sholat di 'on time 5 waktu', efeknya besar buat menjaga jasmani rohani, lho dear... :-)

Bahkan ada teman non-muslim yang sudah menjadi muallaf di Krakow, di awal-awal perkenalan kami, dia belajar sholat terlebih dahulu, dan katanya, "Kayak olah raga yang nyaman dan rileks, yah? Semacam ada perpaduan antara hati, gerak tubuh dan istirahatnya pikiran..." :-D Dan yang lebih mencengangkan baginya adalah "seluruh dunia mengetahui tata cara sholat yang seragam---dari guru yang sama, yaitu Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam." :-)

Gerakan ringan lainnya yang bisa dilakukan, terutama buat kita 'para emak' adalah : sit up 20 kali, sebelum tidur dan setelah bangun pagi. Juga peregangan kaki (gerakan agak jongkok, gerak pada persendian lutut) bisa kita lakukan sambil memasak atau ketika usai menjemur pakaian, hihihihi...

2. Minumlah air putih sebelum tidur dan ketika bangun tidur (jangan lupa basmalah sebelum meminumnya). Kekurangan cairan pada tubuh merupakan salah satu penyebab kelelahan. Jika tubuh kita kekurangan cairan maka darah akan mengental. Pada akhirnya darah akan lebih lambat dialirkan dan butuh lebih banyak waktu untuk mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh, maka dengan minum secukupnya akan meningkatkan stamina tubuh. Kelembaban kulit kita pun terjaga.

3. Tambahkan madu pada teh atau air putih yang diminum, atau konsumsi sesendok madu murni setiap pagi. :-) 
Alhamdulillah, dampaknya memang ^-^ TOP donk! Madu dan kurma kan memang sudah menjadi sepasang menu yang harus ada di dapur muslimin, keduanya adalah menu favorit Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Minimal dua kali seminggu kita mengonsumsinya, terutama kalau puasa sunnah senin dan kamis.

4. Hindari banyak makan---yang dalam satu waktu 'kekenyangan'. Apalagi saat sibuk yah, sebenarnya sering tidak sempat makan, tapi jangan 'dituruti ntuh' rasa malas atau tak sempat makan hingga menderita magh. :-( 

 

     Makanlah dengan porsi secuil, tapi boleh sering, apalagi kalau ngemil buah-buahan dan sayur, :-). Makan dengan porsi banyak dan kaya karbohidrat akan menyebabkan gula darah meningkat. Ini akan membuat lebih banyak insulin yang akan dikeluarkan oleh tubuh. Kondisi seperti ini akan berakibat terlalu banyak gula darah yang dikirim ke sel otot untuk disimpan dan Inilah yang menjadi biang keladi dari kelelahan. (Sampai mengantuk dan terlena, hehehehe...) Oleh karena itu lebih baik sering makan tetapi dengan porsi kecil yang mempunyai asupan gizi tinggi. Contohnya bekali potongan buah, kurma dan biskuit planta di dalam tas kita. Semangaaat, yah!

5. Kudu bisa memanfaatkan sela istirahat. Misalnya saat menunggui anak sekolah, ke musholla enak tuh, 'dhuha time'. Pas di taxy, di kereta api, atau di dalam bus, baca quran atau buku pasti asyik (dan lebih bermanfaat) dari pada bengong.

Boleh pejamkan mata sebentar sambil berdzikir memuji-Nya, mengirim sms cinta kepada orang-orang terdekat atau sahabat di luar kota, menelepon dan menanyakan kabar teman, dan kegiatan bermanfaat lainnya akan menambah semangat diri, menyebabkan jiwa raga juga nyaman, bahagia berakibat stamina terjaga ;-). Jangan iseng-iseng 'ngomeli' pengemis, heboh lempar cemoohan dan ejekan di media sosial, dan kegiatan negatif lainnya, lhooo dear... Karena dampaknya besar juga, di dunia---waktu kita gak berkah, jauh dari manfaat, serta di akhirat--- ada adzab yang berat. Naudzubillahi minzaliik.

6. Letih, penat, kesal, marah, sedih dengan ketidak-disiplinan orang di sekitar kita, atau ada hal yang tidak sesuai perkiraan kita, sikapi dengan segera berwudhu! Sebelum iblis makin menggoda dengan sikap negatif yang bisa kian menjadi. Adakan 'back-up' atau cadangan acara. Misalkan kalau si X mendadak gak bisa datang ke tempat temu-janji, maka saya akan segera puang dan ke taman bersama anak-anak..., contoh lainnya "Jika hujan, dan field-trip barbeque-annya dibatalkan, saya dan sobat Y menyiapkan acara lain di rumah Y (yg berdekatan dengan tempat field-trip).

 
Intinya, hindari stress, yah say! :-)

Bang Sayyif yang senang bersekolah :-)



Di taxy, menemani abang, sore di kelas #Quran 


Masjid di Taman setiawangsa - KL, suasana jum'atan, menemani bang Azzam ^_^


Sesaat di konser Opick- Charity for Palestine...



7. Sempatkan membuat jadwal, meskipun tidak detail. Paling tidak, jika seisi keluarga saling mengetahui jadwal anggota keluarganya, tidak kebingungan menyampaikan informasi kalau ditanya oleh teman ybs, juga menambah keakraban seluruh anggota keluarga. *Damai nyaman dalam keluarga akan membuat stamina terjaga*

Urutkan sesuai prioritas, misalkan minggu ini ke dokter anak untuk diskusi permasalahan sebab demamnya kemarin---minggu depan cek gigi abangnya pas sedang tidak ada ujian di sekolah (cek-up biasa, bukan karena sakit gigi). Pasti rutinitas kegiatan tidak akan pernah habis semasa seseorang masih bernafas. Namun selaku muslim yang bijak, kita harus memuhasabah diri, mana-mana kegiatan wajib, kudu dilakukan, mana yang sunnah, mana yang paling penting, mana yang kurang penting, dll dsb. :-) 
 

Very sweet moment ~ renang dengan anak-anak


Hadir dalam kelas kursus pengurusan jenazah beberapa waktu lalu :-) #Alhamdulillah 


Semoga tips ini bermanfaat dan hari-hari sobat kian dihiasi keberkahanNya, aamiin...
Barokallohu fiikum, Salam Ukhuwah ... ^-^ ❤ Mari silaturrahim via twitter : @bidadari_azzam

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. :-) 




Thursday, September 19, 2013

Agar Mudah Menghafal al-Quran











Assalamu'alaykumwrwb...

Mumpung internet lagi lancar, mau berbagi tips secuil ini ya... ;-)

Agar Mudah Menghafal Ayat-ayat al-Quran :

1. Senang bertaubat. Orang beriman bukanlah yang tidak punya khilaf, melainkan yang senang bersegera taubat. Ketika keliru dan melakukan kesalahan, cepat memperbaiki diri. Taubat senantiasa dilakukan setiap saat. Banyak dosa ringan yang kita perbuat sepanjang waktu, bila bertumpuk-tumpuk, menggununglah dosa itu dan menjadi besar, :-'((. 

Sesungguhnya dosa-dosa tidak akan memberi ruang untuk ayat-ayat tersimpan di hati manusia. 
Imam Syafi'i di dalam satu petikan sajaknya yang terkenal mengadu kepada gurunya bahwa 'agak sukar' untuk menghafal dengan baik. Gurunda lalu menasihatinya agar meninggalkan maksiat dan bertaubat akan segala dosa- dosanya. (*Naaah, that's Imam Syafi'i lho, yang dinasehati sedemikian... apalagi level-an kita yang sehari-hari berbalut sistem korupsi, kolusi, dan menggemari pujian manusia?!* Yoook, taubat!)

2. Niat yang lurus, dan percaya bahwa doa dikabulkanNya. Minta sama Allah SWT supaya bisa, supaya mudah menghafalkan ayat-ayat cintaNya. Tulus hati mengingat ganjaran kebaikan yang akan diperoleh kelak di hari akhir, bukan karena minta puja-puji manusia. 

Saya punya banyak sobat yang "cita awalnya" meningkatkan hafalan quran supaya nanti di akhirat dapat membanggakan kedua orang tua mereka, namun tak perlu tunggu akhirat pun, semasa di dunia ini mereka sudah membuat bangga. Orang tua tak kesulitan ketika komunitas masyarakat berkumpul di rumah, mengaji bersama, toh ada anaknya yang memimpin bacaan doa. Bahkan sobat huffazh (para penghafal quran) ini sangat mudah diterima di berbagai level pergaulan, karena secara alami yah ketika niat lurus dalam menghafal quran, akhlakul karimah, wajah pasti tampak sumringah, ramah dimana pun berada, dan lidah tidak kelu menyapa saudara, maka efeknya sangat besar, sanak saudara dan teman-teman senantiasa mencintai dan merindukan.

Hmmmm, ada perbedaan mencolok, antara non-arab dengan native-Arab, mayoritas native-Arab hafal quran, namun sebatas hafalan kalimatnya saja. (Pernah lihat surat kabar berbahasa Arab? nah, native-Arab melafadzkan quran seperti baca surat kabar itu, jadi mereka ini belum tentu mempelajari ilmu tajwid dan tafsirnya dengan baik...) 
Sedangkan huffazh yang sebenar-benarnya penghafal quran adalah yang bacaannya sesuai kaidah, dan terbukti pengamalan ayat-ayatNya dalam kehidupan sehari-hari. 


3. Disiplin dalam menargetkan hafalan. Misalnya sehari = sekian ayat, dst. Masa yang paling baik adalah pada waktu yang kita tidak sibuk dengan hal-hal lain. Misalnya mengulang-ulangi ayat sesudah wudhu, sebelum tidur. 

4.  Untuk memudahkan kita, seringlah baca quran. Menunggu di halte, menanti anak pulang sekolah, menanti mesin cuci yang berputar, menunggu rebusan masakan, seraya menyiram bunga, menyiapkan makanan dan kegiatan rumah tangga lain, dapat kita isi dengan memperbanyak intensitas "mesra dengan quran". Ketika duduk istirahat sekolah/kuliah, saat jeda usai sholat sebelum makan, dll, banyak waktu yang bisa kita pergunakan untuk mengulang-ulang bacaan quran, supaya cepat hafal. Kalau ingin menghafalkannya, harus tambah akrab dengan al-Quran. 

Di rumah-rumah sobat huffazh quran, di mobil, di kantor, yang diputar bukan lagu-lagu pop, dentuman rock, atau musik-musik jreng-jreng lainnya, melainkan selalu terdengar kaset murottal al-Quran :-). *_^

Banyak muslim yang "hanya identitas KTP", dari kecil sampai dewasa ternyata cuma taunya al-Fatihah, dan quran dijadikan hiasan dinding rumah, :-/ astaghfirrulloh... Bahkan membaca quran dianggap sebagai hal aneh, membacanya saja tidak bisa, bukan karena tidak ada guru ngajinya, melainkan sebab kemalasan dan tidak termotivasi mengejar kampung akhirat nan hakiki. 
Hal ini pernah serius diingatkan oleh para dai/daiyah di berbagai negeri. Sampai kini. Malah di wilayah dekat rumah kami di tanah air, para manula yang sudah bergelar haji/hajjah itu, ternyata enggan belajar membaca quran, maunya cuma "marahi anak-cucu" kalau tidak sholat, tidak ngaji... ~_~ naudzubillah, ternyata kakek- nenek buta huruf quran... >_< 

Let's do it now.... hayooo, jangan malu-malu untuk memulai hafalan quran. Banyak yang memulai di usia dua puluhan, tiga puluhan, lima puluhan tahun, tidak apa-apa... memang semakin muda, makin mudah menghafalkannya. Namun semakin optimis untuk bisa, makin cepat pula bisa hafal, meski usia sudah kepala tiga ke atas. *_^  beneran, ini banyak buktinya! Teman-teman huffazh di Kuwait juga demikian, jangan sampai kita tidak bercita-cita menghafalkan quran~ namun bercita-cita memiliki perusahaan dan bisnis yang besar. Sayaaaaang, hidup ini cuma sebentar. Bisnis dunia hanya sementara, namun hafalan quran insya Allah kita bawa sampai di hari pertanggung-jawaban, :-).





5. Hafalkan surat-surat yang paling mudah, surat pendek terlebih dahulu. Ramai yang menyarankan agar hafalan dimulai dengan lima juzu’ terakhir ( bermula dengan juzu’ 30,juzu’ 29 dan seterusnya). 

Ada pula yang mengombinasikan dengan "hafalan juz' terakhir, nyambi baca khatam juz' awal  atau yang sebelumnya". Maksudnya, jadi saat juz' terakhir sudah hafal, juz' baru yang khatam tadi menjadi 'familiar' karena sering diulang-ulang bacanya, maka hafalan selanjutnya menjadi makin mudah.

6. Bisa dengan mengurutkan surat-surat yang digemari terlebih dahulu, misalnya sobat saya juga, dia hafal (terlebih dahulu) QS. al-Kahf, QS. Ar-Rahmaan, QS. Yaasiin, separuh al-Baqoroh... Dan dikombinasikan 'setor hafalan' ke surat yang terasa lebih gemar membacanya, seterusnya ke juz' terakhir, juz' 29, 28, dst... Namun biasanya yang seperti ini, mayoritas 'hafal-an gaya nyantai, yang kadang semangat banget, kadang cepat mengendur...', tapi masih lebih baik dari pada tidak memulai hafalan sama sekali. :-)

7. Bersungguh-sungguh dan terus memperbaiki amalan. Jangan vakum terlalu lama, karena 'lupa'nya juga akan makin cepat, lho... Misalnya saat liburan, bergembira ria, bisa sampai melupakan target hafalan. Ini pengalaman pribadi, surat yang paling mudah pun menjadi sulit dihafalkan karena vakum berarti terlena dalam kelalaian, :-'( jangan ditiru yaaah... >_< 
Ampuni hamba Yaa Allah... :-'(( *Cepat lupa = tidak bersyukur*

8. Baca hafalan kita di dalam sholat-sholat sunnah. Makanya, penghafal quran pastinya 'doyan' sholat sunnah di malam hari, di pagi hari, di saat-saat yang lain tengah terbuai dengan kantuk atau kesibukan  awal hari. Kalau sudah terbiasa, sekalinya 'absen', maka menyesalnya amat sangat perih. Pada tahap ini, terbuktilah bahwa kecintaan terhadap Allah SWT di atas segalanya, tatkala melantunkan al-Quran, menghidupkan malam dengan quran, bermesra dengan ayat quran, berarti sedang akrab denganNya, subhanalloh, akan terasa betapa hidup kita amat bergantung padaNya. Akan terasa nikmat dalam jiwa tatkala mengakui bahwa kita bahkan tak dapat berpijak di atas bumi tanpa pertolonganNya, kita hidup ini hanya untuk "menyenangkanNya" dengan ikhtiar optimal, sudah dibekaliNya raga, hati dan akal sempurna supaya kelak bekal akhirat tercukupi.

9. Pilih sobat-sobat huffazh "tempat menyetor hafalan". Hal paling asyik adalah ketika suami istri 'saling menyetor hafalan quran', kemudian dikoreksi lagi oleh sahabat dekat, lalu siap-siap diuji oleh tim huffazh atau syekh yang memiliki wewenang sebagai penguji. Di setiap negara, biasanya ada Islamic Centre yang punya kelas khusus buat ujian hafalan quran. 

Di Kuwait dan Malaysia pun demikian, malah di Kuwait ini motivasi hadiahnya seru! Setiap satu juz', para penghafal memperoleh cek sejumlah uang, yang kursnya dalam IDR sekitar satu juta rupiah. Kalau sudah 'full' 30 juz', hadiah ceknya seribu KwD, sekitar 40 juta-an rupiah. Itu pun diteruskan dengan kegiatan 'out-bond' dan 'uji nyali' buat para penghafal quran. Misalnya mereka melakukan perjalanan ke berbagai daerah terpencil dan menjadi imam masjid di sepanjang perjalanan. Begitu pula saat taraweh, qiyamul lail ramadhan, masya Allah... Para penghafal quran ini ditunjuk dan dilatih untuk menjadi imam masjid di sepanjang jazirah teluk. Dengan cara menjadi imam di antara para makmum yang huffazh pula, supaya saling mengoreksi bacaan.

*Suddenly Terkenang bacaan Sheikh Mishary bin Rashid Al-Afasy, (born in Kuwait in 1976, is a Kuwaiti national and a world-renowned qari. He is the imam of Masjid Al-Kabir (Grand Mosque)....) kalau taraweh dan qiyamullail di bulan ramadhan. Masjid al-Kabir ini padat sekali pengunjungnya...masya Allah!* #eh btw, syekh nya masih muda banget yaaaah, ^_^ 

(Maaf harus ngomong), anak-anak dan teman-teman huffazh lulusan Kuwait (ini yang usianya 6-16 tahun udah pada khatam quran...) pernah tertawa-tertiwi dan geleng-geleng kepala ketika menjadi makmum di masjid-masjid daerah mereka, di Indonesia. Karena imam-imam di masjid Indonesia, masih banyak yang bacaan qurannya salah---tapi ngotot gak mau diajak berbenah... dan belum tentu hafal setengah dari juz 'amma... :-/ sedihnya adalah ketika para imam, muadzin di Indonesia tidak ada perbaikan kualitas dari tahun ke tahun. :-'( Malah di kotaku, di dekat rumah ujung Jkt pula, di tempat kakakku di Bogor, sama semua, Imam sholatnya membaca quran dengan asal-asalan, tapi diajak belajar, tidak mau... :-(( semau-maunya saja minta pengakuan sebagai imam masjid, berbeda dengan para imam masjid di Kuwait, diuji kemampuan hafalan quran haditsnya--- meski harus mengikuti aturan kementrian agama terpusat dalam menyampaikan isi ceramah (khotbah).

Hal yang paling memprihatinkan saat ini adalah aktivitas remaja masjid dan pelajaran-pelajaran tentang al-Quran difitnah sebagai kegiatan ekstrim dan teror di negeri kita. Bahkan media televisi dan media massa yang cs-an dengan kepentingan barat menelurkan berita-berita buruk bagi pecinta al-Quran... 
Masjid-masjid yang "diramaikan" oleh pecinta kajian quran biasanya terletak di wilayah kampus, di lingkungan kaum intelektual yang berusaha senantiasa meningkatkan pengetahuan Islam, namun ramainya aktivitas kebaikan justru dipergunakan oleh pihak-pihak anti Islam sebagai bukti hadirnya isu aliran 'sesat, fanatik, dan sejenisnya' yang kemudian menggiring opini publik supaya "takut belajar quran, takut belajar di masjid...", dan hal sejenisnya.
Mereka tutup mata melihat pesatnya pembangunan negeri adalah dikarenakan pemuda-pemudi berprestasi pecinta quran, mereka terus-menerus menyembunyikan fakta bahwa solusi kaum remaja yang haus kasih sayang, krisis akhlak, ragam problema masyarakat, krisis pemimpin di negeri ini, dll dapat teratasi dengan kembali kepada nilai-nilai qurani.
Wallohu a'lam...

10. Berkumpul dengan teman-teman yang menyemangati dalam belajar quran. Kadang-kadang ada rasa berat, itu pasti! Karena kita manusia memang cepat terombang-ambing suasana, godaan di setiap sudut selalu hadir agar kita mudah lalai dan lupa. Maka, teman-teman yang selalu mengingatkan harus selalu ada. Berkumpul dengan teman-teman yang sholeh/sholihat adalah pengobat jiwa pula. Iman kita tidak selalu naik seperti baginda Rasullullah SAW, namun jangan biarkan jatuh terperosok luka parah dan tersungkur dalam kegelapan. Diri kita sendiri-lah yang harus pandai mengencangkan kesabaran dan rasa syukur kepada Allah SWT agar senantiasa berlimpah nikmat cahaya Iman, al Islam, dan berada dalam taufiq hidayahNya.

11. "Tekad harus terus diasah, perbaiki niat,& terus diteguhkan!" 
Suatu hari di penghujung syaban, ada musabaqoh tilawatil quran sisters Kuwait. Semua muslimah dalam komunitas Al-Husna Kuwait disarankan 'ikut berpartisipasi". Pilihan surat-suratnya tidak ada yang benar-benar kuhafalkan dengan baik. Namun kalau tidak ikut, merasa rugi jadi penonton doang, lha sudah jauh-jauh silaturrahim ngumpul dari Salmiya ke Reggae, hehehe...

Atas dukungan penuh suami, kupilihlah salah satu surat yang jarang dipilih teman-teman, level paling rendah di juz 'amma ;-), saya tidak malu berada di "siaran ulang juz 'amma" yang penting hafalan quran ini dapat menjadi tameng bekalan di hari akhir kelak. Aamiin... 
Dan ternyata, waktu satu minggu dengan "tekad melebihi baja" itu, saya dapat menghafalkan tiga surat berdekatan sekaligus. *Padahal, sueeer, kalau gak karena musabaqoh, siaran ulangnya bisa molor sampai setahun, >_< waduuuh....* (Jangan meniru kemalasan saya yah...:-D)

Singkat cerita, MTQ berjalan lancar dan sempat saya rampungkan artikel mengenai teman-teman pecinta quran ini, sebelum berangkat umroh :-). Beberapa "al-hafizhah" menjadi jurinya, dan ternyata emaknya Azzam termasuk juara #1 (ada tiga juara #1, tiga juara #2, tiga juara #3 dan hadiah hiburan lainnya) di setiap level. Walhamdulillah 'ala kulli hal... *Jadi dapat bonus hadiah plus foto bareng para penghafal quran, gitu lho, hihihihi....* 
Mabroook!

(^_^)


Berarti, salah satu cara mempercepat hafalan adalah dengan menggenjot semangat memenuhi 'target hafalan' seperti contoh saat akan ada MTQ. Maka, silakan para ortu, para guru, buat saja program-program rutin dalam skala kecil untuk MTQ keluarga besar, bisa MTQ buat anak-anak, buat para bapak, dan para ibu juga. Hal ini sering dilakukan pula oleh banyak komunitas muslim Indonesia yang ada di luar negeri, :-).

Dalam keluarga kecil pun, bisa dicoba membuat jadwal rutin "MTQ dalam area rumah tangga sendiri", misalnya tiap akhir minggu, si bapak "setor surat ke sekian", si ibu juga setor hafalan surat ke sekian, si kakak dan si adek juga demikian, khadimat juga diajak "setor hafalan surat sekian". Pasti tambah semangat, kan?! Aiiih, sepertinya hal remeh, namun kalau tidak berkomitmen teguh, hal ini tidak bisa berjalan lancar, lho... Jangan sampai semangat kita cuma membara di kala ramadhan tiba. ^_^

Ketenangan jiwa saat melantunkan dan meresapi ayatNya tak dapat dibandingkan dengan jumlah nominal mata uang mana pun jua. Keistimewaan Para Penghafal al-Quran ada di link ini.  



Barokallohu fiikum , selamat beraktivitas, Salam Ukhuwah ^-^ ❤  

Tetap saling do'a yah^^ Jangan segan bersilaturrahim via twitter @bidadari_azzam ^^ 

Maaf lahir batin...
Wassalamu'alaykumWrwb... :-) 



*Disampaikan dalam beberapa tahap kultum singkat di Islamic Centre Krakow. Congrats for our lovely sisters! Selamat buat beberapa sisters muallaf Krakow yang baru awal ramadhan 1434h lalu---dapat membaca al-Quran, mabrooook! ^_^



Wednesday, July 24, 2013

Lafadz Syukur Ramadhan








Rindu Ramadhan



Oase sejuk nan didamba

Oleh ummat sedunia

O, hamba rindu

Pada tamu mulia itu



Puasa ramadhan

Hadiah terindah untuk-Mu



Samudera kesabaran

Mencapai awal magrib kenikmatan

Berkah nan tak tergantikan

Sujud berjama'ah dengan keempat pangeran



Detik ramadhan

Selalu berhias kedamaian



Duhai jiwa

Puji syukur pada-Nya

Usia diri rengkuh bulan mulia

Semoga menjadi ramadhan terbaik bagi kita

'tuk kumpulkan samudera hikmah perbekalan kala menutup mata

Aamiin Yaa Rahmaan Yaa Rahiim

(bidadari_Azzam, Old Town Krakow, malam 7 jan 2013 11pm)

Dalam karya : Sajak Mengeja Masa :-)










Lafadz Syukur



Semburat cerah menerobos kaca jendela

Senyum dan Basmalah sambut pagi mesra

Dengan apa harus kubuktikan cinta

Dua rakaat subuh pengharum dekapan keluarga



Terkadang iri dan ujub kusamkan qolbu

Rampas cahaya jelita dari rupa nan ayu

Dengan apa harus kusampaikan rindu

Ketika taburan do'a masih kalah dengan derasnya debu



Ah, dosa-dosa ini masih melekat

Membuih sangat cepat

Apakah menanti detik sekarat

Ataukah berlapang dada 'tuk segera bertaubat



Duhai ilahi

Tapak berpijak di rumahMu kini

Pesona semesta kokohkan hati

Lisan berlantun namaMu nan terpuji



Duhai ilahi

Mohon ampun atas kelalaian kami

Dengan apa harus kuteguhkan nurani

Hanyalah sujud pendamba cinta hakiki



Allahu Robbi

Terima kasih atas samudera nikmat ini



(@bidadari_azzam, Makkah al-Mukaromah, penghujung sya’ban june 2013)


Semoga Allah ta'ala senantiasa melimpahkan kemudahan dalam semua urusan dan permasalahan yang dihadapi sobat semua, aamiin... Semangat beraktivitas, Salam sayang, Happy Ramadhan!

Salam Ukhuwah dari Krakow eh, Kuwait (sekarang) ^^, Barokallohu fiikum :-)

@bidadari_azzam :-)

Thursday, July 11, 2013

Marhaban yaa Ramadhan 1434h.... (Umroh di Penghujung Sya'ban)





السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Marhaban yaa Ramadhan...


Rasa rindu meraup trilyunan pahala dan keberkahan serta ampunanNya telah berada dalam puncak asa, Mari kita tingkatkan amal ibadah di bulan mulia...

Setitik prahara dan ujian adalah penghias samudera nikmat yg harus tetap berukir lafadz syukur, Smoga kita termasuk dalam golongan hamba-hambaNya nan teguh tegar mendekap iman & ketaqwaan...

Aaamin آمِيّنْ... آمِيّنْ..​​​آمِيـنَ يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْن

Barokalloh duhai sahabat-sahabat nan istiqomah, barokalloh duhai jiwa-jiwa perindu malam lailatul qodar :-)


~Maaf Lahir dan bathin « Anggana &Sry sekelg¤ Ramadhan 1434h

Sebelum tirai bulan mulia terbuka, kami berkesempatan hadir dalam barisan shaf pertama di hadapan pintu ka'bah. Umroh sya'ban nan amat berkesan, saat kami ternyata melihat kiblat muslim sedunia dengan utuh~menyentuh lingkaran hajar aswad dengan bait do'a berhias banjir di mata kala melafadzkan... "waqina 'adzabannaar...." (yah, getaran nurani yang takut pada siksa neraka, wajarlah semua muslim yang bertawaf kala itu penuh air mata dan keringat yang bercucuran, meskipun alat-alat berat dan perlengkapan renovasi di masjidil haraam berada di antara jamaah masjid, :-p)

Setiap hari ketika umroh dan perjalanan ziarah, ketiga jagoanku memperoleh hadiah dari jamaah lainnya :-), Alhamdulillah....

Ketika berada di raudhah, Nabawi, masya Allah.... Gak sanggup menceritakannya, betapa haru dan deg-deg-annya mengingat sesosok manusia paling kita rindukan itu~ yaa habiballoh, yaa Rasululloh (Shallallahu 'alayhi wasallam), salam bagimu yaa rosululloh.... (sampai para askarnya juga berpelukan denganku....), kemudahan dan kelancaran di tengah hiruk pikuk suasana Makkah dan Madinah tentu tak luput dari do'a sobat semua. Syukron jazzakumulloh khoiru jazza yah...

Insya Allah, mohon do'akan saya agar bisa merampungkan cerita utuhnya agar kian menularkan inspirasi buat kalian semua, aamiiin. Telah kulafadzkan do'a, semoga semua sahabat, teman-temanku yang setia merajut do'a selama ini, segera dimudahkan pula untuk menuju ke sana~ menjadi tamu istimewaNya, berada di masjidil Haraam dan masjidil Nabawi... (masjidil Aqsho juga jika sudah terbebas dari penjajahan kelak, aamiin). Aamiin yaa Robbul'alamiin....

"Our Lord! Give us in this world that which is good and in the Hereafter that which is good, and save us from the torment of the Fire!" (The Holy Qur'an 2:201)

RT @bidadari_azzam : #Ramadhan mabrook everyone, may Allah ta'ala accept our duas, always give the blessings, take care our imaan, and we must be stronger ... Please do keep our brothers & sisters all over the world in your precious duas too #Ramadhan #Palestine #Syria #Egypt #Myanmar



*Selamat memeluk puncak kerinduan, selamat menikmati lantunan ayat suci siang malam, selamat menegakkan qiyamul lail dengan dzikir yg kian diperpanjang, selamat memetik trilyunan ganjaran di setiap aktivitas sekecil apa pun, selamat berbahagia bersama keluarga tercinta, semoga Allah ta'ala meridhoi dan mengabulkan segala do'a sahabat semua... Peluk erat ukhuwah, barokalloh!*

Barokallohu fiikum , selamat beraktivitas, Salam Ukhuwah dari Kuwait ... ^-^ ❤

Tetap saling do'a yah^^ Jangan segan bersilaturrahim via twitter @bidadari_azzam ^^

Wassalamu'alaykumWrwb... :-) 


Tuesday, June 25, 2013

Meraup BerkahNya di Setiap Pilihan

Meraup BerkahNya di Setiap Pilihan

Pertemuan dengan seorang teman sholihat membuahkan cengkerama penuh hikmah. Ia bertutur, “Saya gembira sist, setiap bulan, dua atau tiga kali seminggunya, orang tua datang berkunjung, atau kami yang kesana…” padahal jarak tempuh rumahnya dengan rumah orang tua lumayan jauh dan lalin selalu macet, sekitar dua-jam an di luar Jabotabek. “Alhamdulillah, senang sekali tentunya yah, sedangkan hampir setiap minggu kita dapati berita meninggalnya orang tua teman-teman lain…” Masya Allah, antrian kita kian dekat yah, bisikku.

“Kamu masih ingat kan, sist… orang tuaku menjual es lilin dan kue-kue demi kelancaran sekolah anak-anaknya. Kan beda dengan orang tuamu yang di perusahaan minyak, hihihi…” celotehnya lagi.

“Iya, ingat banget… Subhanalloh! Es lilinnya juga pernah masuk ke perutku, hehehe… Eh tapi bapakku sebelum kerja kan kudu menyelesaikan sekolah. Kamu lupa yah, waktu zaman baru-baru merdeka itu, bapakku ‘nyari’ duit sendiri buat bayar sekolah. Beliau juga pernah menyemir sepatu, mencuci mobil orang di jalan raya, dan menjajakan koran… Wajar kan kalau anak-anaknya ketularan semangat dan ketangguhannya, hehehe..” memoriku mengingati perjuangan bapak semasa kecil. “Haah?! Masa’? kamu pernah cerita gak sih?” temanku terkejut.

“Ya…ya….mungkin saya lupa, ih. Ternyata memang semua yang diraih oleh setiap orang, selalu ada perjuangan dan semangat tangguh dalam kerja kerasnya, yah…Ya Allah, subhanalloh…Jadi ingat sama sobat kita yang yatim dan mamanya jualan cabe, tapi anaknya lulus sarjana semua.” tambahnya lagi.

Masih dia menyambung kata, “Dan sekarang saya bingung sekali. Anakku kok pemalas banget, disuruh apa-apa~ogah. Dimintai tolong sedikit, ngomelnya panjang lebar…padahal orang tua dan kakek neneknya punya perjuangan yang gigih, dia sudah diberi keteladanan, diajak-ajak berteman sama anak-anak sholih juga, tapi yah gitu deh…”

“Lho…. Kan anak-anak, jeng. Masih sepuluh tahun, yah? Lagi usianya aja barangkali… Terus-terusan aja diajak-ajak kerja sama, jangan disuruh-suruh, ‘diajak’ say… “ celetukku seraya bercanda.

“Bukan gitu say… Kalau ada tamu atau teman-teman, anakku sikapnya buruk, malu deh. Tetapi saya lihat anak-anakmu meskipun gak bisa diam, kejar-kejaran, bisa nurut dan baik-baik deh, gak ngomel-ngomel kalau ortunya minta tolong atau ngingeti sesuatu…kamu pakai jurus apa say?” ia tertawa. Aku juga tertawa, “Mana ada yang instant. Anak-anakku juga sering ngomel, Si sulung bisa banyak complain. Aku berusaha sabar aja, kalau ngobrol sama anak, harus siap mendengarkan. Sama-sama mendengarkan, ajak untuk sama-sama saling mengingatkan. Buat kesepakatan gitu, ‘janjian yok, kita ngingetin kalau pas kamu atau ummi salah, …’ bikin kesepakatan cara ngingetinnya, apalagi pas di depan umum…”

Percakapan panjang, ditutup sebuah penyesalan dari teman sholihat ini. Beliau adalah temanku yang kreatif, pebisnis aktif dan jujur, disukai banyak pelanggan. Beberapa tahun bisnis yang dijalankan, rupiah mengalir deras, omset mencapai ratusan juta. Karena benar-benar sibuk, bayi dititipkannya di tetangga jauh, duh, padahal rumahnya dekat masjid. Sang bayi dititipkan di ‘day care’ area pasar. Lingkungan pasar tradisional membesarkan masa balitanya.

Aku turut terkejut ketika si kecil tersebut bisa berkata-kata kotor di usia lima tahun, kosa kata yang kasar dan biasa diucapkan preman. Usia enam tahun-an, dia bisa cerita soal ‘om itu selingkuh…’, tante itu mandul, ‘orang itu bunting tapi gak ada suami’, dan kalimat khas ‘sinetron’ lainnya. Membuat temanku tertelungkup di balik bantal dan banjirlah wajahnya karena air mata.

Tak sampai disitu, kejutan lain hadir. Memasuki usia yang masih muda, masih di bawah 35, namun sang suami ‘terdeteksi’ jantung dengan komplikasi penyakit lainnya. Waduh, temanku kian perih, dan ia berkata, “Aku gak target-targetan lagi, say… kalau waktu bisa diputar ulang, ooh, labanya malah dipakai buat berobat dan harus mulai serius memperbaiki akhlak anakku ini….”

Waduh, dimana kita bisa membeli obat buat memperbaiki akhlak? Innalillahi wa inna ilayhi rojiuun…


“Subhanalloh, aku tetap yakin, kamu dapat melalui semua hal ini, kamu pasti kuat…” aku bersyukur menatap wajahnya yang memang tak pernah pesimis.

Ada lagi yang lebih parah, teman yang sedang menemani anaknya menjalani therapy karena mengidap kanker, sedihnya… Di saat ujian kian menerpa, ia malah mengkhianati kepercayaan banyak rekan bisnisnya. Ia pergunakan dana teman-teman tak hanya untuk pengobatan, itu pun tidak berakad jelas, ‘pinjaman sampai kapan, entah…’ dengan alasan ‘sayang anak’. Ia membeli apa-apa yang anak inginkan, bahkan game-game terbaru yang tidak mendidik, “Takut kehilangan” katanya. Alhasil, hidup sederhana ditinggalkannya, mencari celah pinjaman dana kesana-kemari dengan menggunakan “alasan kanker si anak”.

Buntutnya, suatu hari ‘seolah’ terjadi kericuhan di antara kaum ibu tatkala corak permasalahan anak menjadi makin beragam, ibu yang banyak job di luar rumah vs ibu yang full job di dalam rumah. Ibu-luar rumah berkata, “Makanya kerja, bu! Punya penghasilan sendiri, donk! Jangan mengandalkan suami, jangan nitip anak sembarangan… Pakai baby-sitter yang oke atau titip ke neneknya nih seperti saya…”

Sedangkan ibu-dalam rumah berujar, “Lho, penghasilan kita juga banyak bu! Gak mengandalkan suami, rekening saya mungkin lebih besar dari pada anda. Anak-anak diurus sendiri, bisnis jalan lancar. Gak mau deh nanti ‘anak jadi anaknya nenek atau anaknya baby-sitter’, ogah bu…Apalagi kalau anaknya jadi doyan narkoba…” Ibu-ibu lain pun bersuara. “Eh, siapa bilang ibu yang kerja di luar, gak bisa punya anak sholeh…? Anak saya lulusan pesantren lho, kuliah di Mesir, masuk pesantren jadinya hafidz qur’an…”

“Saya juga kerja di luar dan banyak bisnis, anak-anak happy saja. Tetanggaku yang ibu di dalam rumah, malah anaknya sudah tau video porno. Malah anak-anaknya kelihatan kurus, lusuh, gak happy, dan dijauhi teman-temannya…Ibunya banyak utang…” Pihak lainnya yang melihat ada kesempatan saat ibu-full job rumah kian disindir, berkata, “Makanya ikut bisnis saya aja bu… Sambil ngurusin anak, gak masalah, tinggal pencet BB, FB, WA, asyik deh bisnisku… Jadi gak perlu ngutang lagi, yakin deh….Kasih tau tetangganya itu, bu…”

... Sambungannya baca langsung di link-Islampos pada judul tersebut di atas, yah dear... :-)




Sebaiknya kita azzamkan bahwa hasil pertemuan, diskusi dan segala aktivitas yang kita lakukan adalah upaya untuk senantiasa meraup berkahNya. Semua makhlukNya diciptakan dengan tujuan manfaat, begitu pun diri tiap individu, masing-masing kita adalah anugerah bagi yang lainnya. Kita perlu saling mengingatkan, menasehati, serta mendukung kebaikan, bukan saling berkomentar dengan kesan ujub, menghina, apalagi berbuah pertengkaran dan percakapan sinis. Kadang setan memasuki diri melalui pintu kecongkakan dikarenakan seseorang dipuji kepandaian, sabda Nabi SAW, “Bencana ilmu adalah kecongkakan.” (HR. Baihaqi) Demikian pula dalam ayatNya “…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS. An-Nahl:23)

Ketika sosok-sosok mulia para ibu kian banyak berbagi ilmu, berbagi semangat serta nasehat, mari kita bergembira dengan tambahan ilmu dan pencerahan yang didapat. Namun, tetaplah harus kritis dan menyadari bahwa pegangan kita hanya bertumpu pada dua wasiat ; Qur’an dan sunnah rasulNya. Pilihan apa pun di setiap pijakan langkah, harus selalu berlandaskan kedua pedoman kita ini, sejalan dengan cita ukhrowi nan selamat.

Ujian yang terjadi di setiap jalan pilihan tak perlu dihindari, apalagi jika fase peranan kita sudah menjadi orang tua, kita harus hadapi problema dan berusaha menemukan solusi tepat, tentu hal ini menyebabkan diri kian matang dalam bersikap. Anak-anak pun memerhatikan dan meniru gaya penyelesaian problema orang tuanya. Ucapkan terus terang kepada anak-anak bahwa ibu dan ayah juga pernah keliru, pernah salah, namun bisa memperbaiki diri. Sehingga anak-anak juga punya rasa optimis dan tidak malu saat diajak berbenah diri.


Barokallohu fiikum , semoga kita senantiasa menularkan manfaat,
Salam Ukhuwah dari Kuwait ... ^-^ ❤

Tetap saling do'a yah...^^ Semoga tetap bisa silaturrahim via twitter @bidadari_azzam ^^

Wassalamu'alaykumWrwb... :-)


Monday, June 24, 2013

Ide Kreatif #TrioKids di Cuaca Panas



Assalamu'alaykum watohmatullohi wabarokatuh... :-) Hampir tak ada waktu buat meng-update blog saat ini, saya sekeluarga sedang mempersiapkan keberangkatan umroh di penghujung sya'ban. Keinginan untuk membeli beberapa keperluan dan persiapan umroh terhambat oleh transport dan cuaca terik, subhanalloh... siang di Kuwait-summer begini, bisa mencapai 56 sampai 60 derajat celcius, euy...

Alhamdulillah setelah perlahan menyelesaikan 'benang-kusut' satu-persatu (iqomah, Umroh-tickets, visa...hmmm packingan, dsb), sekarang kira-kira tinggal meriksa 'perbekalan cemilan' buat di jalan dan kudu mencuci sandal-sandal yang mau di bawa, hmmm...yup, mohon tetap dido'ain yah, semoga segalanya lancar. Makanya beberapa hari ini sampai ramadhan nanti, kemungkinan saya online-an jarang...


Siang garang di Kuwait

Pinggir pantai dan jalanan sekitar Salmiya, Kuwait ~berkabut debu pasir

Anak-anakku alias tiga jagoan super aktif tampak sangat bosan 'pas gak keluar- na spacer'. Pernah bergantian si kecil ikut saya belanja, membeli buah semangka, mangga, biskuit, atau keperluan lainnya. Tiga puluh menit keluar saja, saya capeknya luar biasa, berhadapan dengan debu pasir dan tamparan garang matahari, apalagi sport-jantung saat menyeberang jalan karena disini TIDAK DISEDIAKAN trotoar, :-) astaghfirrulloh... Namun ternyata jagoan kecilku tidak lelah. Tidak puas jalan keluar cuma sebentar seperti itu, jadi mereka harus melakukan "pengeluaran energi" di dalam rumah, ya sudahlah, yang penting happy, :-D hehehe. Kegiatan anak-anak selain origami dan mencoret-coret kertas, antara lain : membantuku beres-beres rumah (meliputi kegiatan lipat selimut, rapi-rapi ruang tidur, dan si sulung udah bisa pegang vacum-cleaner...), menyusuni sandal dan sepatu (yang doyan diberantakin oleh si bungsu Azizi), membantu menyiapkan makanan dan berjemuran baju, sesekali di sore hari 'PDKT' dengan teman-teman baru di appartemen ini. ^-^ ❤

Dengan seabreg kegiatan itu, ternyata belum juga lelah, anak-anak 'mantengin' komputer, memutar film-film kartun lama, termasuk beberapa video waktu mereka bayi. Bang Azzam sesekali main game, kalau sudah 'setoran hafalan' qur'annya. Sedetik pun tidak ada 'duduk diam' yang kayak boneka, hihihihi, tiga jagoanku ini sibuk banget, lebih dari kesibukan ortu mereka. Dan ketiganya lebih jago 'ngotak-ngatik' ipad/ tablet dibandingkan emaknya... >_<

Hari itu, saya meminjam komputer abang sebentar, mau melihat beberapa file foto, tiga jagoanku tentu harus mengalah (ini kan komputer buat muter film mereka, main game, nonton video, dll...)dan sepertinya seri Timmy-Time di ipad-(yg udah babak belur itu) mulai membosankan, mereka jadi main silat-silatan di ruang tamu... "Ooooh, kayak lagi syuting film-film pendekar deh di sini..." ujarku, bang Azzam terbahak. :-P

Kain-kain dan selimut tipis biasanya dipergunakan sebagai 'mantel superman' untuk membuat penampilan 'pendekar-pendekar-an' jadi lebih "wah" (Gak tega deh motret kehebohan 'parah' mereka, hehehe, ntar #TrioKids tambah banyak fans pula! hihihihi...)

Kata Sayyif, "Rumahku, tempat mainku!"

Gaya Zuhud



Kalau sudah makan siang dan sholat, jeda jilat-jilat ice-cream, trus mompa bak mandi imutnya (Dapat appartemen di Kuwait, yang tanpa bath-tub, :-D jadi nampak kangen tuh sama bak gede :-p), hmmm kalau panas begini, kayaknya lebih kangen lagi sama kolam renang yah.... ^-^

Segar!

Beberapa bantal dan kasur tipis, dibangun menjadi tenda-tenda, diotak-atik seharian sampai #TrioKids puas....



Duh, cantik tenda-tendanya...

Subhanalloh, asyiknya menjadi anak-anak... (buktinya kita pasti kangen masa kanak-kanak...:-P)

Satu terlelap, yang lain ikutan...:-D

Barokalloh! Yoook tetap semangat dalam segala aktivitas kebaikan, aamiin...

Salam Ukhuwah dari kami sekeluarga, teman-teman! ^^

twitter : @bidadari_azzam ^-^

Wednesday, June 12, 2013

Barokalloh My Mom








Assalamu'alaykum, Juni dan Ramadhan adalah identik dengan 'kekompakan muhasabah diri' bagiku dan mama', alias Ombay Azzam, ;-)). Kami sama-sama lahir di bulan-bulan romantis itu (Juni~hitungan secara masehi, dan Ramadhan secara Hijriyyah...)

Di blog ini-archieve 2008, Aku pernah menguntai puisi buat mama'. Tidak bosan kalau kubaca-baca ulang, senang sekali mengenang masa kecil, kalimat dalam puisiku tetap relevan sampai kapan pun :-), tentang kehebatan ibu di mataku. Subhanalloh, my mom is very inspiring woman!

Ku re-Post disini yah :

The Language of Your Love



Dearest Mama

You speak it from within your heart only

But everyone can hear

You teach me everything in our special room

But everyone can know

Everyone see our journey

And give you an enormous thumb up

'coz my beautiful life now? actually, No

That thumb up for you

'coz your language for me

I understood 'coz of you

Your beautiful language

The language of your true love

(my old-file KL.11.43 am, march,18,2008)

I am remembering that my mom have said, "I believe that your children are like you...look like you in physics, also in habbits..." wooow! :) that's alright, sure mom, you'r great... and the language of your love, It's very special for me, for my brothers & sisters also, so meaningfull, We love you always, forever... :)


Hmmmmm, Membicarakan ibu, tidak akan habis bahasannya. Karena tema tentangnya adalah tentang ketulusan cinta. (Contoh kecilnya adalah jika kalian mengalami masa awal pengantin baru, dan deg-deg-an karena baru saat itu merasakan getaran cinta dahsyat antara suami istri. Namun begitu kalian hamil, melahirkan, apalagi menyusui pertama kalinya, 'deg-deg-an' masa awal pengantin berasa 'gak sebanding dengan kecamuk rasa kala menjadi ibu' di momen tersebut. Karena kehadiran anak adalah hadirnya permata ketulusan cinta, hadir amanah besar dariNya untuk senantiasa memupuk cinta, maka jutaan rasa antara suami istri 'gak deg-deg-an' kayak pertama kali bersua, namun bukan berarti rasa cinta itu berkurang :-D. Justru ketika si buah cinta hadir, suami istri kian merasa sejiwa, jadi fokus memikirkan buah cinta, ego-ego diri terkikis perlahan, 'deg-deg-an' saat banyak kejutan yang dibuat oleh si permata hati-lah ~nan lebih dahsyat dari awal pengantin baru. Cinta nan tulus memerlukan pengorbanan, ya kan? Sosok ibu adalah wanita yang paling setia dalam mendukung cita perjuangan anaknya, *_^ insya Allah, ibuku sedemikian, mungkin kamu dan aku juga?! Wallohu'alam, mempelajari ketulusan cinta adalah pelajaran setiap masa...)

Jadi tambahan secuil tips buat teman-teman yang stuck ketika menulis :

1. Bayangkanlah senyuman ibunda

2. Tulislah tentangnya, pasti banyak kalimat yang kamu bisa rangkai ketika sekelebat bayangan ibunda hadir... (contoh kecil, ketika saya menuliskan tentang beliau, baru saja setengah jam, tidak terasa sudah 12 halaman ~ketak-ketik, hihihi... belum ditambah air mata, dan beberapa tisu harus disiapkan :-D) Yah, sosok wanita yang urat-urat dan ototnya mengalami perubahan ajaib ketika melahirkan kita, amat wajar kalau setiap anak yang mengenang ibunya~menjadi banjir air mata, >_< termasuk aku. Ya Allah, berkahilah ia di dunia dan akhiratMu. aamiin...

Pas mudik maret lalu, ada tiga teman masa sekolahku yang baru saja kehilangan ibunda. Aku juga jadi ikut berurai air mata, karena ketiga mama sobat kecilku ini juga tersimpan sebagai kenangan masa kecil. Kalau kami bermain atau mengerjakan tugas kelompok, mama-mama mereka pasti menyiapkan kue-kue atau nasi & lauk pas makan siang. :-) Menu halal yang disiapkan oleh mereka berarti sudah pernah mampir ke perutku pula, aku masih sangat hafal raut wajah ketiga mama temanku ini. Semoga Allah SWT melapangkan kubur mereka, aamiin...

Tambah banjirlah mata temanku tatkala membaca bait-bait ini yang kutulis dalam kumpulan puisiku, "Sajak Mengeja Masa"

Pesan Ibu

(bidadari_Azzam, #SajakMengejaMasa)



Senyum untuk jiwa

Tenang hadirkan damai

Segala solusi adalah cinta

Problema datang bila janji belum tunai



Lagi dan lagi ibu berpesan

Ketika berbuat tanpa penghargaan

Disitulah letak keikhlasan

Ketika berkorban namun hadir pengkhianatan

Suka rela hati nantikan hari perhitungan

Tak pernah ada gelisah

Jika pancaran tulus tersirat pada wajah

Balasan Allah Selalu Maha Sempurna



Diam saja jika tak mampu berkata hal baik

Prilaku terpuji jangan ternoda serapah

Panjatkan do’a dimana saja

Dari pada terbuai sumpah dan caci

Kenang dan resapkan dalam dada

Segala kebaikan di sekeliling kita

Tiada guna merekam keburukan sesama

Cukuplah direnungkan sebagai pelajaran menuju dewasa



Usah balas amarah

Hadapi maki dengan karya

Sebarkan senyum meski banyak nan menghina

Karena pasti lebih banyak nan mencinta



Mentari selalu hangat

Hujan selalu sejuk

Rembulan tetap cantik

Dan engkau pun harus tetap berprilaku apik

Karena engkau berteman semesta

Karena engkau bersiram hidayah-Nya

Jaga diri di atas bumi

Bahkan penghuni langit menguntai doa buatmu



Oh Ibu

Pesanmu selalu hadir dalam kalbu

Cambuk diri di setiap waktu

Bagai rengkuhan sukma nan utuh

Oh Ibu

Selalu kurindu

Oh Ibu

Terima kasih atas segalanya

(bidadari_Azzam, Salam ukhuwah dari Krakow, malam 30 des 2012)

Mama'ku adalah orang yang paling excited kalau membaca puisi atau artikelku, (seraya terisak pula....) like mother ~like daughter bisa jadi pas saling merindukan, kami menangis di tempat yang berbeda... :-D

...Lanjut lagi nanti, ;-))

Barokalloh selalu, semoga tetap semangat dalam segala aktivitas kebaikan, aamiin...

Kalau punya niat melakukan kejahatan, cobalah ingat-ingat lagi pada ibu yang sudah letih dan lelah melahirkanmu. "Kasihanilah orang tuamu ketika ditanya Robbul 'izzati di saat laporan pertanggung-jawaban kelak, rugi banget kalau tidak berusaha menjadi anak yang baik, kerugian di dunia sampai akhirat....sure!"

Salam Ukhuwah, teman-teman! ^^

^^ Sudah follow twitter @bidadari_azzam, kan? ;-))

*Puisi di atas pernah dimuat pula di dua media islami

:-) Wassalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh...

Thursday, May 30, 2013

Medical Check Up di Klinik Assa'adah


Bismillah walhamdulillah...

Setelah memegang kwitansi 'sakti' dari GAMCA di keluarga besar fushtun-fushtun itu, saya mengucapkan terima kasih kepada petugas yang bertubuh gemuk tadi, :-) karena "BB udah dicharge, 10% terisi, lumayan...." :-D

Saya bilang, "Nanti saya review langkah-langkah saya dalam prosedur ke Kuwait~yang sederhana tapi ternyata ribet ini, Pak..." ;-)).

*Halooo, Pak! Sekarang lagi baca blog ane, gak nih?*

Lanjut mobil meluncur ke Klinik Assa'adah. Kenapa bukan klinik An-Nuur (yang sebelumnya kami datangi)? Hal ini karena dua alasan. Pertama, saya ogah berjumpa mbak Judes yang tadi itu, alasan kedua karena pas sopir lihat alamat klinik Assa'adah, ini arah jalannya lebih minim macet dibandingkan kalau kami ke arah An-Nuur lagi.

Dua kali salah belokan, rupanya klinik ini lumayan jauh (kalau naik angkutan umum, gak ngerti deh bisa naik apa, stop dimana... khusus buat kami yang 'biasa ngorbit' di Tangerang, dan Jakarta-nya Rw Mangun doang, hehehe....)

Pukul lima kurang beberapa menit, saya langsung berbicara dengan kedua mbak yang duduk di bagian penerima tamu, mereka mempersilakan anak-anak dan adikku istirahat di ruang kecil buat tamu menunggu karena ketiga bocah tidur semua (kami sibuk menggendong...).

Kusebut nama mereka Mbak Mawar dan Mbak Melati saja, keduanya lumayan ramah. Semua berkas penting ada dalam folder dokument di tanganku, "Assalamu'alaykum... Mbak, memang belum tutup yah kliniknya?" ujarku.

"Belum, mbak.... Masih bisa check up, oooh, ini mbak yang nelepon kan yah, yang mau ke Kuwait ?" kata Mbak Mawar.

"Iya, saya yang beberapa kali menelepon, sudah saya turuti nih surat dari GAMCA-nya, hehehehe.... Mbak liat saja tuh kan, anak saya tiga, yang dua balita. Makanya sampai nguber cepat-cepat, kalau bisa sore ini kelar check up, nanti kan result-nya tidak harus saya yang ambil?" masih ngos-ngosan, kemudian saya tunjukkan dokumen yang diperlukan ; copy passpor, buku imunisasi anak-anakku, KK, dll yang memang sudah lengkap disiapkan oleh suamiku, bersamaan dengan ori-fam-visa. Bahkan saya membawa surat keterangan dari bidan dan dokter yang memeriksa anak-anak lagi di Palembang (tapi ini tidak terpakai.)

"Ya, kasian yah mbaknya, repot jauh-jauh datang dengan anak-anak, duh pasti capek anak-anak.... Tapi memang sekarang semuanya di GAMCA, kami cuma pas check up-nya aja, mbak..." Mbak Melati bicara sambil membaca dan memeriksa berkas-berkas. "Komplet sudah, mbak.... ini yang fam-visa-nya tidak usah, nanti ditunjukkan saja pas ambil hasilnya, yah..." sambung Mbak Mawar.

Kemudian keduanya bergumam, "Oooooh, asyik yah mbak, hmmm.... pindah dari Polandia ke Kuwait, hmmm...enak yah, jalan-jalan terus ke luar negeri?" komentar yang sering kudengar sebagaimana biasanya, karena mereka melihat akta kelahiran si kecil yang di Palembang, si adeknya di KL, dan si bayi mungil akta kelahiran dari Poland.

Saya tersenyum dan menjawab singkat, "Semua asyik mbak, namanya hidup, asyik dan enak kalau disyukuri..."

Yang harus anda persiapkan di klinik buat MCU (spesial buat anak di bawah 17 tahun) :

Pas Foto ukuran 4 x 6 sejumlah 4 lembar, copy Akta kelahiran, memperlihatkan riwayat imunisasi dan foto copy paspor. (Saya sudah nyuci foto sampai 20 lembar buat persiapan, hehehe) Pas foto adalah berlatar biru muda, serta buat anak dikenakan bayaran 150 ribu rupiah (^_^)


Dua orang yang tidak ramah di Assa'adah adalah kasir (yang berada di ruang kecil lainnya) dan bapak bermata sipit di ruang X-Ray. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang menyakitkan hati.

Langkah-langkah usai dari meja informasi tadi :

1. Mbak Mawar dan Mbak Melati mengisi form dengan melihat data-data saya dan anak-anak, kemudian salah satunya memotret dan mengambil sidik jari (kanan dan kiri), anak-anak tidak perlu.

2. Anak-anak dibuatkan surat keterangan imunisasi apa saja yang sudah dilakukan sejak lahir,

3. Saya menuju ruang kecil tempat kasir dan membayar keperluan surat anak-anak

4. Saya menunggu dua menit (saat itu hanya tinggal empat pasien lagi, semua wanita) kemudian diambil darah. (Sebagaimana di Poland ketika hamil baby Zuhud, setiap bulan saya melakukan check-up 'MCU wajib di Poland saat hamil memang monthly'. Biasanya meliputi morfology darah, HIV, Lever, dan penyakit berbahaya lainnya...)

5. Setelah ambil darah, saya numpang ngecas BB yang sudah kehabisan batere, di ruang perawat yang ambil darah tadi. Kemudian saya disuruh ke WC dan diberi botol buat tes urine.

6. Setelah tes urine, ternyata menuju ruang X-Ray dan tidak disediakan petugas perempuan. Saya di Eropa saja petugas-petugasnya perempuan, lho... Kalau RS yang ternyata bagian scan, USG atau X-Ray adalah lelaki, kita bisa minta petugas perempuan, ini adalah hak kita! Saya berkata dengan sopan, "Maaf, Pak.... Saya minta tolong, yang X-Ray boleh mbak perawat yang itu saja ya, Pak?" (sambil menunjuk mbak perawat di ruang tadi)

Raut muka bapak itu sudah langsung berubah, emosi, terlihat jelas kerutan kesal disana. "Gak ada lagi, yang X-Ray cuma saya!" katanya.

"Tapi mohon maaf pak, Saya sudah bayar untuk medical check up. Dan suami saya tidak ridho kalau petugasnya laki-laki...maaf yah pak, saya minta tolong, yang perempuan saja..." kalimat saya pelan tapi tegas.

Waduuuuh, pas ke Kuwait-nya, malah semua RS dan klinik-klinik WAJIB menyediakan dua ruang semua, yang meriksa laki-laki~ yah harus laki-laki, yang meriksa perempuan~ semua tim medisnya perempuan pula. Apa pernah tim dinas kesehatan GCC country sidak langsung ke klinik-klinik 'NAUNGAN GAMCA-nya' yang ada di Indonesia ini?! :-D Mana kepedulian pemerintah?!

Si bapak teriak manggil Mbak Mawar dan petugas berbaju bebas, "Sudah...kita janjian dulu yah, saya tidak menjamin hasil X-Ray nya bagus yah?! Kalau hasilnya jelek, kamu harus ulang lagi dan ulang lagi X-Ray nya, bersedia?" ujar si bapak.

Saya mengangguk, "Tidak apa-apa..." ujarku. Kemudian mbakku menemani masuk di ruang X-Ray dan harus mengganti baju khusus disitu. Bapak itu belum juga keluar dari ruangan, dia bilang, "Nanti saya keluarnya yah, masih dua pasien lagi yang X-Ray..." dan saya harus memaklumi itu. :'(

Sampai dua pasien tadi selesai, saya tidak keluar dari bilik ganti baju :'( dan si Mbak Mawar serta petugas satu lagi tertawa bersama bapak itu karena si bapak (mungkin bagi dia bercanda) mengeluarkan kalimat hinaan begini, "Ya hebatlah! Bertahun-tahun saya kerja disini, belum pernah ada yang kayak gini... Katanya 'suami tidak ridho kalau petugas laki-laki', hahahahaha, ya sudahlah, memang silakan jadi wanita solehaaaaaaaah (nada 'solehahnya' ditekankan, dan teriakan itu terdengar jelas olehku...), nanti masuk surga, hahahahahahaha...." ketiga orang itu terbahak-bahak.

Kalau tidak ingat Allah ta'ala, saya bisa melampiaskan rasa lelah dan penat ini dengan merobek mulutnya, :-), tetapi walhamdulillah saya masih berpikir positif, saya amin-kan saja do'anya, "Aaamiin.... semoga Allah ridho, suami dan orang tua ridho, serta semua sahabat saya ridho dan ikhlas sehingga melancarkan perjalanan saya sampai akhirat, aamiin..." tenang qolbu dalam dzikrulloh.

Ternyata bapak ini tidak keluar dari ruangan, 'dia hanya duduk di dekat pintu' dan tetap memperhatikan alat X-Ray-nya ketika saya keluar bilik dan X-Ray. :-( Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun, saya sudah berusaha maksimal, Ya Allah... Saya serahkan padaMu, hanya Engkau sebaik-baik pemberi adzab setimpal, aamiin.

X-Ray yang agak lama itu tetap dibumbui 'humor sadis' si bapak yang masih terdengar pada saat saya berganti baju kembali.

7. Kemudian di depan ruangan lain (ruang dokter), ada mbak gemuk berbaju coklat (kaos biasa, bukan baju perawat), ia memeriksa tekanan darah, berat badan dan tinggi badan. Lalu ia menyuruh masuk ke ruang dokter...

8. Dan (saya melihat CTKI yang diperiksa sebelumnya disuruh telanjang!) mbak gemuk itu menyuruh buka baju juga, tetapi saya menolak disuruh telanjang (Lhoooo..... what's a hell that time!). Saya melepas hijab di situ, dia mengomentari alergi-an di sekitar kening dan telingaku. Sebenarnya tidak perlu saya jawab, (karena lagi-lagi) saya bukan CTKI! Namanya 'ikut suami', yah meskipun (misalnya) tidak punya tangan, tidak punya kaki, buat apa anda komentari, toh tetap saja saya harus 'ikut suami', alias tetap jadi istrinya kangmasku dan tetap berangkat juga ke Kuwait, ya toh?!

Namun untuk mengobati penasarannya, saya jawab jujur bahwa kulit sekitar kening dan telinga kan 'baru merasakan panasnya Jakarta-ibu kota', "Saya terbiasa di suhu dingin, mbak.... dari Poland, dekat Jerman, dekat Austria... disini panas, lagi pula hormonal juga, sudah tiga bulan merasakan berat berjauhan dengan suami, apalagi menanggapi complain dan ulah anak-anak yang kangen abinya..." si mbak cuma bengong ber-oooh panjang, sambil tetap menyuruh melepas bra! *Ggggggrh!!!*

Lalu mengecek mata, *tes huruf-huruf*

9. Dan datanglah dokter berjilbab lebar nan ramah, mengucapkan salam, dokter ini usianya kira-kira lebih tua sedikit dari ibuku, dokter memasang mimik muka bingung, "Lhooo, mbak ke Kuwait ikut suami?", ujar dokter. "Iya, dok... insya Allah, sama anak-anak, memang kita baru pindah dari Poland..." kataku. Dokter mengecek detak jantung, seraya bilang, "Anak saya juga ikut suaminya, di Aljazair dan Oman... Gak perlu sampai check up semuanya. Kan bukan TKI," lirik matanya seolah bertanya kepada si mbak gemuk. Mbak gemuk mengangkat bahu dan wajahnya seolah berkata, "Saya gak tau apa-apa juga..." :-D

Dokter bilang, "Ya udah, cukup, sehat-sehat... Insya Allah hasilnya bagus semua, duh, padahal tidak perlu sampai check semua...."

Masya Allah... Percakapan ringan yang makin membuatku tahu betapa hancur dan bobroknya urusan prosedur MCU ini!

10. Segera rapi kembali, saya konfirmasi ulang ke Mbak Melati, "Besok pagi jam berapa saya bisa telepon?" dia menjawab, "Setelah jam sepuluh..."

Saya ceritakan percakapan ringan sama dokter wanita tadi, "Dokternya aja bilang, lhooo, kok ikut suami juga check upnya kayak gini? ke GAMCA dulu pula, aneeeeh, mbak...." ujarku, si mbak berusaha tersenyum, "Yaaah, dokternya kan cuma meriksa, mbak.... dia gak tau urusan-urusan prosedurnya...." (artinya si dokter 'cuma' diper-alat untuk ngecek, gitu?! Silakan simpulkan sendiri...)

Zaza,si bunda, dan Zizi yang sudah letih dan kehabisan bekal cemilan, hihihi...

Kami tiba di rumah pada jam delapan malam, sekitar pukul 6 (beberapa menit sebelum adzan magrib) kami meninggalkan Assa'adah, anak-anak sudah terbangun dan mengisi air minum di ruang tunggu tadi.

Keesokan harinya jam sebelas siang saya telepon, di klinik Assa'adah ternyata banyak 'line' teleponnya juga, saya disambungkan dengan petugas khusus 'buat tujuan Kuwait'. Saya menyebutkan nomor urut check up yang kemarin, lalu beliau menjawab, "Hasilnya semua bagus, mbak. Alhamdulillah, tidak ada yang perlu diperiksa ulang..." (Belum tau yah bu, kalau saya setiap mau liburan juga MCU di Poland, hehehe, dan gratis! :-D)

Setelah kupastikan bahwa memang 'result MCU' boleh diambil oleh mbakku, ya udah... Mbakku sendirian kesana dari Karawaci~ dia bawa semua fam-visa original, dan KTP-ku sekalian. Alhamdulillah, perjalanan naik turun bus patas plus bajaj dan angkot lancar, mbakku menunggu sekitar dua jam di assa'adah (karena sertifikat MCU dibuatkan ketika fam-visa original dipegang oleh mereka).

Kamis itu, MCU welldone. Jum'at siang, Pak Ahmad~translator menelepon, SKCK welldone. Namun kami tidak punya pilihan untuk langsung ke Embassy Kuwait-Jakarta, itu kan hari jum'at, weekend dimulai, maka kami menunggu sampai senin.

Alhamdulillah, sabtu bisa istirahat sambil merapikan packing-an, ahad kami berlibur ke taman buah Mekar Sari, saatnya refreshing buat anak-anak, bergembira, bermain, dengan tetap memetik pelajaran :-)

Terima kasih sudah menyimak, sobat-sobat tersayang :-)

:-)Salam ukhuwah, happy busy days...

Barokalloh always!

Tuesday, November 6, 2012

Surga di bawah telapak kaki ibu? (yakin, bu?!)

Assalamu'alaykumwrwb...

Ingin lebih memahami makna kalimat yang dihembuskan kembali oleh seorang teman : "Surga di bawah telapak kaki (semua) ibu", maka diriku mencoba mencari makna lebih dalam akan hal itu, sebab menurut dosenku dulu, kalimat itu bukan hadits, jadi kalau kita mau menyebutkan kalimat itu, kita harus bilang bahwa kalimat tsb adalah kata-kata mutiara, biasa.

Telah begitu populer hadits yang berbunyi:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ، مَنْ شِئْنَ أَدْخَلْنَ وَ مَنْ شِئْنَ أَخْرَجْنَ



"Surga itu di bawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan". (Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah, no. 593)

Maka hadits dengan lafazh di atas adalah PALSU. Dan ada juga yang lemah. (lihat: Dha’îf al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 2666)

Jika lafazhnya seperti itu maka ini adalah ucapan manusia semata (bukan hadits) Hadits ini hadits maudhu’ (palsu). Telah diriwayarkan oleh Ibnu Adi (I/325) dan juga oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa dengan sanad dari Musa bin Muhammad bin Atha’, dari Abul Malih, dari Maimun, dari Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu’anhu... Kemudian al-Uqaili mengatakan bahwa hadits ini munkar. Bagian pertama dari riwayat tersebut mempunyai sanad lain, namun mayoritas rijal sanadnya majhul.





LAFAZH LAIN BERDERAJAT HASAN

Perlu diketahui, ada riwayat lain yang semakna dengan hadits di atas dengan lafazh yang berbeda yang berderajat hasan. Yang mana secara maknanya menunjukkan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Berikut bunyi hadits tersebut:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ، وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”


Syaikh al-Albani berkomentar: “Diriwayatkan oleh an-Nasa`i, jilid 2, hlm. 54, dan yang lainnya seperti ath-Thabrani jilid 1, hlm. 225, no. 2. Sanadnya Hasan insyaAllah. Dan telah dishahihkan oleh al-Hakim, jilid 4, hlm. 151, dan disetujui oleh adz-Dzahabi dan juga oleh al-Mundziri, jilid 3, hlm. 214.” (as-Silsilah adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, pada penjelasan hadits no. 593)[3]

Dan ada hadits lain yang lafazhnya berbeda dengan yang di atas...

UCAPAN ULAMA SEPUTAR HADITS DI ATAS

Ketika mensyarah hadits ini, Imam Ali al-Qari rah mengatakan: ”Maksudnya yaitu senantiasalah (engkau) dalam melayani dan memperhatikan urusannya”. (Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, jilid 4, hlm. 676)

Ath-Thibi mengatakan: ”Sabda beliau: ”…pada kakinya…”, adalah kinayah dari puncak ketundukan dan kerendahan diri, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan…”. (Ibid, (IV/677).


Sedangkan as-Sindi mengatakan: ”Bagianmu dari surga itu tidak dapat sampai kepadamu kecuali dengan keridhaannya, dimana seakan-akan seorang anak itu milik ibunya, sedangkan ibunya adalah tonggak baginya. Bagian dari surga untuk orang tersebut tidak sampai kepadanya kecuali dari arah ibunya tersebut. Hal itu karena sesungguhnya segala sesuatu apabila keadaannya berada di bawah kaki seseorang, maka sungguh ia menguasainya dimana ia tidak dapat sampai kepada yang lain kecuali dari arahnya. Allahu a’lam. (Hasyiyah Sunan An-Nasa-i, karya as-Sindi, jilid 6, hlm. 11, dalam nuskhah yang dicetak bersama Zuhr ar-Rabaa ’Ala al-Mujtabaa, karya as-Suyuti)

Ibu... duhai ibu, beberapa tahun lalu saya pernah membaca artikel seorang bapak di oase iman eramuslim, beliau membahas "wanita yang ibu", dalam arti ternyata tidak semua wanita benar-benar berhati mulia sebagai ibu!

Senada dengan artikel tsb, saya pun beberapa kali berhadapan dengan pertanyaan "Ibu, benarkah surga di telapak kaki ibu? Maksudnya apa yah?".

Bagi ibu-ibu yang "ke-Ge-Eran" luar biasa sumringahnya, 'hadits palsu itu dipakai sebagai senjata untuk memerintahkan segala hal agar anaknya patuh', semisal ketika seorang teman yang "manut masuk jurusan akuntansi" demi kemauan ibunya, padahal dia mau kuliah di jurusan bahasa. :-D (ah, itu episode masa lalu, ciiin :-P), teman lain pun sama, sobatku itu ingin sekali masuk Sastra Inggris, ibunya 'tidak ridho', dia harus melanjutkan fokus kuliah di urusan keperawatan.

Ada lagi yang lebih parah dari itu, (dan jangan tanya detail tentangnya, duhai teman... karena dia adalah nara sumber yang dekat dgn saya, namun tentu saya tak akan mengurai aib dan celanya disini:-), pasti bisa berubah suatu hari nanti, do'akan saja...) dia seorang ibu yang nyata-nyata menyuruh anaknya untuk berzina! Dan hal itu ternyata karena dia sendiri adalah pezina! Bahkan teman si ibu ini (yang telah lama menjanda dan tak akur dengan eks-suami) terhadap anak lelakinya berkata, "Langkahi dulu mayatku atau setor 1 Milyar rupiah kalau kau mau menikah! Karena aku capek menghidupimu dan kamu harus ikutan tes di departemen X itu (menyebutkan departemen -tes-tes PNS-an lah, sejenis itu) supaya bisa ngasih ibumu ini duit! Surga di kaki ibu tau!", waktu itu, anaknya tersebut (group-mate saya) ingin menikah di usia 25 tahun, tetapi si ibu menyuruh anaknya untuk "lulus PNS dulu", dan ada alasan lainnya tentang calon pilihan si anak. (Apa kabar temanku itu? :-) Semoga ia selalu sukses dan bahagia, lama tak bersua di email atau blog kita).

Masih ada yang lebih parah dari ibu si teman, yaitu ibu-ibu penjual kehormatan anak kandungnya sendiri, anak dijual demi sepintil duit! Naudzubillah.... (100x)



Ibu adalah Madrasah pertama, bukan cuma 'tukang melahirkan', ibu adalah pendidik generasi. Sedari masa hamil, bayi di kandungan sang ibu sudah dididik untuk 'menikmati proses' tumbuh kembang selama 9 bulan lebih, di rahim yang sempit. Selanjutnya, ketika menyusui (predikat ibu menyusui amatlah besar peranannya dalam hidup seseorang), air susu yang lancar deras karena kurniaan Ilahi itu merupakan bukti cinta kasih seorang ibu, 'tidak instant' derasnya si ASI, ibu harus rela mengorbankan waktu, tenaga, (juga dana belanja dll :-D) agar ASI selalu berkualitas. Zaman sekarang, terutama di Eropa, pertanyaan yang paling banyak dari ibu menyusui (pas kutanya di bidanku) adalah : "Berapa gelas bir yang masih boleh diminum setiap hari?! Dan bagaimana dengan smoking, berapa batang yang diperbolehkan?!" (hohoho, gondok rasanya kan?!) :-D

Jangan gondok sih, "Amalmu yah amalmu... amalku adalah rahasiaku dengan Tuhanku. :-)"

Back to topic, ibu-ibu sholihat, benarkah (Semua) ibu 'berasa' ada surga di kakinya? (eh, koq malah berubah jadi kalimat pasif...:-P), langsung saja dah,say...

Bahwa betapa tingginya kemuliaan sang ibu hingga nabi SAW waktu itu menjawab pertanyaan sang anak muda (riwayat yang di keluarkan oleh Imam Nasa’i dan Thabrani dengan sanad hasan, yaitu kisah seseorang yang datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seraya meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya, Adakah engkau masih mempunyai ibu? Orang itu menjawab, Ya, masih. Beliaupun kemudian bersabda...),

Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya (*)

Referensi Hadits ke 593 dari kitab Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Al-Bany, edisi terjemahan, Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu jilid-2, cetakan Gema Insani Press

(*) Nabi mempertimbangkan anak tersebut untuk ikut berjihad karena belum dewasa.

Nah, "bagaimana ibu menyikapi kemuliaan yang disebut-sebut telah 'melekat' pada dirinya?!"

Yang memuliakan ibu adalah Allah SWT dan rasul-Nya SAW, maka tentu saja reaksi yang paling pantas sebagai ibu 'yang mengarahkan tapak-tapak aktivitas menuju surga' adalah Jadilah ibu yang dekat kepada Allah SWT, patuh dan taat kepada perintah-perintahNya yang telah jelas dalam qur'an dan sunnah.

Kalau ibu ternyata merupakan senior pel*cur, pecinta zina, atau penjual narkoba yang merusakkan generasi, mata dan hatinya penuh dengan garis-garis nominal mata uang alias materialistis kayak dunia ini (bagi dia) memang tujuan senyaman-nyamannya hidup, dan sejenisnya, apalagi memaksa anaknya untuk "menjalani karir yg sama sedemikian", maka anak-anaknya WAJIB menolak secara halus dan memohon perlindungan kepada Allah ta'ala atas efek buruk dari ibunya, tetaplah mendo'akan sang ibu (agar terbuka hatinya untuk bertaubat, tentu saja, aamiin....), dan kian memperbaiki diri agar kelak ketika berada di posisi orang tua (saat menjadi ibu atau ayah) menjadi lebih empati dengan situasi dan kondisi yang dihadapi anak-anak selanjutnya.

Btw, Pernah melihat seorang ibu mencubit anaknya supaya nangis dan mau meminta uang jajan kepada orang-orang di sekitarnya? (saya pernah menengok kejadian itu di pasar rawa mangun Jakarta, dulu, 7 thn lalu...:-P)

Ibu... oh ibu, ibu macam apakah diriku?

Ketika harapkan anak-anak khatam qur'an,

namun diri ini malas mengulang hafalan...

(malu...hu... hu... hu...)



Ibu... oh ibu, ibu macam apakah diri hamba?

Jika cemberut melihat raport ananda,

Padahal sepanjang hari tiada di sisinya

(malu... hu.. hu.. hu...)



Ini motivasi dan sindiran buat pribadi

Silakan tersungging atau tersenyum geli

Paling utama adalah fokus memperbaiki diri :-)




:-) Alhamdulillah ibuku nan sholihat itu (baca di Catatan CintaNya di Krakow donk;-)) senantiasa berada di sisiku (Always love you, mom.... :-*), terutama kala masa genting episode-episode hidupku, ibuku selalu kurindu, inspirasi sepanjang hari, pelipur kalbu setiap waktu...

Barokalloh selalu, semoga tetap semangat dalam segala aktivitas kebaikan, aamiin... Salam Ukhuwah dari Krakow, teman-teman! ^^

Wassalamu'alaykum, :-)

^^ Sudah follow twitter @bidadari_azzam, kan? ;-))